Sejak dibuka fungsional pada 14 Maret 2026, keindahan panorama di KM 884 Tol Probolinggo–Banyuwangi (Prosiwangi) memanjakan mata dengan perpaduan laut, hutan, dan lanskap industri yang megah. Namun di balik pesonanya, pengendara tetap dilarang berhenti demi menjaga keselamatan di jalur cepat tersebut.
MUKHAMAD ZUBAIDILLAH, Paiton, Radar Bromo
Langit siang di atas ruas Jalan Tol Prosiwangi di Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, tampak bersih ketika tiba-tiba deru sebuah kendaraan melambat di KM 884. Bukan karena kemacetan atau gangguan, melainkan karena pemandangan yang sulit diabaikan.
Di titik ini, para pengguna jalan terutama para pemudik menuju Besuki dan Situbondo, akan disuguhi pemandangan alam dan industrial yang beradu indah. Dari ketinggian flyover, kawasan Paiton terbentang tanpa sekat.
Di sisi utara, cerobong raksasa PLTU Paiton menjulang, berdiri kontras namun serasi dengan birunya langit. Di belakangnya, laut Jawa menghampar luas. Memantulkan cahaya matahari menjadi kilau perak. Perpaduan antara industri dan alam ini menghadirkan panorama yang jarang ditemui di ruas jalan tol.
Tak hanya itu, jalan bebas hambatan ini juga membelah kawasan hutan yang masih hijau. Di kanan dan kiri, tebing-tebing tinggi berdiri kokoh dengan latar pemandangan Pegunung Iyang. Seolah menjadi gerbang alami yang menyambut setiap kendaraan yang melintas di perbatasan Probolinggo dan Situbondo.
Lanskap ini memberi sensasi berbeda—seakan pengendara tidak sedang berada di jalan tol. Melainkan melintasi koridor alam yang megah. “View-nya di sini paling bagus. Ada laut, hutan, dan pabrik dalam satu bingkai,” ujar Izzul, salah satu pengguna jalan yang menikmati pemandangan dari balik kaca mobil.
Namun PT Jasa Marga Probolinggo Banyuwangi (JPB) sebagai pengelola tol membuat aturan ketat. Humas Tol Prosiwangi Hima Jaya mengatakan, pihaknya menyiagakan petugas di titik ini untuk menghalau pengendara yang ketahuan berhenti.
“Berbahaya sekali berhenti di sini karena tebingnya sangat tinggi. Kami sudah larang dan kami tempatkan petugas untuk menghalau pengendara yang hendak berhenti,” katanya.
Memang menurutnya, di sepanjang jembatan sudah dipasang barier beton. Namun tetap saja berhenti di lokasi tersebut berisiko tinggi. Sebab, ketinggian jembatan di tempat itu mencapai 34 meter.
Pesona itu belum berakhir. Sedikit bergeser ke KM 880, sisi liar kawasan ini mulai terasa. Dari rimbunnya pepohonan, sesekali kawanan kera ekor panjang terlihat turun mendekati tebing yang berbatasan langsung dengan jalan tol. Kehadiran mereka menjadi hiburan singkat bagi pengendara, sekaligus pengingat bahwa alam di sekitar masih hidup dan terjaga.
Wartawan Jawa Pos Radar Bromo melihat langsung kera-kera itu saat menjajal jalan tol Prosiwangi, sehari sebelum dibuka fungsional atau setelah apel siaga digelar. Namun PT Jasa Marga Probolinggo Banyuwangi (JPB) sebagai pengelola tol, tetap mengedepankan keamanan dan keselamatan para pengguna jalan. Namun sekaligus menjaga kelestarian ekosistem.
Di beberapa titik strategis, terpampang papan peringatan mencolok, "Dilarang Memberi Makan Hewan Liar". Selain demi keselamatan, aturan ini penting untuk menjaga perilaku alami satwa agar tidak terbiasa mendekati kendaraan.
Ruas KM 884 hingga KM 880 kini tak sekadar jalur penghubung antarwilayah. Ia menjelma menjadi oase di tengah jalan tol. Tempat di mana lelah sejenak terbayar oleh harmoni antara beton jalan, deru mesin industri, birunya laut, dan hijaunya hutan perbukitan.
Meski begitu, pesona ini tetap harus dinikmati dengan bijak. Arus lalu lintas di jalur Paiton–Besuki tergolong cepat, sehingga berhenti di bahu jalan tanpa alasan darurat sangat berisiko. Bagi para pemudik, cukup nikmati panorama dari dalam kendaraan. Sementara perjalanan terus berlanjut menuju kampung halaman. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi