Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bocah yang Tenggelam di Kubangan Tambang di Winongan Pasuruan Dikenal Pendiam dan Rajin Mengaji

Fuad Alyzen • Rabu, 11 Maret 2026 | 07:50 WIB

SEBELUM DIMAMAKMKAN: Aktivitas di rumah duka korban siang kemarin.
SEBELUM DIMAMAKMKAN: Aktivitas di rumah duka korban siang kemarin.

Warga di Desa Jeladri tidak menyangka MSA akan meninggalkan keluarga begitu cepat. Bocah 12 tahun tersebut meninggal usai tenggelam di bekas tambang pasir milik PT Gorip di Dusun Karang Ploso, Desa Jeladri. Kepergiannya menyisakan duka.

FUAD ALYZEN, Winongan, Radar Bromo

Suara sirine ambulans milik RSUD Grati menggema di wilayah RT/RW 2, Dusun Bringin, Desa Jeladri, Kecamatan Winongan. Suara itu datang dari arah utara, pada Selasa (10/3) siang. Begitu tiba, teriakan histeris terdengar dari rumah duka.

Para tetangga di sekitar rumah duka, berlarian. Mereka hanya ingin melihat MSA untuk terakhir kalinya. “Rasanya tidak percaya. Keponakan saya meninggal dunia,” ujar Andik, 36, pakdhe MSA.

Andik menceritakan, sejak kecil MSA dikenal pendiam dan tidak banyak tingkah. MSA adalah anak kedua dari tiga bersaudara itu selalu nurut ke orang tua. MSA tahu kapan waktunya sekolah dan kapan waktunya mengaji.

Namun sekolah dasarnya harus terhenti ketika MSA beranjak kelas empat. Orang tuanya yang hanya bekerja serabutan, tidak mampu membiayai anak untuk melanjutkan sekolah.

Sehingga MSA hanya melanjutkan madrasah diniyah (madin) dan mengaji di lingkungan Desa Jeladri.

Selama ini MSA dikenal rajin. “Pendiam anaknya. Biasannya tidak kemana-mana. Dia mau kemana-mana kalau diajak temannya,” jelas Andik.

Andik menyatakan, ibu MSA sudah menikah ke tiga kalinya. Ketiga anaknya itu dari suami ke dua.

Meski begitu, ayah tiri MSA sangat menyayangi korban. Bahkan belum memiliki anak dengan ibu MSA. Sehingga kedua orang tuanya, sangat terpukul dengan kehilangan anak keduanya.

Salah satu warga sekitar, Edi Siswanto menyampaikan, korban merupakan anak pendiam.

Korban memang belum menamatkan SD, melainkan hanya sekolah madin. Tapi supel dengan kawan seumurannya.

“Pendiam. Anaknya baik mas. Saya pun baru tahu malamnya,” ujar pria yang merupakan guru di SDN Jeladri 1.

Hingga pada Senin siang, orangtua MSA sempat panik saat tak melihat korban tak kunjung pulang. Padahal biasanya di siang hari, MSA selalu ada di rumah. Keluarga juga tidak mengetahui korban ke tambang bersama teman-temannya.

Korban diketahui memang sering bermain bersama dua temannya yang seumuran. Namun saat MSA tenggelam, kedua temannya diduga ketakutan dan berlari meninggalkannya. Hingga sepasang sandal milik MSA ditemukan petani yang sedang melintas.

“Saat melarikan diri itu korban dibiarkan di sana (lokasi kubangan, red), tanpa memberi tahu warga atau keluarga,” ujarnya.

Sampai pukul 16.00, keluarga dibuat heboh. Termasuk ibu korban. Sebab ada informasi, ada anak kecil tenggelam di bekas tambang. Makin panik lagi saat sandal yang ditemukan di lokasi, adalah milik MSA.

Keluarga saat itu masih tidak percaya. Mereka memilih menunggu kepulangan. Namun sampai malam korban belum juga pulang.  “Kami semua menunggu dan  tidak tidur karena masih yakin korban akan pulang,” ujarnya.

Keluarga maupun tetangga  juga masih tak menyangka, korban akan bermain di lokasi tambang.

Sehingga dengan kematian MSA, warga berharap lokasi tambang diperketat. Apalagi kubangan ada cukup dalam karena mencapai 10 meter dengan lebar 7,5 meter persegi.

Warga berharap ada pengaman di lokasi tambang. Meskipun sudah ada penjagaan sekuriti, ini dinilai belum efektif. Karena petugas biasanya hanya berada di depan.

Biasanya di kubangan, warga sekitar menggunakannnya untuk memancing ikan. Tapi dengan adanya insiden MSA tenggelam, warga berharap ada pengetatan di lahan agar taka da lagi korban serupa. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#pasuruan #bekas tambang #bocah tenggelam