Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Riwayat, Pengrajin Sepatu Kulit asal Sukorejo Pasuruan yang Beromzet hingga Ratusan Juta

Rizal Syatori • Senin, 16 Februari 2026 | 11:31 WIB

 

Riwayat menunjukkan sepatu buatannnya. (Rizal Syatori/ Radar Bromo)
Riwayat menunjukkan sepatu buatannnya. (Rizal Syatori/ Radar Bromo)
 

Menjadi perajin sepatu kulit telah digeluti Riwayat sekitar 27 tahun lamanya. Hingga kini, sepatu buatannya masih diminati. Selain harganya yang relatih murah, kuncinya memilih kualitas kulit yang baik agar kuat dan tahan lama.

RIZAL FAHMI SYATORI, Sukorejo, Radar Bromo

DI sebuah rumah sederhana di Dusun/ Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo, aroma kulit yang baru dipotong dan dilem menyatu dengan suara mesin jahit yang berderak pelan.

Di ruang itulah, Riwayat, 53, menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan menjahit, menekan, dan merekatkan lembar demi lembar kulit menjadi sepasang sepatu yang kokoh.

Sudah 27 tahun ia menekuni kerajinan sepatu kulit. Bagi Riwayat, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan hidup yang ditempuh dengan kesabaran dan ketekunan.

Dari tangannya lahir berbagai model sepatu: pantofel, kets, sepatu gunung, hingga sandal kulit. Semua dikerjakan manual, dengan peralatan sederhana seperti mesin jahit seset, mesin press, dan alat sulas.

“Ini pekerjaan utama saya. Dari sini kebutuhan keluarga terpenuhi, juga untuk menggaji karyawan,” ujarnya.

Riwayat tidak bekerja sendiri. Sembilan orang warga sekitar membantunya setiap hari, dari pagi hingga sore, kecuali Minggu.

Mereka memotong pola, menjahit bagian atas, merekatkan sol, hingga memastikan setiap detail rapi sebelum sepatu dikemas.

Dalam sehari, rata-rata 10–20 pasang sepatu diproduksi. Saat pesanan membludak, jumlahnya bisa meningkat hingga puluhan bahkan ratusan pasang dengan lembur sampai malam.

Bahan baku kulit didatangkan dari Surabaya. Riwayat memilih kulit berkualitas baik agar sepatu yang dihasilkan kuat dan tahan lama. Menurutnya, daya tahan itulah yang membuat sepatu kulit tetap diminati hingga kini, di tengah gempuran produk berbahan sintetis yang lebih murah.

“Kalau kulit asli, kuat dan awet. Dipakai bertahun-tahun pun masih bagus. Itu yang dicari pelanggan,” katanya.

Ia memulai usaha mandiri pada 1999, setelah sebelumnya bekerja di pabrik sepatu di Surabaya. Keputusan berhenti dan membuka usaha sendiri bukan tanpa risiko.

Pada 2002, usahanya sempat bangkrut dan terhenti selama setahun. Namun pengalaman dan keyakinan pada kualitas produknya membuatnya bangkit kembali.

Belajar secara otodidak dari pengalaman bekerja di pabrik, Riwayat terus menyempurnakan tekniknya. Ia percaya, sepatu kulit bukan hanya soal bentuk, tetapi juga soal ketelitian pada jahitan dan kekuatan rekat sol.

“Kuncinya telaten dan ulet. Kalau tidak sabar, hasilnya tidak akan maksimal,” tuturnya.

Harga produknya relatif murah untuk sepatu berbahan kulit. Antara Rp 115 ribu hingga Rp 275 ribu per pasang, tergantung model dan jenis bahan.

Pemasaran dilakukan dari mulut ke mulut, melalui WhatsApp dan TikTok, serta jaringan pelanggan lama. Sepatunya dipasarkan ke berbagai daerah seperti Pasuruan, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, bahkan hingga Jambi dan Tarakan.

Dari usaha rumahan itu, omsetnya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Namun bagi Riwayat, capaian terbesar bukan semata angka penjualan. Usaha ini telah membiayai pendidikan dua anaknya, menghidupi keluarganya, dan membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Di usianya yang telah melewati setengah abad, Riwayat tak berencana berhenti. Selama masih ada yang mencari sepatu yang kuat dan tahan lama, selama itu pula ia akan terus duduk di ruang kerjanya, merangkai potongan kulit menjadi alas kaki yang tak sekadar bergaya, tetapi juga teruji waktu. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#pasuruan #omzet #sepatu kulit #Sukorejo