Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jarot dan Siklus Panjang Mekarnya Bunga Bangkai di Kebun Raya Purwodadi

Muhamad Busthomi • Selasa, 2 Desember 2025 | 13:30 WIB
Sejumlah warga berpose di depan Jarot, bunga bangkai Amorphophallus titanum—si raksasa yang ditunggu-tunggu—kembali menampakkan pertunjukan langkanya.
Sejumlah warga berpose di depan Jarot, bunga bangkai Amorphophallus titanum—si raksasa yang ditunggu-tunggu—kembali menampakkan pertunjukan langkanya.

Di antara kerumunan yang datang silih berganti, bunga bangkai bernama Jarot itu menarik siapa pun yang ingin menyaksikan keajaiban yang tak datang dua kali. Kelopaknya yang merah keunguan tumbuh setelah empat tahun menunggu. Setiap sentimeter yang merekah, semakin mendorong rasa ingin tahu: kapan tepatnya mahkota langkanya benar-benar terbuka sempurna?

MUHAMAD BUSTHOMI, Purwodadi, Radar Bromo

Udara Kebun Raya Purwodadi pagi itu terasa lebih lembap dari biasanya. Di antara rindang pepohonan dan jalur setapak yang berkelok, kerumunan kecil tampak mengintari sebuah green house konservasi tanaman.

Ponsel terangkat, kamera menyala, dan beberapa pengunjung terlihat menahan napas ketika satu per satu kelopak raksasa itu perlahan membuka diri. Di tengah ruang konservasi itu, bunga bangkai Amorphophallus titanum—si raksasa yang ditunggu-tunggu—kembali menampakkan pertunjukan langkanya.

Bagi sebagian orang, momen ini sekadar pemandangan unik. Namun, bagi para ahli botani dan pengelola Kebun Raya Purwodadi, setiap kali Titan Arum mekar, itu seperti menyaksikan halaman penting dari buku besar konservasi flora Nusantara yang tengah dibuka kembali.

Fenomena ini bermula pada 17 November 2025. Saat itu, para peneliti dan petugas hortikultura mulai melihat tanda-tanda pembesaran tongkol dan munculnya sepal yang melunak. Pertanda klasik bahwa mekarnya sudah dekat.

Sejak itu, ritme kerja di kawasan konservasi sedikit berubah. Mereka lebih sering mengecek suhu ruang, memperhatikan kadar kelembapan, hingga mencatat perubahan ukuran floral structure setiap beberapa jam.

“Setiap kali Amorphophallus titanum mekar, itu adalah momen yang sangat berarti dalam dunia botani. Kami melihatnya bukan hanya sebagai peristiwa unik, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya konservasi flora Nusantara,” ujar Hadhiyyah N. Cahyono, East Deputy of Horticulture Pengelola Kebun Raya Purwodadi.

Dalam kunjungan di area green house Jumat (29/11), tumbuhan yang dijuluki Jarot itu kini telah mencapai sekitar 80 persen tahapan mekar. Sepal yang mulai mengering dan tektum yang meregang, menjadi tanda bahwa proses menuju mekar sempurna tinggal menunggu hari.

Adalah Lilis Wulandari, koordinator Departemen Hortikultura Kebun Raya Purwodadi yang memberi penjelasan paling rinci tentang bunga yang kini menjadi pusat perhatian pengunjung. Jarot katanya, bukan sekadar tanaman langka. Ia sudah menjadi bagian dari riset panjang dan kerja sama lintas komunitas.

“Kali ini kami bekerja sama dengan komunitas tanaman dari Malang untuk proses pertumbuhan bunga bangkai ini. Nama Jarot juga kami diskusikan bersama mereka,” ujar Lilis.

Menurutnya, siklus mekarnya bunga bangkai sangat dipengaruhi usia dan ukuran umbi. Untuk umbi kecil, periode mekar bisa terjadi setiap dua hingga tiga tahun. Namun untuk spesimen sebesar Jarot, proses ini bisa memakan waktu hingga empat tahun sebelum kembali menampilkan bunganya. Itu pun dengan catatan, perawatan intensif dan lingkungan yang mendukung.

Kebun Raya Purwodadi saat ini merawat 7–8 tanaman bunga bangkai. Jumlah ini dianggap ideal agar pengawasan tetap maksimal.

Setiap tanaman diawasi melalui sistem perawatan harian. Mulai penyiraman berkala, pengendalian gulma, pengecekan media tanam, hingga mencatat ritme pertumbuhan tongkol.

Tidak ada perlakuan khusus yang rumit, tetapi kedisiplinan menjadi kunci. “Perawatan bunga eksotis ini sebenarnya sama seperti tanaman lain. Hanya saja kami lakukan pendampingan lebih intens,” jelas Lilis.

Kolaborasi dengan komunitas pecinta tanaman dari Malang tak hanya bersifat teknis, tetapi juga edukatif. Komunitas membantu mengamati ritme tumbuh, memberikan masukan mengenai pencahayaan, dan turut mengenalkan fenomena ini ke publik.

Fenomena mekar yang terjadi November ini adalah mekarnya yang kedua dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya pada Oktober 2024, spesimen lain yang diberi nama Broto lebih dulu tampil di hadapan publik.

Karena itulah, kehadiran Jarot terasa seperti kelanjutan dari upaya jangka panjang Kebun Raya Purwodadi dalam melestarikan Amorphophallus titanum.

Meskipun begitu, setiap mekarnya bunga bangkai selalu memberikan euforia tersendiri. Bukan hanya karena ukurannya yang monumental, tetapi karena sifatnya yang sangat jarang terjadi.

Kehadiran Jarot bukan hanya menyibukkan para peneliti, tetapi juga membuat sejumlah titik di Kebun Raya lebih ramai. Setiap hari, pengunjung datang sejak pagi.

Bahkan, ada yang membawa anak kecil untuk melihat proses mekarnya yang masih berlangsung. Salah satu pengunjung, Eka, 28, warga Purwodadi, mengaku sengaja datang setelah melihat unggahan media sosial Kebun Raya Purwodadi.

“Biasanya cuma lihat di TV atau medsos. Begitu tahu mekar lagi, saya langsung ajak keluarga ke sini,” ujarnya seusai berfoto di depan green house.

Kenaikan jumlah pengunjung ini juga dicatat langsung oleh pihak pengelola. “Peningkatan pengunjung cukup terlihat sejak informasi mekarnya bunga kami umumkan,” kata Lilis.

Bagi Kebun Raya Purwodadi, momen ini sekaligus menjadi peluang memperkenalkan pentingnya konservasi tumbuhan langka kepada publik. Terutama generasi muda yang kerap menjadikan fenomena seperti ini sebagai konten edukatif di media sosial.

Kini, menunggu hari ketika Jarot benar-benar membuka diri sepenuhnya. Proses itu hanya terjadi dalam hitungan jam, sebelum kemudian layu kembali.

Namun, justru itulah yang membuat bunga bangkai menjadi istimewa. Karena ia mengajarkan bahwa keindahan paling memukau sering datang dari sesuatu yang sabar menunggu waktunya.

Di bawah teduhnya pohon trembesi, pengunjung masih berdatangan. Kamera tetap siaga, anak-anak antusias, dan para petugas dengan telaten menjelaskan detail pertumbuhan bunga.

Di tengah keramaian itu, Kebun Raya Purwodadi kembali membuktikan dirinya bukan hanya ruang hijau. Namun, sebagai pusat konservasi yang menjaga kisah-kisah alam tetap hidup.

Dan Jarot, sang bunga bangkai raksasa, menjadi babak terbaru dari cerita itu. Selalu ditunggu, selalu memukau. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#pasuruan #kebun raya #Purwodadi #bunga bangkai