Tony Ja’far dikenal sebagai salah satu pelukis nyentrik. Karya-karyanya kerap mengangkat tema yang lekat dengan keseharian, sekaligus memantik tafsir dan persepsi berbeda. Guru MAN 1 Pasuruan itu menjadikan lukisannya sebagai cara berpikir, membaca tanda zaman, bahkan menyampaikan kritik sosial.
MUHAMAD BUSTHOMI, Beji, Radar Bromo
Baru-baru ini, Tony menghadirkan karya yang cukup menggelitik dalam sebuah pameran bertajuk Sukaria Ketahanan Pangan di KUTT Grati. Lukisan itu ia beri judul ”Bongkahan”.
Dari jauh, karya tersebut tampak bertekstur keemasan, menyerupai bongkah emas. Namun, begitu diamati lebih dekat, objek yang dilukis ternyata kotoran sapi—atau dalam bahasa Jawa disebut teletong.
”Pesannya sederhana. Sesuatu yang tampak tak bernilai, dengan pemikiran cerdas bisa menjadi berharga. Seperti pupuk, batako, hingga sumber energi alternatif seperti biogas,” kata guru seni MAN 1 Pasuruan itu.
Dalam setiap goresan di atas kanvas, ia memang ingin mengajak orang berpikir dan melihat ulang hal-hal remeh di sekitar kita. Tony bahkan mengaku tak masalah jika ada orang salah tafsir begitu melihat karyanya.
Bahkan, pernah seorang dosen seni rupa dari Unesa, Prof Djuli Djatiprambudi, memakai karyanya sebagai bahan diskusi. ”Tafsir itu wajar, tidak perlu diperdebatkan. Yang penting orang mau memahami, bukan sekadar mengartikan,” tambahnya.
Perjalanan Tony di dunia seni rupa berawal ketika ia kuliah di IKIP Negeri Surabaya, jurusan seni rupa pada 1995. Kampus itu kemudian berganti nama menjadi Unesa pada 2000.
Sejak mahasiswa, ia sudah terbiasa mengolah berbagai medium: akuarel, instalasi, hingga new media art. Namun, setelah lulus, Tony sempat menempuh jalan berbeda. Ia mengajar sebagai guru tidak tetap di MTsN 1 Pasuruan dan SMAN Pandaan.
”Awalnya melukis justru pekerjaan sampingan. Guru honorer itu kan gajinya pas-pasan. Tapi saat karya saya mulai diminati kolektor, saya sadar kalau seni bisa jadi jalan hidup,” kenang lelaki 51 tahun itu.
Pengaruh besar dalam perjalanan seninya datang dari nama-nama besar Indonesia. Sejak mahasiswa, ia sudah gandrung dengan Ahmad Sadali, maestro seni abstrak, sekaligus guru besar ITB. Dari Sadali, ia belajar bahwa warna, tekstur, dan komposisi bisa bicara lebih jauh dari sekadar bentuk.
Ia juga banyak terinspirasi oleh A.D. Pirous, seniman yang kerap merangsang imajinasinya dan memperkaya wawasannya tentang simbol dalam karya. ”Akhirnya, saya perbanyak membaca referensi, termasuk dari literatur-literatur seni Prancis. Dari sana saya belajar visual, komposisi, sampai teknik praktik,” kata Tony.
Momen penting datang pada 2007. Ia ikut kompetisi nasional di Yogya Gallery, dengan juri kolektor terkenal Oei Hong Djien. Karyanya masuk lima besar dengan tema 1000 Misterius Borobudur. Meski hanya meraih hadiah tiga juta rupiah, momentum itu membuat namanya dikenal.
”Sejak itu, karya saya masuk ke dunia lelang. Pernah terjual di angka Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Bahkan, ada yang laku 9 ribu dolar Singapura,” ujarnya bangga.
Meski sempat vakum dua tahun setelah diterima CPNS pada 2009, Tony kembali menemukan keseimbangan antara mengajar dan berkarya. Kini ia tercatat sebagai guru seni di MAN Pasuruan.
”Kalau siang fokus mengajar, malam hari saya melukis. Dulu bisa sampai jam 2 pagi. Sekarang setelah magrib, dua jam cukup. Sisanya untuk keluarga,” katanya.
Sebagai guru, ia sadar betul betapa minimnya pemahaman seni di sekolah. Di SD misalnya, banyak anak hanya bisa menggambar gunung. Sebab, yang mengajar bukan guru dari bidang seni.
”Itu kelemahannya. Makanya saya selalu tekankan ke murid, bakat itu tidak ada artinya tanpa latihan. Seni itu soal proses, bukan sekadar bakat,” jelasnya.
Bagi Tony, profesi guru dan seniman saling melengkapi. Mengajar membuatnya tetap dekat dengan generasi muda, sementara berkarya menjaga idealismenya sebagai seniman. Tidak sedikit siswanya yang kemudian memilih kuliah seni karena terinspirasi darinya.
Karya Tony banyak dipengaruhi oleh tema lingkungan dan simbol-simbol sosial. Ia pernah melukis batu hitam dengan peta Indonesia yang ditopang tongkat, kursi, dan laras panjang, dipamerkan saat Kemanunggalan TNI 2018.
Dalam karya itu, Tony ingin menyampaikan pesan bahwa masyarakat kita perlu dijaga dari ancaman radikalisme. Itulah kenapa ia menopang bongkahan batu dengan peta Indonesia itu dengan beberapa objek. Tongkat melambangkan agama, kursi melambangkan pejabat, dan laras panjang melambangkan tentara.
”Dan pohon kering di belakangnya menggambarkan masyarakat yang masih rapuh, gampang goyah,” jelasnya.
Tema lokal juga kerap ia angkat. Misalnya, cangka—alat perbaikan kapal nelayan di Lekok—yang ia jadikan objek utama dalam pameran tunggal 2008. Bahkan, saat merenovasi rumahnya di Desa Sidowayah, beberapa waktu lalu, Tony juga mendapat banyak inspirasi melukis.
Dari benda-benda sederhana seperti timbo (ember timba), molen (mesin adonan semen), hingga andang, ia menangkap simbol perjuangan masyarakat kecil. Ia percaya setiap benda punya ”ruh”.
”Kalau diamati dengan hati, ia bisa bercerita. Tugas saya menerjemahkannya ke atas kanvas,” katanya.
Tak heran bila gaya melukisnya kemudian identik dengan kontemporer, sarat simbol dan tafsir. Tony mengaku sering mengangkat tema lingkungan, sebab baginya alam adalah cermin kehidupan.
Ia bahkan pernah menggunakan serpihan tanah retak, fosil lumpur, hingga kayu furnitur sebagai bagian dari karyanya untuk menggambarkan dampak tragedi Lapindo. ”Lingkungan itu jujur, dan seni harus bisa menangkap kejujuran itu. Saya sering pakai simbol-simbol sederhana agar orang bisa membaca lebih dalam,” ujarnya.
Namun, pandemi Covid-19 membawa perubahan besar. Saat aktivitas pameran sepi, Tony justru menemukan jalan baru lewat kayu-kayu bekas.
Ia membangun gazebo dari limbah kayu di rumahnya. Awalnya hanya untuk mengisi waktu, tapi belakangan jadi banyak pesanan, terutama dari sekolah-sekolah.
”Sejak kecil saya memang suka main kayu karena di kampung banyak limbah pabrik kayu. Ternyata banyak yang suka hasilnya. Tapi saya tetap melihat itu sebagai seni, bukan sekadar usaha sampingan,” jelasnya.
Proyek kayu itu membuatnya dipercaya membangun meja rapat, partisi, hingga ruang komite di sekolah. ”Tidak ada pengalaman arsitektur. Modalnya hanya rasa seni. Untungnya hasilnya memuaskan,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, seni bukan hanya soal ekspresi, tapi juga bisa menjadi investasi. Ia pernah menjual karya seharga Rp 17,5 juta. Lalu enam tahun kemudian dilelang kembali dengan harga 11 ribu dollar atau setara dengan Rp 100 juta.
”Karena terkadang orang bukan hanya membeli karya, tapi juga nama pelukis itu sendiri. Itu yang saya pelajari dari dunia lelang,” kata bapak empat anak itu.
Meski demikian, ia tidak menutup diri dari tafsir publik. Baginya, karya seni juga soal selera. Dan selera orang, pasti tidak sama.
”Pernah ada teman bilang, lukisanmu dikasih gratis pun saya nggak mau. Tapi kolektor lain rela bayar puluhan juta. Nah itu kan soal selera. Yang penting saya jujur pada proses,” tambahnya.
Kini di usia 51 tahun, Tony melihat seni sebagai jalan hidup yang sudah memberinya banyak hal. Dari rumah yang ia bangun lewat hasil pameran, hingga kesempatan mengajar generasi muda.
”Seni itu sekolah kehidupan. Ia mengajarkan kesabaran, konsistensi, dan menghargai perbedaan tafsir,” ujarnya.
Ia juga masih punya mimpi: membawa nama Pasuruan lebih dikenal lewat seni kontemporer. ”Kita ini punya banyak potensi, baik alam maupun sosial. Kalau bisa diterjemahkan ke seni, pasti akan jadi kebanggaan,” pungkasnya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi