SEMANGAT siswa MAN 1 Pasuruan untuk menjelajahi dunia teknologi tak pernah padam. Dari ruang-ruang kelas yang penuh dengan hafalan doa dan ayat suci, lahir para perancang robot cerdas yang mengukir prestasi hingga tingkat internasional.
MAN 1 Pasuruan atau dulu dikenal MAN Bangil ini bukan sekadar madrasah. Di balik identitasnya sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, tersembunyi geliat teknologi yang terus berkembang. Sejak 2007, madrasah ini menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menghadirkan program unggulan IT. Tujuannya, untuk menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar spiritual.
"Kami ingin madrasah ini jadi tempat siswa mendalami agama sekaligus mengembangkan keterampilan di dunia teknologi,” ujar Kepala MAN 1 Pasuruan Nasrudin
Langkah itu bukan isapan jempol. Sejak 2007, MAN 1 Pasuruan resmi menyandang status sebagai MAN Plus Keterampilan, dengan jurusan Aplikasi Perkantoran, Desain Grafis, dan Programming. Siswa-siswinya tidak hanya mahir mengetik sepuluh jari atau membuat desain digital—mereka juga piawai merakit robot.
Prestasinya tak main-main. Setelah rutin juara nasional di berbagai lomba robotik. Tahun 2019 jadi titik balik. Tim robotik MAN 1 Pasuruan sukses menyabet medali emas dan perak dalam kompetisi internasional di Jepang.
“Itu pertama kali kami ikut lomba robotik di luar negeri. Hasilnya benar-benar luar biasa,” kenang Kepala MAN 1 Pasuruan Nasrudin yang juga menginisiasi kelas khusus robotik untuk siswa berprestasi.
Sejak itu, langganan ke luar negeri pun dimulai. Sempat vakum berbagai perlombaan imbas pandemi. Di tahun 2022, mereka tampil di Malaysia dan Thailand.
Tahun 2023, prestasi diraih di berbagai lomba internasional di Malaysia. Yang membanggakan, mereka bukan hanya tampil—tetapi pulang membawa medali.
Prestasi nasional dan internasional terus menerus diraih beruntun setiap tahun. Di tahun 2024 lalu bahkan 3 kali juara Malaysia dan tahun ini sudah disiapkan untuk kejuaraan Robotik di Hainan, China, pada Juli mendatang.
“Juni ini kami sudah persiapan ke Solo untuk kejuaraan robotik FIRA (Federation of International RoboSport Association), di mana pemenangnya berangkat ke Korea,” tambahnya.
Bagi siswa daerah, terutama dari madrasah, mengikuti kejuaraan nasional bahkan internasional memang bukan hal yang enteng. Mental bertanding adalah kunci.
“Kami terus tanamkan ke anak-anak, jangan minder hanya karena berasal dari madrasah. Justru harus lebih percaya diri karena punya keunggulan spiritual dan skill,” ujarnya memotivasi.
Kebanggaan itu tak berhenti di podium. Dampaknya terasa hingga ke masa depan siswa. Tahun ini saja, sudah ada 57 siswa MAN 1 Pasuruan diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur prestasi mulai dari ITS, Unair, Universitas Brawijaya, hingga kampus-kampus ternama jadi tujuan mereka.
Yang tak kuliah pun tak dibiarkan terkatung. MAN 1 Pasuruan menjalin kerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja untuk membantu penempatan kerja. Bahkan, mulai 2025 nanti, madrasah ini siap membuka Bursa Kerja Khusus (BKK) sebagai jalur langsung siswa ke dunia kerja.
Madrasah itu harus adaptif, supaya bisa menjawab kebutuhan zaman. Kami ingin semua siswa punya masa depan cerah, baik yang lanjut kuliah maupun langsung bekerja,” ungkapnya. (*)
Editor : Muhammad Fahmi