Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Achmad Azkiya, Penulis Muda Berbakat yang Telah Menulis Delapan Buku, Karya Awalnya Dijual ke Teman dan Santri

Fahrizal Firmani • Rabu, 14 Agustus 2024 | 20:15 WIB
SUKA LITERASI: Achmad Azkiya menunjukkan beberapa buku yang telah ditulisnya. Total ada delapan buku yang sudah dibuatnya.
SUKA LITERASI: Achmad Azkiya menunjukkan beberapa buku yang telah ditulisnya. Total ada delapan buku yang sudah dibuatnya.

Usianya masih muda. Baru 26 tahun. Achmad Azkiya, namanya. Namun, bakatnya di bidang kepenulisan cukup menonjol. Ia sudah menulis delapan buku. Karyanya didominasi memoar.

FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo

Tidak pernah terpikir dalam benak Achmad Azkiya, dia bisa membuat karya tulis dalam bentuk buku. Pemuda asal Kelurahan Trajeng, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, juga tak terbayang akan menjadi seorang penulis. Sebab, awalnya ia kurang suka membaca.

Bisa dibilang bakatnya ini karena ketidaksengajaan. Itu semua berawal saat ia masih menjadi santri di ponpes Salafiyah Kota Pasuruan. Di tahun keenam pada 2016, ia sedikit jenuh pada rutinitasnya sebagai santri.

Saat itulah ia diberi majalah ponpes setempat bernama Nasyat oleh temannya. Dalam majalah itu ia membaca tulisan essai yang dibuat oleh kakak dan temannya sesama santri.

“Dari situ saya menjadi termotivasi dan sering ke perpustakaan pondok. Kata kata mutiara dan kalam hikmah dalam majalah itu, saya tulis dalam buku diari,” katanya.

Namun saat itu, ia belum tergerak untuk menulis. Barulah usai lulus dari ponpes pada 2018, ia menjadi suka menulis. Kebetulan, sebagai lulusan pondok ia harus menjalani pengabdian masyarakat minimal satu tahun.

Ia memilih mengabdi selama dua tahun dengan mengajar di Ponpes Al Azhar Jember. Rutinitas ini membuatnya harus jauh dari orang tua. Dan perasaan kerinduan pada mereka, ia tulis dalam buku catatan setiap harinya.

“Hampir setiap hari saya nulis. Intensnya itu mulai bulan keempat hingga selesai pengabdian di bulan ke 24. Kurang lebih menghabiskan enam buku,” jelas Azki-sapaannya.

Karena banyaknya tulisan yang ia hasilkan, ia mencoba menerbitkannya secara indie. Ia menghubungi penerbit buku indie dengan menyodorkan hasil karyanya dan dicetak sebanyak 10 buku.

Karyanya ini dijual ke teman dan santri di jember. Rupanya mereka suka. Rata rata setiap buku yang ditulisnya terjual hingga lebih dari 20 buah buku. Selama di Jember, ia cukup aktif menulis. Ada lima buah judul.

Diantaranya, Rentetan Keluh Kisah Hujan berupa memoar; dan Hujan Turun Yang Tidak Seharusnya Turun yang merupakan kumpulan puisi. Rata rata buku yang dicetaknya adalah memoar.

“Setiap hari saya selalu menulis kegiatan yang dilakukan dalam buku harian. Dan tulisan ini, saya coba publikasikan, rupanya cukup banyak peminatnya,” jelasnya.

Warga Jalan Maluku ini menyebut selepas pengabdian, pada 2020, ia memutuskan berkuliah di Uniwara. Ia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dia memilih jurusan ini karena ingin mengembangkan diri di bidang menulis.

Ia mengaku sangat mengagumi sosok sastrawan KH Mustofa Bisri dan Joko Pinurbo. Ia berharap dengan masuk di sastra Indonesia, kelak bisa menjadi sastrawan dan penulis hebat seperti idolanya.

Namun diakuinya, sejak kuliah, intensitas menulisnya tidak sesering saat pengabdian. Dalam empat tahun ini, ia hanya menerbitkan tiga buah buku. Seluruh buku ini juga diterbitkan oleh penerbit indie.

“Kegiatan di perkuliahan membuat intensitas menulis berkurang. Tapi tetap saya ingin mengembangkan kemampuan saya dalam bidang kepenulisan,” tutur sulung dari dua saudara ini.

Judulnya diantaranya, Manusia Manusia Anomali yang merupakan kumpulan essai dan Tuhan Maha Pandemi yang merupakan kumpulan puisi. Namun karena semakin dikenal, ia bisa menjual hingga lebih dari 50 buah untuk satu buah buku.

“Saya ingin bisa menulis dan menerbitkan novel. Kalau bisa saya juga ingin menulis buku nonfisik tentang Bahasa dan Sastra Indonesia,” terang pria yang memiliki nama pena Bung Azki ini. (fun)

Editor : Jawanto Arifin
#penulis #buku