Omah Jamur yang dikelola Muhammad Husein bukan sekadar bisnis menggiurkan. Tetapi, juga berdampak pada keseimbangan lingkungan. Dengan sistem zero waste farming, ia memanfaatkan sebanyak mungkin sampah. Bahkan, tak menyisakan sedikit pun limbah.
MUHAMAD BUSTHOMI, Pohjentrek, Radar Bromo
Ruang inkubasi di tengah sawah itu sebenarnya tak direncanakan jadi tempat membudidayakan jamur tiram. Husein mulanya bermaksud membuka peternakan ayam hias.
Tak heran jika bangunannya dikelilingi tembok bata ringan dan hanya ada beberapa ventilasi udara.
”Awalnya memang dikonsep buat ayam hias,” kata Husein, ditemui di Omah Jamur miliknya di Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Senin (25/12).
Tata letak bangunannya pun disiapkan lengkap dengan ruang penetasan telur. Namun, sebagian keluarganya khawatir kalau tempat itu dijadikan peternakan malah akan menimbulkan bau ke lingkungan sekitar. Husein akhirnya berpikir ulang.
”Karena eman-eman bangunan dibiarkan kosong, saya mulai belajar budi daya jamur,” katanya.
Husein lalu belajar budi daya jamur ke seorang pembudi daya jamur tiram di Pandaan. Itu pun pengetahuan yang ia dapatkan hanya secara teori. Selebihnya, Husein bereksperimen sendiri. Mulai teknik pembibitan, menyiapkan media tanam, hingga budi daya. Uji coba itu dimulainya lima tahun lalu.
”Namanya saja percobaan, jelas ada kegagalan. Mungkin lebih dari sepuluh kali percobaan gagal terus. Tapi itu wajar,” kata Husein.
Bahkan, kegagalan yang dialami Husein selama bereksperimen hampir terjadi dalam setiap tahapan budi daya. Misalnya saat melakukan pembibitan. Bibit jamur yang digunakan berasal dari jagung yang harus direbus lebih dulu.
”Kalau rebusannya kurang matang, maka pembibitannya tidak berhasil,” kata dia.
Buliran-buliran jagung rebus itu kemudian dicampur dengan kapur dolomit agar kadar keasamannya berkurang. Bakal bibit jamur itu lantas disimpan dalam botol kaca. Dan perlu waktu sekitar sebulan untuk menghasilkan bibit jamur yang berkualitas.
”Sebotol itu bisa dipakai membibit untuk 60 media tanam,” ujarnya.
Lelaki 63 tahun itu menggunakan baglog untuk menanam bibit jamur tiram. Sebagian besar isinya adalah serbuk kayu. Bahan itu didapatkan dari limbah gergajian.
Takaran campuran baglog yang dipakai Husein juga hasil racikannya sendiri. Dalam satu adonan, memerlukan 100 kilogram serbuk kayu, 2 kilogram dolomit, 2 kilogram katul, dan air agar sedikit lembap.
”Formula ini juga hasil uji coba sampai menemukan takaran yang pas,” katanya.
Masing-masing media tanam hanya diberi sekitar 5 bibit jamur. Mulut plastik baglog yang sudah berisi campuran bahan itu kemudian diberi kolom sebesar tutup botol, ditutup kertas, dan diikat. Sebelum memasuki ruang inkubasi, baglog itu masih perlu disterilisasi dalam tong dengan temperatur 100 derajat Celsius.
”Ini juga sempat gagal awalnya. Karena saya pikir kalau 100 derajat Celsius mungkin dua jam sudah cukup, ternyata harus enam jam,” bebernya.
Ruang inkubasi jamur di Omah Jamur itu sendiri punya kapasitas 30 ribu baglog. Namun, saat ini, dia hanya menyiapkan 5 ribu sampai 6 ribu baglog. Sebab, jika sudah masuk masa panen, Husein cukup kewalahan mengelolanya.
”Karena masa panen jamur ini empat bulan dan selama itu hampir setiap hari panennya,” katanya.
Apalagi jika musim hujan. Dalam sekali panen bisa 10 kilogram jamur tiram yang didapat. Namun, selama kemarau, Husein harus ekstra ketat menjaga suhu ruangan inkubasi. Karena jamur akan sulit berproduksi jika suhu ruangan tinggi.
”Idealnya suhu harus terjaga di 29 derajat,” ungkap dia.
Maklum saja, karena ruang inkubasi itu mulanya memang bukan dikhususkan untuk budi daya jamur. Melainkan kumbung ayam hias. Berbeda dengan ruang inkubasi jamur yang kebanyakan lebih terbuka.
”Makanya selama kemarau tanahnya harus sering disirami air untuk menstabilkan suhu ruangan,” jelasnya.
Tak hanya jadi ajang bisnis, Husein juga menjadikan budi daya jamur tiram itu sebagai wisata edukasi Dam Pleret 1904 yang dikelola bersama kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa setempat.
Hasil produksi Omah Jamur sendiri bukan hanya berupa jamur tiram yang siap diolah. Tetapi, juga yang masih berupa bibit.
Sedangkan bekas media tanam yang sudah melewati masa panen, tak dibuang begitu saja. Meskipun berupa limbah, dimanfaatkan lagi sebagai pupuk tanaman.
Apalagi ada kandungan dolomit, serbuk kayu, dan katul yang semuanya bermanfaat menggemburkan tanah. Sehingga, hasil tanamannya juga bagus.
”Jadi memang ini saya kelola bukan hanya untuk tujuan ekonomis, tapi juga sebisa mungkin juga berdampak pada aspek ekologis. Bahannya dari sampah, limbahnya tetap berguna,” beber Husein. (hn)
Editor : Jawanto Arifin