Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Warga Binaan Lapas Probolinggo Raup Cuan dari Pot dan Bunga Kertas

Fahrizal Firmani • Jumat, 4 Agustus 2023 | 19:35 WIB
HARUS TELATEN: Toher (kanan) bersama Babun, 37, menunjukkan pot dan bunga hasil karyanya yang dibuat dari kertas manila.
HARUS TELATEN: Toher (kanan) bersama Babun, 37, menunjukkan pot dan bunga hasil karyanya yang dibuat dari kertas manila.

Selama dibina di Lapas IIB Probolinggo, Warga Binaan (WB) mendapat latihan skill atau keterampilan. Salah satunya kerajinan membuat pot dan tanaman dari kertas manila. Ukuran dan modelnya beragam.

FAHRIZAL FIRMANI, Probolinggo, Radar Bromo

Toher, 50, menggunting kertas manila dengan hati-hati. Kemudian, kertas itu dilipat menjadi bentuk segitiga.

Berulang kali dia melakukannya. Hingga jumlah segitiga itu mencapai ratusan. Lantas, ratusan segitiga dari kertas itu disusun menjadi sebuah pot dan bunga.

Warga binaan (WB) asal Pakistaji, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, itu biasa membuat pot dan bunga dari kertas manila setiap harinya.

Biasanya, hal itu dia lakukan saat sedang senggang di Lapas IIB Probolinggo. Misalnya, saat jam istirahat siang.

Tidak sendirian. Toher membuatnya dibantu Babun, 37, warga Desa Malasan Wetan, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo.

Memang, belum lama mereka melakukannya. Aktivitas itu baru dimulai awal tahun ini. Namun, hasilnya cukup cantik.

Toher menyebut, skill membuat pot bunga dari kertas ini didapat dari Babun. Mereka saling bertukar ilmu.

Ia memberikan ilmu pertanian. Sementara, Babun mengajarkan cara membuat pot dan tanaman dari kertas manila.

"Ternyata tidak mudah. Harus telaten. Sebab, kertas manila ini harus dipotong ukuran kecil. Setelah itu dibentuk segitiga," katanya.

Pot yang dibuatnya berukuran beragam. Pot ukuran kecil tingginya 25 sentimeter. Sedikitnya membutuhkan enam lembar kertas manila.

Sedangkan pos ukuran besar memiliki tinggi lebih dari 30 sentimeter dan butuh 15 lembar kertas manila.

Lama pengerjaannya dua hari untuk pot ukuran kecil. Sedangkan pot ukuran besar baru selesai dalam waktu tiga sampai empat hari.

Karena ukurannya yang berbeda, harga jualnya juga berbeda. Mulai Rp 75 ribu untuk pot ukuran kecil dan Rp 200 ribu untuk yang besar.

Pengunjung lapas pun bisa memesan ukuran sesuai keinginan. Misalnya, mereka ingin menambah nama mereka di pot yang dibeli, bisa menebus dengan harga Rp 100 ribu untuk ukuran kecil. Sementara ukuran besar bisa dibawa pulang dengan harga Rp 300 ribu.

"Jadi bisa pesan nama. Sama seperti pot dan tanamannya, nama ini dibuat dari kertas manila. Kertasnya dibentuk menjadi nama yang dipesan," katanya.

Babun sendiri sudah lama memiliki keterampilan membuat pot dan tanaman dari kertas. Ia mempelajarinya dari temannya. Selama ini, ia menjual keterampilan itu sesuai pesanan.

Selama satu pekan, hasil yang diperoleh tidak pasti. Ia pernah hanya bisa menjual satu pot besar pada pengunjung yang datang ke lapas. Namun, pernah juga dalam sepekan terjual lima pot besar.

"Tetap bersyukur berapapun yang diperoleh. Saya juga senang dapat ilmu cara bertani dari Pak Toher," tutur Babun.

Kalapas IIB Probolinggo Risman Soemantri menuturkan, di lapas ada pembinaan kepribadian agar WB bisa bertaubat menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui kegiatan ceramah agama, pesantren kilat, hingga upacara bendera.

Pembinaan kemandirian atau life skill juga diberikan. Tujuannya, agar saat bebas mereka dapat mencukupi hidupnya dan dapat bersaing dengan masyarakat.

Adapun semua keterampilan yang dijual WB, hasilnya 70 persen untuk para WB. Sisanya 30 persen masuk kas Kemenkum HAM.

"Harapannya, mereka tidak kembali lagi melakukan perbuatan seperti sebelummya. Sehingga, menjadi pribadi yang lebih baik," terang Risman. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#warga binaan #lapas probolinggo