Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenal Tuli Art jadi Wadah Sahabat Tuli yang Punya Bakat Seni

Muhamad Busthomi • Rabu, 2 Agustus 2023 | 19:45 WIB
MEDIA TEMBOK: Anggota Komunitas Tuli Art saat membuat mural di kantor Dinas Sosial.
MEDIA TEMBOK: Anggota Komunitas Tuli Art saat membuat mural di kantor Dinas Sosial.

Bisa jadi, satu-satunya kantor pemerintahan yang penuh warna adalah Kantor Dinas Sosial Kota Pasuruan. Hampir semua tembok terluar kantor di Jalan Balai Kota itu dipenuhi lukisan mural. Semua itu buah karya Tuli Art, komunitas sahabat tuli yang berbakat di bidang seni rupa.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

Setiap lukisan yang dibuat para sahabat tuli itu berwarna cerah. Yang paling umum dijumpai adalah lukisan pemandangan. Ada juga lukisan secangkir kopi disertai beberapa kalimat penuh inspirasi. Butuh waktu tiga hari untuk merampungkan lukisan-lukisan yang dibuat sejak awal Juli lalu.

Lukisan yang dibuat sahabat tuli itu menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri. Mereka yang memiliki keterbatasan dalam berbicara dan mendengar, buktinya mampu membuat karya seni lukis mural yang indah dan menarik.

Para pelukis mural itu tergabung dalam Tuli Art. Sebuah komunitas yang sengaja dibentuk bagi para penyandang disabilitas tunarungu wicara di Pasuruan. Komunitas itu sendiri sudah didirikan delapan tahun silam. Tepatnya pada 2015.

Hingga sekarang, karya para pelukis di Tuli Art sudah banyak dinikmati orang. Bahkan, para anggota komunitas itu juga menghidupi keluarganya dari karya yang mereka buat.

MEDIA TEMBOK: Anggota Komunitas Tuli Art saat membuat mural di kantor Dinas Sosial.
MEDIA TEMBOK: Anggota Komunitas Tuli Art saat membuat mural di kantor Dinas Sosial.

“Semuanya berawal dari hobi yang sama, suka menggambar dan melukis,” kata Joko Afrianto, Ketua Komunitas Tuli Art.

Selain Joko, ada empat sahabat tuli lain yang sama-sama punya kelihaian melukis. Yaitu Gunawan, Hasyim, Gilang dan Safa. Tak hanya sama-sama memiliki keterbatasan pendengaran yang menyatukan mereka. Melainkan juga kesamaan hobi di bidang seni.

“Itu melatarbelakangi tercetusnya ide membentuk komunitas yang berfokus pada mural,” katanya.

Namun mereka tidak serta merta berani menunjukkan hasil karya lukisannya. Rasa tak percaya diri pasti ada. Mula-mula mereka hanya coba-coba. Tempat yang jadi sarana menggambar mural hanya terbatas di lingkungan sekitar rumah mereka.

“Tapi kami mendapat respon yang cukup bagus,” katanya.

Sejak itu, kelihaian mereka melukis mural mulai dilirik. Satu persatu dari mereka mulai mendapat ‘panggilan’ untuk melukis mural. Karya mereka sudah banyak yang menghiasi sejumlah sekolah di wilayah Pasuruan. Termasuk rumah-rumah dinas di lingkungan Pemkot Pasuruan. Terakhir, mereka diminta melukis tembok kantor Dinas Sosial.

Kualitas lukisan mural karya Komunitas Tuli Art juga tak kalah dengan pelukis-pelukis pada umumnya. Karya mereka sudah diakui banyak orang. Bahkan tidak hanya di Pasuruan saja mereka dikenal. Buktinya, permintaan melukis juga datang dari berbagai wilayah sekitar Jawa Timur.

“Kalau luar kota pernah ke Malang, Mojokerto, Trenggalek, Jombang, sampai Banyuwangi,” ujarnya.

Dari kelihaian melukis tembok itu pula, kelima anggota Komunitas Tuli Art menghidupi keluarganya. Apalagi jasa mural yang mereka tawarkan cukup terjangkau.

Tarifnya dihitung per meter persegi. Nilainya dihargai Rp50 ribu. Apabila sepaket bahan dan alat yang mereka disediakan, pemesan tinggal menambah ongkos Rp25 ribu.

Nikmatnya hidup dari karya seni tidak membuat mereka puas dengan hanya membuat lukisan mural saja. Komunitas Tuli Art juga merambah gambar tiga dimensi. Termasuk seni kriya seperti ukiran kayu, kaca, hingga membuat mobil hias untuk karnaval.

Kepala Dinsos Kota Pasuruan Kokoh Arie Hidayat mengaku tertarik menghiasi kantor dinasnya dengan mural karya sahabat tuli. Tidak hanya untuk memberdayakan para sahabat tuli yang punya keahlian melukis. Ia memang ingin menciptakan suasana kantor yang nyaman.

“Selama ini mungkin orang segan masuk kantor-kantor dinas,” katanya.

Namun ia tidak ingin perasaan segan itu juga dihinggapi orang yang hendak memasuki kantornya. Apalagi, Dinsos memiliki banyak urusan yang bersinggungan langsung dengan layanan masyarakat. Karena itu, suasana kantor dibuat cerah, ceria.

“Tujuannya supaya orang tidak segan, nyaman datang kesini,” katanya. (fun)

Editor : Jawanto Arifin
#komunitas #sahabat tuli #disabilitas #mural