Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sutinah, 40 Tahun Tekuni Kerajinan Anyaman Bambu di Gerbo

Ronald Fernando • Jumat, 2 Juni 2023 | 17:18 WIB
Photo
Photo
Di usianya yang sudah 65 tahun, Sutinah tetap aktif menjadi perajin anyaman bambu. Dia bahkan menjadi satu-satunya perajin anyaman bambu yang masih bertahan di desanya.

------------------------------------------------------------------------------------------------

RIZAL FAHMI SYATORI, Purwodadi, Radar Bromo

------------------------------------------------------------------------------------------------------

MENJELANG siang, Sutinah, 65, terlihat sibuk di ruang tamu rumahnya di Dusun Kejoren, Desa Gerbo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Dia asyik menganyam lembaran bambu menjadi beberapa barang. Ada tampah, idik, dan tumpu.

Tak terlihat lelah di wajahnya. Tangannya pun terampil, seolah bergerak sendiri. Maklum, sudah 40 tahun kerajinan anyaman bambu itu dilakukan Sutinah. Sejak usia 25 tahun hingga saat ini.

“Kuncinya harus telaten dan ulet. Selain itu, percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Selagi ada upaya dan usaha pasti selalu ada,” kata Tinah, sapaan akrabnya.

Sutinah sendiri membuat barang-barang dari anyaman bambu ini dengan cara otodidak. Memang awalnya coba-coba. Setelah mahir, dia terus membuatnya sampai sekarang.

Sutinah tidak sendirian menyelesaikan anyaman bambu itu. Biasanya, dia dibantu suaminya dan anak semata wayangnya yang tinggal serumah dengannya.

“Memang ini keterampilan menganyam. Tapi, bagi kami ini merupakan pekerjaan utama. Dari sini kami bisa hidup. Juga bisa menabung,” terang istri dari Ngatmani ini.

Bahan untuk produksi pun dia dapatkan dengan mudah, tidak perlu membeli. Biasanya, dia menggunakan bambu apus yang ditebang dari tegalan miliknya.

Setelah ditebang, bambu itu kemudian dipotong menjadi beberapa bagian. Bagian-bagian itu lantas dipotong-potong lagi menjadi lembaran bambu. Setelah bambu berupa lembaran, kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga beberapa jam sampai kering.

“Setelah lembaran bambunya kering, baru saya anyam menjadi bentuk yang diinginkan. Bisa tampah, idik, dan tumpu. Sehari bisa membuat lima sampai sepuluh barang,” ucap nenek dengan satu cucu ini.

Saat barang jadi, sudah terkumpul lumayan banyak, baru kemudian dijual olehnya. Biasanya, Sutinah menjualnya dengan berjalan kaki. Keliling dari rumah ke rumah warga di sekitar Desa Gerbo dan desa tetangga atau di sekitaran Kecamatan Purwodadi.

Harga jual barangnya beragam. Rata-rata Rp 15 ribu sampai Rp 50 ribu per buah. Tergantung ukuran dan jenis barangnya.

“Jualnya ya keliling jalan kaki. Berangkat dari rumah pagi hari dan sorenya sudah tiba di rumah. Alhamdulillah, barangnya laku selama jualan keliling,” tuturnya.

Sutinah memang perajin anyaman bambu satu-satunya di Desa Gerbo. Tidak heran, barang yang diproduksinya itu selalu laris terjual. Sebab, tidak ada lagi perajin lain yang membuatnya.

Pembelinya pun bukan hanya warga di sekitar rumahnya. Seringkali, pembelinya juga dari Kalimantan, Bali, dan Lombok.

“Jadi pembeli ini tinggal di Kecamatan Purwodadi. Pas pulang kampung dia mampir ke rumah dan beli sejumlah barang untuk dibawa ke Kalimantan, Bali, dan Lombok,” terangnya. (hn) Editor : Ronald Fernando
#kerajinan pasuruan #kerajinan anyaman bambu