Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tesis Konvergensi Media Radar Bromo, Istri Wawali Pasuruan Lulus Cumlaude

Jawanto Arifin • Selasa, 28 Maret 2023 | 16:07 WIB
LULUS CUMLAUDE: Suryani Firdaus berhasil menyelesaikan S2 Ilmu Komunikasi di Unitomo, Surabaya dengan status cumlaude. Inset Suryani di makam ayahandanya. (Istimewa)
LULUS CUMLAUDE: Suryani Firdaus berhasil menyelesaikan S2 Ilmu Komunikasi di Unitomo, Surabaya dengan status cumlaude. Inset Suryani di makam ayahandanya. (Istimewa)
Pendidikan itu penting. Itulah prinsip Suryani Firdaus. Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, wakil ketua TP PKK Kota Pasuruan, dan sejumlah organisasi lainya, ia meluangkan waktu untuk menyelesaikan studi S-2nya. Dalam kurun 1,5 tahun, ia lulus dengan menyandang predikat cumlaude.

ARIF MASHUDI, Pasuruan, Radar Bromo

Meski harus selalu mendampingi suaminya, Adi Wibowo yang saat ini menjabat Wakil Wali Kota Pasuruan, Suryani Firdaus tetap bersemangat menyelesaikan studinya, S-2 Ilmu Komunikasi. Bahkan, S-2 di Unitomo Surabaya itu berhasil dia selesaikan dalam waktu 1,5 tahun saja. Pada 11 Maret 2023, dia pun diwisuda.

Di tengah kesibukannya, menyelesaikan studi S-2 tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh usaha, doa, dan harus pandai mengatur waktu. Dan tentu juga, dorongan suami dan restu orang tua.

Suka-duka selama kuliah hingga hendak ujian tesis pun dilalui. Yang paling berat, dua hari menjelang ujian tesis, ayahandanya tercinta, Mugito bin Sardji meninggal di usia ke-70.

Ia mengaku sempat down. Namun, sang suami yang juga Wawali Pasuruan, Adi Wibowo terus men-supportnya. Mas Adi menyemangati Suryani agar bisa lulus demi ayahandanya.

Alhamdulillah, bisa menyelesaikan kuliah S-2. Meski, saya wisuda tanpa kehadiran bapak. Beliau meninggal dua hari menjelang ujian tesis. Padahal, bapak saya yang memotivasi dan merestui saya melanjutkan kuliah S-2,” kata Ani Adi Wibowo –sapaan akrabnya-.

Lulusan S-1 Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengaku, dirinya sebenarnya berencana melanjutkan S-2 di UIN Syarif Hidayatullah. Bahkan, sudah mendaftar tahun 2005. Namun, karena anaknya masih kecil saat itu, dia pun tidak melanjutkan niatan itu.

Hingga akhirnya, kesempatan untuk kuliah S-2 terbuka lagi pada 2021. Atas izin suami dan restu orang tua, Ani mencari informasi tentang universitas yang ada jurusan S-2 ilmu komunikasi. Ani akhirnya memutuskan kuliah S-2 di Unitomo Surabaya dan mendaftar pada Agustus 2021.



”Saya mulai kuliah September 2021. Karena masih pandemi (Covid-19), waktu itu kuliah online atau virtual. Saya mengikuti kuliah online tiap Jumat malam, Sabtu siang, dan Sabtu malam,” terangnya.

Ani bahkan tidak pernah bolos. Dia pun tidak pernah bercerita bahwa dirinya adalah istri Wakil Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo. Awalnya, teman-temannya hanya tahu, Ani adalah ibu tiga anak.

Putri pasutri Mugito dan Siti Qomariah itu menambahkan, dirinya memutuskan kuliah S-2 bukan karena banyak waktu kosong. Sebab, selain sebagai ibu, banyak kegiatan di luar rumah. Seperti, menjabat ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Pasuruan, ketua Perwosi Kota Pasuruan, dan wakil ketua 1 TP-PKK Kota Pasuruan.

”Sebenarnya kesibukan di rumah dan luar rumah sudah luar biasa. Tapi, karena tugas-tugas rumah tangga sudah ada yang bantu, saya bisa kuliah S-2. Karena saya ingat pesan bapak, jika ada niat baik, Insyaallah diberi jalan,” terangnya.

Selama mengikuti perkuliahan, diakui Ani, banyak suka-dukanya. Misalnya saat sedang mengikuti kuliah, anaknya tiba-tiba rewel. Minta ditemani tidur, anak nangis, dan lainnya.

Beruntungnya, teman-teman kuliahnya sepakat bahwa perkulihan online itu di-record. Sehingga, dirinya dapat mendengarkan ulang perkuliahan saat ada yang kurang paham.

”Intinya, saya harus mengatur waktu sebaik mungkin dan mengomunikasikan semua kegiatan saat jadwal perkuliahan. Termasuk saat presentasi kuliah, saya meminta presentasi duluan,” ujarnya.

Duka paling berat dihadapi saat proses menyelesaikan kuliah S-2 itu. Tepatnya saat menjelang ujian tesis. Saat itu, ujian tesis rencananya dilakukan 19 Februari.



Tiba-tiba musibah datang. Dua hari menjelang ujian tesis itu, tepatnya tanggal 16 Februari, bapaknya, Mugito bin Sardji meninggal dunia.

Ani langsung syok dan putus asa. Sebab, salah satu motivasinya menyelesaikan S-2 adalah karena motivasi bapaknya. Dia ingin bapaknya bisa melihat dirinya wisuda S-2.

Bahkan, Ani sudah berencana akan menjemput bapaknya di Jakarta untuk menghadiri wisudanya di Surabaya. Namun ternyata, semua rencana itu hanya menjadi kenangan. Takdir berkata lain. Bapaknya meninggal dua hari menjelang ujian tesis.

”Sempat syok. Padahal, hasil tesis mau saya tunjukin dan jadikan kejutan dan hadiah untuk bapak. Ternyata, takdir Allah berkata lain. Saya wisuda tanpa didampingi bapak,” kenangnya.

Ani mengaku, suami dan ibunya membangkitkan semangatnya kembali. Dia tidak boleh larut dalam duka terlalu lama. Ujian tesis harus dijalani dengan hasil maksimal. Sebab, dia harus dapat menunjukkan dan memberikan hasil ujian tesis terbaik untuk bapaknya.

”Saya bangkit juga karena bapak. Saya ingin mewujudkan keinginan bapak, menujukkan pada bapak, bisa selesai S-2. Karena itu, selesai wisuda keesokan harinya saya langsung ke Jakarta. Ziarah ke makam bapak,” ungkapnya, sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya.

Menariknya, proposal tesis S-2 yang ditempuh itu mengambil subjek tentang Jawa Pos Radar Bromo. Dia membahas khusus tentang konvergensi media. Dengan judul “Strategi Konvergensi Media pada Media Lokal Radar Bromo.”

Saat itu, Ani disarankan suaminya, Adi Wibowo untuk memilih Radar Bromo. Pertimbangannya, karena Radar Bromo media lokal dengan jenis media cetak dan online.



”Alhamdulillah, saat saya buat surat pengajuan penelitian di Radar Bromo, direspons dengan baik dan cepat,” akunya.

Alasan lain memilih Radar Bromo, karena Radar Bromo media terbesar untuk wilayah Kota/Kabupaten Pasuruan-Probolinggo. Lalu saat era media digital dan online terjadi, banyak media yang beralih ke online dan meninggalkan cetak.

Namun, Radar Bromo tidak. Radar Bromo tetap bertahan di media cetak. Sambil mengembangkan media online. ”Saya buat tesis ini kurang lebih sekitar empat sampai lima bulan, mulai Oktober 2022,” tutur perempuan kelahiran Jakarta 17 November 1982 itu. Hingga akhirnya selesai dan bisa diwisuda. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#pemkot pasuruan #radar bromo