Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Silat Kuntu Mancilan dan Seruan Bangkit dari Kungkungan Kolonial

Ronald Fernando • Sabtu, 10 September 2022 | 15:20 WIB
TETAP LESTARI: Pendekar cilik Silat Kuntu Mancilan berlatih di tengah lahan berlumpur. (M Busthomi/ Radar Bromo)
TETAP LESTARI: Pendekar cilik Silat Kuntu Mancilan berlatih di tengah lahan berlumpur. (M Busthomi/ Radar Bromo)
Rakyat pribumi mulai hilang kesabaran. Mereka kenyang dengan penderitaan atas berkuasanya kolonial. Pemerintahan berjalan dengan penuh kezaliman. Letupan-letupan perlawanan bermunculan. Tekad untuk lepas dari cengkeraman penjajah itu menjadi titimangsa berdirinya perguruan silat yang kini dikenal dengan nama Kuntu Mancilan.

=================================

FILOSOFI Kuntu menyiratkan sebuah kebangkitan. Konon, orang yang kali pertama menggaungkan seruan itu ialah Mbah Hasan Sanusi atau Mbah Slagah. Jika dirunut garis keturunannya, sampai kepada Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Ia memang punya peran cukup penting di masanya. Selain menyiarkan agama Islam, Mbah Sanusi juga dikenal sebagai pejuang yang tangguh dalam menghadapi penjajah.

Peran Mbah Sanusi menggalang kekuatan rakyat untuk bangkit melawan penindasan, tidak lepas dari perlawanan yang sebelumnya sudah dilakukan rakyat pribumi. Terutama para santri yang bermukim di pesantren kecil di pedukuhan Mancilan. Kini berada di Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.

Santri-santri itu bukan hanya berasal dari Pasuruan. Ada juga yang datang dari ujung timur hingga barat Pulau Jawa. Mereka sudah bermukim di pesantren jauh sebelum kedatangan penjajah.

Masing-masing dari mereka punya kemampuan bela diri demi bekal keselamatan dari ancaman bahaya. Di sela aktivitas belajar ilmu agama, mereka juga sesekali unjuk kemampuan jurus bela diri yang dimiliki.

“Kemudian ada juga yang bertukar ilmu bela diri. Mereka kemudian saling mengolaborasikan jurusnya. Makanya tidak heran kalau kemudian beberapa gerakan silat Kuntu Mancilan ada kemiripan dengan silat daerah lain,” kata Ketua Perguruan Kuntu Mancilan Kharis Fadillah.

Kesewenang-wenangan pemerintah kolonial terhadap pribumi membuat para santri itu berang. Perlawanan-perlawanan kecil tak dapat dibendung. Tapi, bukan pekerjaan sulit bagi penjajah untuk menghentikan mereka. Barisan santri itu kocar-kacir. Di momentum itulah, Mbah Sanusi menyuarakan kebangkitan.

“Yang dimaksud kuntu saat itu adalah semboyan untuk bangkit. Ayo melawan, jangan diam saja,” beber Kharis.

Seruan untuk bangkit dari kungkungan kolonial itu dimanifestasikan melalui ilmu bela diri yang kemudian disebut Kuntu Mancilan. Di perguruan silat itulah, Mbah Sanusi menggembleng para pemuda dengan ilmu bela diri untuk melawan penjajah.

Tidak hanya mengasah murid-muridnya dengan ilmu bela diri. Melainkan juga dibekali dengan ilmu kanuragan. Bacaan-bacaan wirid masih diamalkan di lingkungan perguruan hingga sekarang. Biasanya, dilafalkan selepas salat wajib. Dulu, setiap wirid yang diajarkan harus langsung disimpan di kepala.

“Katanya, kalau dituliskan amalannya nggak mandi. Sebenarnya itu bagian dari siasat para guru terdahulu. Karena ketika wirid dibukukan, ada kekhawatiran akan dirampas penjajah, sehingga mereka tahu kelemahan kita,” ungkap Kharis.

Perjuangan Mbah Sanusi merintis perguruan silat Kuntu Mancilan kemudian diteruskan oleh Mbah Hasan Wiro’i yang hidup pada sekitar 1817.

Sepeninggal Mbah Hasan, kepemimpinan perguruan diwariskan kepada anak keturunannya dari garis laki-laki. Mulai dari Mbah Abdurrahman, Mbah M. Faqih, Mbah M. Khotib, hingga sekarang dipimpin Kharis Fadillah.

Kharis sendiri merupakan generasi ke-8 yang meneruskan kepemimpinan perguruan silat Kuntu Mancilan. Hingga sekarang, perguruan silat Kuntu Mancilan masih eksis dan terus melahirkan banyak pendekar pilih tanding yang disegani. Jumlah muridnya tak terhitung.

“Kalau mulai awal berdiri yang pasti sudah ribuan murid,” kata Kharis. (tom/mie) Editor : Ronald Fernando
#hikayat #pencak silat pasuruan #silat kuntu mancilan