========================================================
IWAN ANDRIK, Beji, Radar Bromo
========================================================
RUANGAN itu berukuran tak lebih dari 4 x 5 meter itu. Di dalamya ada beragam peralatan yang biasa digunakan untuk tampil dalam pementasan. Mulai dari gong, kenong, kendang, dan sejumlah alat musik lainnya.
Ada juga beragam topeng barongan yang dipajang. Salah satunya topeng macan. Di luar ruangan tersebut, ada peralatan lain yang juga disediakan. Termasuk kuda-kudaan atau jaran kepang yang biasa digunakan saat tampil.
“Semua alatnya kami simpan di salah satu ruangan yang ada di sanggar. Ini untuk mempermudah ketika ada orderan manggung ataupun anak-anak latihan,” kata Putri Dwi Lestari saat ditemui di sanggarnya beberapa waktu lalu.
Putri mengaku, sanggar tersebut baru dibentuknya dua tahun terakhir. Idenya bermula dari keinginannya untuk melestarikan dan mengembangkan seni di wilayah Kabupaten Pasuruan. Khususnya seni jaranan yang cenderung memudar.
Di sisi lain, banyaknya anggapan miring untuk seni jaranan. Mulai dari pandangan syirik lantaran kerap ada yang kerasukan, hingga pandangan negatif lainnya. Padahal, jaranan merupakan bagian dari seni dan budaya. “Dan hal itu harus dilestarikan. Agar tidak punah,” bebernya.
Perempuan kelahiran Kediri, 6 Januari 1995 silam itu sudah berkecimpung di dunia seni jaranan sejak lama. Bahkan, orang tuanya merupakan salah satu wayang dalam seni jaran kepang atau jaranan.
Saat masih sekolah, Putri juga pernah belajar nyinden. Tak hanya itu, ia juga pernah menekuni alat musik kenong.
“Dunia seni jaranan sudah tak asing bagi saya. Ketika masih kecil memang sudah bergelut dengan seni jaranan,” imbuhnya.
Putri makin dekat dengan dunia seni setelah menikah dengan Ghonny Rendi Widianto pada tahun 2015. Ghonny yang seorang seniman jaran kepang membuat dirinya senantiasa tak lepas dengan pertunjukan tersebut.
“Saya sering ikut suami saat pertunjukan. Kondisi tersebut membuat dunia seni jaranan semakin melekat dengan benak saya,” beber perempuan yang tinggal di Pasuruan sejak 2015 tersebut.
Ia memaklumi, seni asli Jawa Timur tersebut memang tak begitu popular di wilayah Pasuruan. Tidak seperti di wilayahnya yang ada di Kediri. Setiap ada hajatan, seni jaranan kerap menjadi suguhan.
Beberapa hal menjadi alasan. Banyak masyarakat Kabupaten Pasuruan, khususnya di Bangil, yang menilai seni jaranan mengandung hal yang syirik. Karena kerap berhubungan dengan jin.
Terbukti dengan adanya orang yang kesurupan. Padahal, jaranan tersebut merupakan bagian seni budaya yang harusnya dilestarikan. “Pandangan orang kan berbeda. Tapi, bagi kami ini adalah bagian seni yang harus dilestarikan,” sampainya.
Dari situlah, ia kemudian tertarik untuk mendirikan sanggar seni sendiri. Selain untuk mendorong kesenian jaranan di Kabupaten Pasuruan, juga untuk mengedukasi dan membantu seniman-seniman muda bermunculan.
“Harapannya agar seni tradisional berupa jaranan ini tidak punah. Serta, bisa memberi penghidupan bagi anak-anak muda, khususnya mereka yang tertarik dengan seni jaranan,” terang dia.
Akhirnya, sanggar seni tari tradisional Putro Ragil Original resmi berdiri pada 2020. Tepatnya saat masih pandemi Covid-19. Suka duka pun menghampiri. Salah satunya, peralatan yang masih belum memadai. Karena baru merintis.
Selain itu, sanggar tersebut berdiri di tengah banyaknya pembatasan yang dilakukan pemerintah. “Banyak pembatasan yang dilakukan. Tapi, kami tetap berusaha untuk eksis. Bahkan, sembunyi-sembunyi saat tampil,” jelasnya.
Sanggar seni tersebut juga memberikan edukasi bagi seniman muda. Mereka diajari berbagai hal di sanggar yang diketuainya. Mulai dari rias sendiri, memainkan alat musik, dan beragam keperluan saat pertunjukan.
Dari situlah mereka yang semula tidak memiliki pekerjaan, akhirnya bisa mendapatkan penghasilan. Baginya, hal itu merupakan sebuah kebanggaan. Bisa “menyelamatkan seni” juga bisa membantu orang lain untuk mendapatkan penghasilan.
“Ada puluhan anggota yang saat ini kami miliki. Mulanya, mereka belajar. Sekarang mereka kerap tampil saat ada pertunjukan. Alhamdulillah, setiap bulannya ada saja pertunjukan. Dari situ bisa memberi mereka penghidupan. Itu yang membuat saya senang,” tandas dia. (hn) Editor : Ronald Fernando