Puluhan pengunjung Kafe Paragus, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, terlihat duduk bersila. Mayoritas mereka dari kalangan pemuda. Di depannya, sudah tersedia sejumlah cangkir berisi kopi. Namun, mereka terlihat khidmat.
Sepintas memang terlihat aneh. Tetapi, itulah adanya. Rupanya para pengunjung itu merupakan jamaah “pengajian.” Saat itu, Gus Ilmi -sapaan Achmad Mi’yarul Ilmi- membuka majelis dan menyampaikan mukadimah.
Tidak ada kitab apapun di hadapan mereka. Melainkan cangkir-cangkir yang sudah dituangi kopi, air putih, dan beberapa bungkus rokok. Pengajian berlangsung interaktif. Gus Ilmi hanya melontarkan beberapa kalimat pembuka, selebihnya lebih banyak dihabiskan dengan tanya jawab dari para jamaah.
“Majelis ini lahir dari akar tradisi masyarakat Pasuruan yang memang gemar ngopi dan cangkrukan,” ujar Gus Ilmi, Pengasuh Pondok Pesantren Alqusyairi.
Awalnya, majelis ini digelar di Desa Pandanrejo, Kecamatan Rejoso. Tepatnya di Dusun Ngebras, yang juga sealamat dengan pesantren asuhan Gus Ilmi. Majelis digelar secara rutin dari warung kopi ke warung kopi lain. Seiring waktu, majelis ini terus berpindah tempat. Bahkan, pernah dilangsungkan di Pasar Ngopak.
“Memang sengaja saya membuka pengajian yang tidak berada di lingkungan pesantren,” ujar cucu Kiai Achmad Qusyairi yang juga mertua Kiai Abdul Hamid itu.
Tujuannya hanya satu. Untuk merangkul jamaah secara lebih luas. Khususnya dari kalangan pemuda. Gus Ilmi beranggapan, bergaul dengan anak muda zaman sekarang susah-susah gampang. Tak jauh-jauh, ia mengasumsikan dirinya yang juga masih tergolong muda. Baru 28 tahun.
“Makanya kalau remaja, pemuda, saya anggap harus ada upaya jemput bola agar mereka mau ngaji. Kalau diajak ngaji melulu di pondok kan mungkin masih ada rasa segan dan sebagainya,” katanya.
Di sisi lain, Gus Ilmi juga tetap memusatkan konsentrasinya mengasuh santriwati di Pesantren Alqusyairi. Ia memang baru mendirikan pesantren itu dua tahun silam. Tepatnya pada awal 2020. Pesantren ini berdiri juga atas dukungan penuh abanya, Kiai M. Hadi Achmad Qusyairi.
“Setelah saya merampungkan kuliah, abah pesan mbah-mbahmu dulu ngajar, jadi kamu juga harus bisa ngajar,” kata alumni UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta itu.
Di samping itu, ia juga mendapat isyarah dari gurunya, Kiai Abdul Hannan Ma’shum, pengasuh Pesantren Fathul Ulum Kwagean Kediri, untuk mendirikan pesantren. Pesan sang guru, pesantren yang dibangun tidak perlu terlalu megah dulu. Cukup dengan dua petak bangunan.
“Maka jadilah satu petak bangunan asrama dan satu lagi yang menjadi tempat tinggal saya bersama keluarga,” ungkap lulusan Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang tersebut.
Pesantren Gus Ilmi memang baru membuka pendidikan untuk santri putri. Masing-masing bisa mengikuti dua program. Yakni, program tahfiz dan qiroatil kutub. Gus Ilmi juga sudah menyusun metode cepat membaca kitab kuning dalam Kitab Al-harokah.
“Tujuannya tentu untuk mempermudah santri membaca kitab kuning. Khususnya nahwu dan sharaf,” bebernya.
Kitab itu disusun dalam waktu setahun. Memang, kata Gus Ilmi, ada beberapa kali revisi selama pembelajaraan dengan metode yang diciptakan. Karena metode apapun dalam dunia pendidikan, memang akan lebih mudah dievaluasi ketika sudah diajarkan.
Dengan metode dalam Kitab Al-harokah, Gus Ilmi menargetkan santrinya lebih mudah membaca dan memahami isi kitab. “Lebih menyerupai modul. Saya lebih banyak membuang istilah-istilah yang rumit dan menggantikan dengan bahasa yang lebih sederhana. Karena secara psikologis, anak terkadang cenderung jenuh bila terlalu banyak definisi,” jelasnya.
Karena itu, ia memilih jurusan psikologi saat mengenyam pendidikan di dunia kampus. Ia mengomparasikan beberapa referensi kitab dengan ilmu psikologi untuk menyusun kitab tersebut. Sementara untuk menunjang program tahfidzul quran, Gus Ilmi menyusun Kitab Al-Alamah. Dalam menyusun kitab itu, juga tidak lepas dari pertimbangan psikologis santri. Terutama berkaitan dengan memori atau ingatan manusia.
“Saya juga terapkan teori short term memory maupun long term memory. Jadi bagaimana supaya hafalan itu bisa cepat dan bertahan lama. Makanya ada beberapa encoding yang saya gunakan,” katanya.
Menariknya, pesantren asuhan Gus Ilmi dibuka secara gratis. Siapa saja bisa nyantri tanpa perlu memikirkan biaya. Sebab, tujuan utamanya mendirikan pesantren memang demi membentuk generasi muda Islam yang berakhlakul karimah dan memuliakan Alquran. Gus Ilmi sendiri, punya usaha jasa desain logo.
“Alhamdulillah kalau untuk keluarga, saya masih bisa mencari rezeki melalui desain logo,” katanya.
Keinginannya menyediakan pendidikan keagamaan gratis sebenarnya sudah diawali pada tahun-tahun pertama menikahi Ning Afiah Nuri Rahmati. Keduanya sempat membuka rumah tahfiz dan kursus baca kitab saat masih tinggal di kontrakan beberapa tahun lalu. Itulah yang kini mereka terapkan di pesantrennya. (muhamad busthomi/rud) Editor : Jawanto Arifin