--
Menunggangi moge (motor gede) bisa menjadi hobi yang asyik. Bisa pula menjadi bagian dari gaya hidup orang-orang yang lebih secara finansial. Mapan. Salah satunya, Hasanuddin. Lelaki asal Dusun Landangan, Desa Penambangan, Kecamatan Pajarakan, itu suka sekali berkendara moge. Di garasinya, berjejer sejumlah moge dengan beragam merek.
Kapasitas mesin besar dan deru suara yang khas merupakan ciri-ciri umum kudabesi cepat tersebut. Harganya, konon, selangit bagi orang kebanyakan. Namun, bagi sebagian orang, banderol ratusan juta untuk moge bukan penghalang untuk menikmati hobi.
”Tetap beli,” ujar Hasanuddin.
Dia mengaku, pada awalnya, suka moge karena sering melihat ayahnya, H Bustami, yang juga hobi motor. Tidak hanya moge. Ayahnya boleh dikata suka segala jenis motor. Termasuk, motor klasik. Bustami gemar mengoleksi motor. Dari yang lawas sampai yang keluaran baru.
Motor-motor itu diparkir di garasi. Saat itu, koleksi orang tuanya sudah beragam. Ada motor BMW, Kawasaki Eliminator 400, dan sebagainya. Orang tuanya suka beli. Anaknya yang mengendarai.
”Mungkin hobi orang tua turun ke saya. Jadi, sejak dulu memang suka naik motor milik orang tua,” ungkap pria 40 tahun tersebut.
Mulanya, Hasanuddin suka melihat-lihat moge milik ayahnya. Sampai pada 1997, dia sudah memiliki Harley Sportster 1200 CC. Moge tersebut menjadi motor pertama yang dia gunakan sampai 1999.
Hobi moge itu terus berlanjut. Sampai pada 2010, dia mulai mengoleksi moge sendiri. Mulai seri Ducati Monster 696, Ducati Monster Diesel 1200, Kawasaki ZX 14 1400 CC, dan sebagainya. Dia bersyukur telah mampu membeli sendiri sepeda motor yang disukai.
”Hasil dari berdagang garam dan menjadi pengacara waktu itu,” kata lawyer yang sering menangani kasus-kasus sengketa di luar negeri tersebut.
Hasanuddin menguasai pengetahuan tentang jenis-jenis moge. Tipe-tipenya dia tahu. Misalnya, naked bike yang biasa dipakai di jalan raya. Kemudian, motor tipe sport, touring, adventure, serta heritage. Sementara, moge yang dimilikinya kebanyakan bertipe sport, touring, dan adventure. Saat ini, di garasinya, ada Honda Goldwing 1800 CC dan ST 1800.
”Motor milik orang tua sebagian juga masih ada di garasi,” tambah pria yang baru-baru ini terpilih menjadi kepala Desa Penambangan, Kecamatan Pajarakan, tersebut.
Senang Touring bersama Komunitas
Hobi berkendara dan mengoleksi moge bukanlah titik akhir passion Hasanuddin. Dia juga gemar kumpul-kumpul dengan komunitas pencinta motor gede lainnya. Dari berbagai kota.
Saat ini, Hasanuddin bergabung dalam komunitas Harley Davidson Club Indonesia (HDCI). Dia juga ikut salah satu komunitas motor empat silinder di Surabaya. ”Senang perkumpulan memang,” ungkapnya.
Lewat komunitas-komunitas itu, koneksi permotoran terbangun. Misalnya, Hasanuddin menginginkan motor tertentu. Banyak kenalan yang punya channel untuk bisa membantunya mencari.
Dia juga gemar melakukan touring ke berbagai daerah. Salah satu daerah yang pernah dijajalnya sebagai pengalaman berkendara moge adalah Bima, Nusa Tenggara Barat. Ke Kalimantan juga pernah. ”Memang, perjalanannya cukup jauh. Namun, kalau dilakukan bersama komunitas, lelahnya terbayar," katanya.
Ratusan Juta sampai Miliaran Rupiah
Untuk hobi koleksi motor, Hasanuddin memiliki passion yang sama dengan orang tuanya. Tidak hanya moge. Di garasi rumahnya, terparkir sejumlah motor selain moge. Ada motor klasik dan jenis-jenis lainnya.
Motor lawas keluaran tahun 1955 ada. Vespa Kongo juga ada. Bagi dia, setiap motor sebenarnya punya nilai keunikan masing-masing. ”Saya suka itu," ucapnya.
Cuma, dalam hal berkendara, Hasanuddin telanjur cinta kepada moge. Sebab, tarikannya saat berkendara sangat bisa dirasakan. Dia mencontohkan Harley, motor dengan dua silinder. Kalau di tikungan dan ditarik, jiwanya benar-benar terasa. Beda lagi dengan moge Honda. Rasanya lebih halus.
”Kalau Ducati tarikannya kencang,” ujarnya.
Kelebihan menunggangi moge, lanjut Hasanuddin, adalah risiko mengalami trouble di tengah jalan sangat minim. Berbeda dengan motor klasik. Biasanya mudah rewel saat dikendarai. Waktu mogok dan di mana tempatnya, tidak ada yang tahu risiko itu.
Hasanuddin mengaku memilih moge sebagai ”kuda tunggangan” karena merasa dirinya tidak sabaran. Susah bila mogok. Tapi, itu tidak berarti juga dirinya tidak suka motor klasik. ”Wong mogok juga ada sensasinya,” ucapnya lantas tergelak.
Bagaimana soal duitnya? Hasanuddin memastikan hobi moge memang cukup menguras kantong. Harga moge miliknya saat ini rata-rata antara Rp 500 juta sampai Rp 600 juta untuk second. ”Barunya Rp 900 juta sampai Rp 1,2 miliar,” ujarnya. (mu/far) Editor : Jawanto Arifin