IWAN ANDRIK, Pasuruan, Radar Bromo
DAUN nangka itu bertumpuk di lantai. Perempuan 29 tahun tersebut kemudian memungutnya satu demi satu. Lalu, melipat masing-masing daun. Ia lantas merekatkan masing-masing daun yang dilipat dengan lidi yang dipotong kecil-kecil.
Sampai terbentuklah ikatan daun memanjang, yang kemudian kedua ujungnya dipertemukan. Hingga jadilah sebuah mahkota.
Praktik membuat mahkota dari daun itu ia tunjukkan pada beberapa anak di depannya. Mereka pun mengikuti apa yang diajarkan Anik Rotul Qori'ah.
"Ini merupakan salah satu cara kami untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari gadget. Yaitu dengan bermain atau membuat permainan tradisional," kata lulusan Universitas Brawijaya Malang tersebut.
Anik mengaku, smartphone dan gadget menjadi barang yang sangat melekat pada anak-anak saat ini. Di mana-mana mudah ditemui anak-anak memegang gadget. Mereka bahkan bisa berjam-jam main dengan gadget. Kondisi tersebut membuatnya prihatin.
"Anak-anak menjadi antipati terhadap lingkungan sekitar. Mereka lebih senang bermain gadget ataupun smartphone yang dipegang. Ini jelas memprihatinkan," ungkap ibu satu anak tersebut.
Ia bahkan pernah menyaksikan ada anak kecil menangis saat smartphone yang dipegang diambil orang tuanya. Bukan hanya menangis. Anak itu menjadi agresif dan marah-marah. Tidak mau smartphone-nya diambil.
"Sejak itulah saya berpikir, bagaimana nasib generasi bangsa kalau kondisinya seperti ini," kisahnya.
Hal itu membuatnya tergerak mengambil peran. Memulihkan kondisi anak agar tidak kecanduan gadget. Caranya, memberikan terapi dan pengalihan permainan dari game-game di gadget atau smartphone ke permainan tradisional.
Terapi menyembuhkan kecanduan anak pada gadget itu disebutnya, Hipno Bapetra. Sudah tiga tahun terakhir Hipno Bapetra ini dijalankannya. Selama itu pula, tidak sedikit anak yang akhirnya terbebas dari kecanduan gadget.
Lulusan Fakultas Ilmu Administras (FIA) Bisnis ini menguraikan, Hipno merupakan pemberian terapi bagi anak-anak dengan memasukan sugesti positif. Sehingga dapat mengurangi kebiasaan mereka berlama-lama bermain gadget. Sementara Bapetra merupakan penjabaran dari Belajar Permainan Tradisional.
Terapi Hipno Bapetra sendiri berarti memberikan sugesti yang menggabungkan aktivitas dalam mengajarkan atau mengajak anak-anak bermain permainan tradisional. Tujuannya untuk merangsang motorik halus dan motorik kasarnya. Sehingga mereka teralihkan dari dunia gadgetnya.
"Ada pembuatan mahkota, ada pula permainan tradisional lain, seperti engrang, tarik tambang, jumpritan, dan yang lainnya," ungkap istri dari Sofian Hadi Mulyono tersebut.
Perempuan yang sempat meraih pemuda pelopor di bidang pendidikan dan kebudayaan tersebut menuturkan, sebenarnya sudah lama ingin menggerakkan anak-anak dalam permainan tradisional. Bahkan, sejak dirinya masih kuliah, sekitar 2013 silam.
Kala itu, ia bersama teman-temannya mendatangi sekolah-sekolah. Mereka mengajarkan permainan tradisional sebagai salah satu ekstrakurikuler.
Semangatnya dalam menjaga kelestarian permainan tradisional terjaga, bahkan sampai ia lulus kuliah. Lalu pada 2016, ia menggagas program Bapetra. Dibantu ibunya, Pairah dan Nur Chasanah Retno Dewi, kakaknya serta Nur Hayati, adiknya, Anik pun merilis buku berjudul Kitab Dolanan Alam pada 2018.
Buku tersebut berisikan tentang permainan alam dan tradisional. Ada kurang lebih 100 permainan yang ditawarkan. Engrang atau jumpritan hanyalah beberapa di antaranya.
Dari situ pula, cikal-bakal Hypno Bapetra dirintisnya. Ia mulai mempratikkan Hipno Bapetra sejak Januari 2020. Hasilnya, tidak sedikit anak yang terbebas dari kecanduan gadget.
Menurut Anik, Hipno Bapetra membutuhkan waktu yang berbeda untuk setiap anak. Tergantung tingkat kecanduannya. Namun, rata-rata anak bisa sembuh dari kecanduan dalam waktu dua pekan, kalau tingkat kecanduannya ringan. Kalau tingkat kecanduannya parah, terapi itu bisa memakan waktu berbulan-bulan.
"Kami membuat tabel dulu untuk mengukur tingkat kecanduan anak. Dari situlah bisa diukur tingkat kecanduannya yang menjadi acuan dalam proses terapi," sambung kelahiran Surabaya, 25 April 1993 tersebut.
Sejak diterapkan, banyak hal menyenangkan didapatnya. Khususnya, ketika berhasil menyembuhkan kecanduan anak dari gadget. Apalagi, program ini juga bisa memberi andil dalam permainan tradisional.
Namun, ada pula hal yang membuatnya sedih. Ketika program yang dijalankan kurang maksimal lantaran faktor internal. "Antara anak dan orang tua dalam menjalankan program kami tidak berjalan dengan kerja sama yang baik. Ini jelas memberi beban mental tersendiri," akunya. (hn) Editor : Jawanto Arifin