RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen, Radar Bromo
SETIAP hari, Akhmad Samudra bekerja di salah satu perusahaan. Bergerak di bidang kelistrikan dan bekerja sama dengan PLN. Dia tinggal di Kelurahan Ledug, Kecamatan Prigen. Warga kampung atau sekitar tinggalnya mengenal lelaki 36 tahun itu sebagai pengasuh dan pemain jaranan Putra Bhakti.
Selain itu, ternyata pria murah senyum yang akrab dipanggil Mad ini memiliki keterampilan kerajinan. Salah satunya, pemahat. Dia menjadi perajin barongan dan ganongan, juga aneka topeng karakter. Bahannya kayu, seperti pule, waru, dan lain-lain.
”Ini kerjaan sambilan di rumah kalau santai. Belajarnya otodidak dulu. Lama-lama bisa,” ucap lulusan SMA ini.
Mulanya Mad membuat kerajinan kayu berupa barongan. Kemudian ganongan. Setelah itu, aneka topeng karakter dibuatnya. Ternyata, kerajinan itu digelutinya sudah lumayan lama. Berjalan selama enam tahun terakhir.
Dia membuatnya dengan cara manual. Pakai alat aneka tata ukir, palu kayu, kapak, pisau ukir, amplas, dan lain-lain. ”Kerjanya lebih sering malamhari di teras rumah,” ujarnya.
Menurut Mad, barongan, ganongan, maupun topeng karakter tergolong sulit dalam pembuatan. Namun, yang paling butuh usaha ekstra adalah barongan. Sekali buat, perlu waktu hingga lima hari, bahkan lebih. Sebab, bentuknya lebih besar. Banyak pahatannya. Harus teliti dan telaten.
Karena sudah menjadi perajin banongan, ganongan, dan topeng karakter selama enam tahun terakhir, di rumah Mad ada puluhan kerajinan buatannya. Dia juga membuat kepala bantengan dari kayu. Jumlahnya baru dua.
”Kalau barongan, ganongan, dan topeng karakter sudah puluhan,” ujarnya.
Meski karya kerajinannya sudah banyak, Mad belum berniat menjualnya. Semua masih dikoleksi sendiri di rumah. Misalnya, dipasang di tembok rumah sebagai hiasan. Sebagian lain dia simpan di gudang. Sebelah barat rumahnya. Tidak sedikit yang diminta saudara, kerabat, dan rekan-rekannya. Beberapa malahdiberikan cuma-cuma kepada orang lain.
”Topeng karakter yang untuk hiasan rumah. Ganongan dan barongan dipakai buat jaranan. Saya asuh bersama keluarga,” tuturnya.
Pada 2018, tepatnya di Ambulu, Kabupaten Jember, jaranan yang diasuhnya mengikuti festival. Penampilan itu memakai barongan buatannya sendiri. Dan, berhasil juara satu. Mad pun semakin bersemangat terus membuat barongan dan ganongan.
Ada barongan ciptaannya yang memakai pakem khas Kabupaten Pasuruan. Yang lain pakai pakem campuran Malangan ataudaerah kulonan. Pakem khas Pasuruan memiliki ciri mata lebih menghadap ke atas. Hidung lebih ramping dan mulut nyungir.
”Pakem khas Pasuruan ini memang beda,” ujarnya. (far) Editor : Jawanto Arifin