Ribuan tanaman pakcoi menghiasi lubang pada puluhan pipa paralon. Tanpa tanah. Hanya mengandalkan media air. Namun, tanaman sayur itu tumbuh subur. Terlihat dari warna daunnya yang hijau segar.
Sebagian sudah besar dan siap dipanen. Sebagian lainnya masih muda. Butuh beberapa pekan lagi untuk bisa dinikmati.
Pemandangan itu terlihat di kebun hidroponik PT Farminesia Sejahtera Indonesia di Kelurahan Kolursari, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Kebun tersebut hanyalah satu dari beberapa green house yang dimiliki Muhammad Hadi Yahya, seorang petani muda. Ia memanfaatkan tanah peninggalan orang tuanya untuk green house bagi tanaman hidroponik.
“Ini salah satu kebun hidroponik yang saya miliki. Selain di sini, ada beberapa tempat yang saya kelola dan bermitra dengan petani,” kata Hadi –sapaannya-.
Hadi memang memilih jalan hidupnya sebagai petani hidroponik. Meski “hanyalah” seorang petani sayur, jangan coba-coba pandang sebelah mata. Karena, omzet yang diperolehnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta per bulan.
Ia tidak hanya memiliki satu green house di Kolursari yang seluar 300 meter persegi. Karena, ia juga memiliki green house di Jakarta dan Surabaya. Sebagian miliknya sendiri. Sebagian milik mitra yang dia kembangkan bersama.
“Ada lima green house milik saya. Lalu, delapan green house bermitra dengan orang. Ada di Surabaya dan Jakarta,” bebernya.
Lelaki kelahiran Bangil, 23 Mei 1994 itu mengaku, tak pernah tebersit di benaknya menjadi petani. Sebab, ia tidak memiliki basic pertanian sama sekali. Apalagi, banyak orang yang menganggap sektor pertanian sebelah mata.
Bahkan, saudara-saudaranya pun memandangnya remeh. Namun, ia yakin bisa mendulang sukses dengan bertani.
“Awalnya memang saya diremehkan oleh saudara-saudara saya. Tapi, sekarang saya membuktikan bisa sukses. Malah, banyak yang bertanya-tanya dan mengikuti jejak saya, bertani hidroponik,” kata lulusan sarjana Hubungan Internasional UIN Jakarta 2017 itu.
Sebelum bertani, jiwa entrepreneur-nya memang terasah. Ia beberapa kali gonta-ganti usaha. Bahkan, ketika kuliah ia sudah bekerja. Menjadi guru privat siswa IT dan bahasa Inggris.
Ia juga pernah menjadi guru setahun lamanya di Jakarta. Hingga akhirnya resign karena menjadi guru menurutnya tak mudah. Terutama dari sisi ekonomi. Maklum, ia hanya diupah Rp 600 ribu sebulan sebagai guru.
“Bayangkan, tinggal di Jakarta dan hanya digaji Rp 600 ribu,” kenangnya.
Hadi muda juga pernah bergelut di tiga usaha sekaligus. Bisnis bata ringan, digital marketing, dan kafe. Sampai akhirnya, ia fokus menekuni bisnis kafe di Jakarta. Karena waktu itu, bisnis kafe lebih menjanjikan.
Kafe miliknya pun selalu ramai. Bahkan, dari bisnis kafe itu ia bisa meraup omzet ratusan juta rupiah per bulan.
“Saya bisa menghidupi 12 karyawan dari bisnis kafe yang saya kembangkan di kawasan Bintaro, Jakarta, sejak 2018,” kisahnya.
Sayangnya, usaha kafe yang tengah berkembang tersebut harus kolap pada 2020. Pandemi Covid-19 menghantam usahanya. Kafe jadi sepi, karena banyak orang takut bepergian.
Omzet kafenya pun anjlok. Semula ratusan juta rupiah, turun drastis hanya ratusan ribu sebulan. Ia pun tak mampu membayar gaji karyawan.
“Bisnis kafe saya gulung tikar. Tidak mampu bertahan,” ungkap bapak dua anak ini.
Merasa putus asa, Hadi akhirnya balik ke Surabaya. Di sana, hidupnya hanya mengandalkan sisa tabungan. Bahkan, dia sempat bingung membangun usaha yang cocok selama pandemi.
Hingga pertengahan tahun 2020, ia berkunjung ke rumah temannya di Kraton, Kabupaten Pasuruan. Di sana, ia melihat temannya bertanam sayur hidroponik.
Dari situlah, ide bertani hidroponik muncul dalam benaknya. Beberapa hal menjadi pertimbangannya. Salah satunya, karena sayur menjadi kebutuhan banyak orang. Usaha tersebut juga tetap bertahan, meski pandemi menyerang.
“Orang kan butuh makan. Selama butuh makan, maka sayur dibutuhkan. Dan mengapa hidroponik, karena biaya perawatannya lebih murah. Memang biaya awal besar. Tapi, selanjutnya jauh lebih murah dibandingkan tanah,” katanya.
Tanaman hidroponik sendiri membutuhkan media utama air. Dan air adalah media paling baik untuk bertanam. Air juga bisa dimanfaatkan berulang-ulang.
Ia pun melakukan uji coba. Tidak langsung menggunakan pipa paralon yang dilubangi. Tetapi, memanfaatkan bak.
Hadi merogoh kocek Rp 700 ribu untuk belanja kebutuhan hidroponik. Mulai membeli bibit, 10 bak, pupuk, dan yang lainnya.
“Mulanya menanam kangkung. Ternyata cukup bagus. Dari situ saya bersemangat membuat kebun hidroponik yang lebih besar,” ulas pria yang sempat bercita-cita menjadi dokter ini.
Tanah peninggalan orang tuanya lantas dia manfaatkan dengan membangun green house. Awalnya, hanya 150 meter persegi. Kemudian dikembangkan menjadi 300 meter persegi. Beberapa lonjor pipa disambung dan dilubangi, hingga membentuk media tanam hidroponik.
Untuk membuat semua itu, Hadi menggelontorkan dana sekitar Rp 70 juta. Selain dari sisa tabungan, modal awal bertani dia dapat dengan menjual motor istrinya.
Semula, usaha yang dijalaninya tak seindah yang dibayangkan. Ia mengalami kegagalan. Tanamannya rusak dan mati. Bahkan, sempat merugi jutaan rupiah.
Namun, ia tak patah arang. Hadi terus belajar dari berbagai referensi. Hingga ia paham, ada banyak hal yang harus dilakukan selama bertanam sistem hidroponik. Termasuk menjaga nutrisi tanaman.
“Sempat gagal juga. Tapi, saya sudah bertekad bisa sukses dari sini,” tuturnya.
Karena kegigihannya itu, pelan tapi pasti usaha pertanian yang dilakoninya berbuah keberhasilan. Tanaman sayur, seperti pakcoi dan sawi tumbuh subur. Tanaman itu pun bisa dipanennya.
Tapi, masalah tidak berhenti di situ. Ia kesulitan memasarkan hasil panennya. “Kalau ditolak pembeli, sudah tak terhitung. Tapi, saya terus gigih untuk memasarkannya,” sambungnya.
Berkat kegigihannya itulah, banyak pembeli yang teredukasi. Ia bisa meyakinkan bahwa sayur yang dijualnya bebas bahan kimiawi. Dari situ, pesanan mulai berdatangan. Mulai dari usaha katering, restoran, dan supermarket di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya.
Berangkat dari situ pula, ia pun mengepakkan sayapnya. Tidak hanya menghasilkan beberapa ton sayur per bulan dari 15 ribu lubang tanam yang dimiliki. Tetapi, juga merambah bisnis penunjang. Mulai alat-alat hidroponik hingga pembangunan green house. Dari situlah setidaknya Rp 120 juta bisa diraupnya per bulan.
“Awal-awalnya memang berat. Bahkan, green house saya pernah dibakar oleh orang tak bertanggung jawab. Entah karena apa. Tapi, Alhamdulilah sekarang berkembang. Bahkan, saya sampai kewalahan memenuhi pesanan,” timpalnya. (one/hn) Editor : Jawanto Arifin