RIZKY PUTRA DINASTI, Kademangan, Radar Bromo
SEJUMLAH pemuda terlihat sibuk dengan sejumlah alat musik di Jalan Abdurrahman Wahid, Kota Probolinggo. Salah satunya angklung. Alunan alat musik asal Jawa Barat, itu pun mengalihkan perhatian para pengendara yang menunggu lampu merah, Senin (20/9).
Sekelompok pemuda itu begitu terlihat lihai memainkan angklung yang dipadukan dengan sejumlah alat musim tradisional lain. Sementara, ada tiga pemuda yang siap menghampir para pengendara yang bersedia memberikan duit atas aksi seni yang mereka lakukan.
Ya, mereka mengamen dengan menampilkan keahlian bermain alat musim tradisional. Seperti, angklung, gambang, kendang, dan simbal. Kebutuhan hidup mendorong mereka turun ke jalanan.
Bukan sekadar mengamen. Mereka juga bertekad mengenalkan dan mengajarkan cara bermain angklung kepada masyarakat. Terutama kepada sesama pengamen jalanan.
Harapannya, alat musik yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, itu semakin diminati. Di samping itu, ketika anak jalanan mengamen tidak hanya memainkan ketipung atau bahkan hanya bermodalkan tangan dengan cara keplok-keplok.
“Jika pengendara disuguhkan dengan sajian yang menarik, pengendara merasa puas. Serta tak ragu memberikan Rp 2.000 hingga Rp 5.000,” ujar salah seorang dari mereka, Rendi Agustriawan, 29.
Pemuda asal Jember itu mengatakan, sudah tiga tahun berkeliling ke sejumlah daerah untuk mengenalkan angklung. Awalnya, ia mengaku membawa angklung dengan tujuan mengenalkan kepada para pengamen jalanan.
Karenanya, kini ada empat anak jalanan yang ikut bersamanya. Mereka kini bisa dikatakan piawai bermain angklung. Di antaranya, Mustakin, 17; Rizal Fandi, 28; dan Taufik Husain, 19. Mereka sama-sama warga Kabupaten Lumajang. Serta, satu lagi pemuda asal Jember, Yanto, 23.
“Tujuan kami sebetulnya mengenalkan dan mengajar anak jalanan atau pengamen jalanan bermain angklung. Sehingga mereka bisa ngamen seperti kami. Jika ngamen hanya pakai tangan dan okulele, kurang menarik,” ujarnya.
Dengan tampil berbeda dan kreatif, yang mendengarkan akan merasa terhibur. Sehingga tak akan segan mengeluarkan duit sebagai imbalan.
“Dengan mengamen seperti ini, selain tidak membahayakan karena ada di tepi jalan, juga lebih kreatif. Sehingga tujuan saya mengenalkan dan mengajarkan alat musik anglung terpenuhi. Termasuk mendapatkan uang dari hasil ngamen itu sendiri,” bebernya.
Meski bermodalkan sejumlah alat musik tradisional, Rendi dkk mampu memainkan sejumlah jenis musik. Baik pop, koplo, dan dangdut. Katanya, tiga jenis musik itulah yang selama ini banyak diminati. “Tak jarang juga ada yang request,” ujarnya.
Sesuai dengan namanya, hunter, Rendi mengaku akan terus berkeliling ke sejumlah daerah. Memburu pengamen jalanan. Namun, bukan untuk ditangkap, apalagi diajak tawuran. Tetapi, akan diajak berbagi cara bermain angklung.
“Daripada ngamen dengan alat lain di tengah jalan dan mengganggu arus lalu lintas, mending seperti kami. Ngamen di pinggir jalan dan tidak mengganggu pengendara. Teman-teman kami semuanya pengamen jalanan,” jelasnya.
Rendi mengaku belajar bermain angklung di Jogjakarta. Pada 2014 silam ia meninggalkan Jember. Hijrah ke Jogjakarta. Ia belajar bermain angklung dan mengamen di Jalan Malioboro. “Kami belajar otodidak di Jogjakarta. Tahun 2017 saya balik ke Jember,” ujarnya.
Setelah memiliki dana, Rendi membeli satu unit angklung toel. Berikut kendang dan drum. Ia mengajak rekan-rekannya, pengamen jalanan asal Jember dan Lumajang. Setelah seluruh personelnya mahir dan hafal sejumlah lagu, mereka memberanikan diri keluar dari kampung halamannya.
Kini, ada sejumlah daerah yang menjadi tujuannya. Di antaranya, Lumajang, Kota Probolinggo, dan Pasuruan. Serta, juga berencana ke Bondowoso. “Karena kami tidak menetap, jadi belum perlu ngontrak. Kami di Kota Probolinggo hanya 4 hari. Lalu, ke Pasuruan, Bangil, dan Bondowoso,” ujarnya. (rud) Editor : Jawanto Arifin