Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kesibukan Relawan Bencana Bantu Korban Banjir Dringu

Jawanto Arifin • Sabtu, 13 Maret 2021 | 17:00 WIB
BERSIH-BERSIH: Warga dan relawan tengah bersih-bersih selokan saluran air di jalan kabupaten Desa Dringu. (Arif Mashudi/Radar Bromo)
BERSIH-BERSIH: Warga dan relawan tengah bersih-bersih selokan saluran air di jalan kabupaten Desa Dringu. (Arif Mashudi/Radar Bromo)
Sejak banjir di Kecamatan Dringu terjadi, ratusan relawan bencana berdatangan ke lokasi terdampak banjir. Keberadaan mereka sangat membantu karena terlibat dalam banyak hal. Mulai evakuasi, sampai membersihkan lumpur sisa banjir.

ARIF MASHUDI, Dringu, Radar Bromo

AKSES jalan kabupaten di Desa Dringu dan Kedungdalem di Kecamatan Dringu belum pulih. Warga korban banjir pun terus bersih-bersih akses jalan tersebut.

Di antara warga Dringu, bergabung juga para relawan bencana untuk kerja bakti bersih-bersih. Jumlah mereka bahkan mencapai ratusan.

Mereka pun berasal dari beragam latar belakang. Mulai pelajar, masyarakat umum, juga komunitas dari Probolinggo dan luar daerah. Seperti Jaringan Solidaritas Kemanusian (Jausan) Malang dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Relawan masyarakat umum misalnya, warga dari RT 06/RW 3, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Mereka datang ke lokasi bencana dan membantu proses bersih-bersih di rumah korban banjir.

Ada juga relawan dari PMI Kabupaten Probolinggo. Jauhari, koordinator relawan dari PMI Kabupaten Probolinggo mengatakan, pascabanjir Dringu, dirinya bersama relawan lainnya langsung turun ke lokasi. Mereka membantu evakuasi saat banjir terjadi, juga penanganan pascabencana banjir.

”Ada 15 orang relawan dari PMI (kabupaten) yang turun untuk membantu di lokasi banjir ini,” ujarnya.

Dua hari terakhir ini, dirinya bersama relawan lainnya fokus membantu membersihkan akses jalan yang tertutup lumpur tebal. Setelah pembersihan jalan selesai, mereka akan membantu membersihkan rumah warga yang terdampak banjir.

”Saat banjir terjadi, kami ikut bantu evakuasi juga. Mobil ambulans PMI pun dikerahkan untuk proses evakuasi,” terangnya.

Saat ini yang paling berat adalah membersihkan lumpur sisa banjir. Sebab tidak hanya jalanan yang tertutup lumpur. Rumah warga korban banjir pun dipenuhi lumpur.

Warga sendiri membuang lumpur dari rumahnya ke depan rumahnya atau ke pinggir jalan. Karena itu, lumpur di jalanan makin menumpuk. Bahkan, sepanjang tepi jalan dipenuhi tumpukan lumpur.

”Tidak hanya jalan, saluran (selokan) jalannya air tertutup lumpur banjir. Jadi tidak ada air. Proses pembersihan makin sulit juga, kalau masih digenangi air sisa banjir,” ujarnya.

Selain PMI Kabupaten Probolinggo juga ada relawan dari Brigadir Pebolong (BP) 13-13 kwartir Pramuka cabang Probolinggo. Salah satu anggotanya yang menarik perhatian adalah Sriyadi, 37, warga Desa Sumberbendo, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Sriyadi yang memiliki tinggi badan 175 sentimeter itu, sangat bersemangat membantu evakuasi korban saat banjir tinggi. ”Mulai banjir pertama terjadi, kami sudah turun ke lokasi membantu evakuasi korban banjir,” ujarnya.

Selain Sriyadi, ada banyak anggota Pramuka yang menjadi relawan saat bencana banjir terjadi. Terutama saat banjir melanda, banyak anggota Pramuka turun tangan.

Sriyadi sendiri banyak terlibat dalam evakuasi korban banjir. Dia bahkan tak segan menggendong korban banjir yang tak kuat berjalan.

Prioritasnya yaitu korban banjir lanjut usia (lansia) dan anak-anak. Bagi lansia dan anak-anak, proses evakuasi langsung digendong.

Sriyadi tidak sendiri tentu saja. Jika Sriyadi bertugas menggendong korban banjir, di depannya ada relawan lain yang bertugas membantunya menjadi penunjuk jalan. Lalu di belakangnya, relawan lain berjaga untuk antisipasi saat jatuh.

”Saya menggendong korban yang dievakuasi, lalu ada relawan lain di depan sebagai pengarah jalan dan memastikan jalan tidak berlubang. Kemudian, di belakang juga ada relawan yang jaga untuk mengantisipasi korban jatuh saat digendong,” ungkapnya.

Meski demikian, tidak semua warga korban banjir bersedia dievakuasi. Tidak sedikit korban banjir yang berusaha bertahan di rumahnya. Padahal, air banjir sudah tinggi dan diperkirakan terus naik. Karena itu, dirinya harus tetap sabar dan memberikan pemahaman pada warga agar bersedia dievakuasi.

“Evakuasi paling berat itu saat berada di Desa Dringu. Tinggi air sampai dada saya. Padahal, tinggi saya 175 sentimeter,” terangnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#relawan bencana #banjir probolinggo #pemkab probolinggo #btt apbn #banjir dringu #pemprov jatim