Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Pemuda Probolinggo Bertinggi 1,99 Meter; Ukuran Baju Langka

Jawanto Arifin • Selasa, 19 Januari 2021 | 15:00 WIB
JANGKUNG: Lukman Hakim Pratama bersama orang tuanya, Mustakim dan Amamik. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)
JANGKUNG: Lukman Hakim Pratama bersama orang tuanya, Mustakim dan Amamik. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)
Memiliki tinggi badan di atas rata-rata orang Indonesia, kerap menjadi pusat perhatian masyarakat. Hal ini yang dirasakan Lukman Hakim Pratama, 24, warga Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

RIDHOWATI SAPUTRI, Mayangan, Radar Bromo

LUKMAN Hakim Pratama, terlihat menundukkan kepalanya ketika hendak keluar atau masuk rumahnya dari pintu utama. Bukan karena apa, ia khawatir kepalanya kejedot kusen pintu yang tingginya hanya sekitar 2 meter.

Maklum, pria 24 tahun warga Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, itu memiliki tinggi badan tak biasa. Tingginya, hampir sama dengan tinggi pintu di rumahnya, 1,99 meter.

Memiliki tinggi badan di atas rata-rata tinggi pria dewasa Indonesia, tidak membuat Lukman canggung maupun tidak percaya diri. Bahkan, ia mengaku bersyukur karena banyak kemudahan yang diperolehnya. Seperti bisa mengambil barang yang lebih tinggi, ketika orang lain tak bisa melakukannya.

Namun, ada juga kesulitan yang dihadapinya. Salah satunya tidak bisa bebas membeli pakaian di pertokoan. Terutama untuk ukuran celana dan jaket. Karenanya, Lukman memilik membeli kain dan menjahitkannya. “Kesulitannya tidak bisa bebas membeli baju di pertokoan. Ada celana jins ukuran orang luar negeri juga masih cingkrang,” ujarnya.

Tidak kehabisan akal, Lukman kerap melihat koleksi pakaian yang sedang tren. Kemudian, memilih mendatangi penjahit untuk membuat pakaian yang diinginkan. “Kalau untuk kaus masih bisa beli, tapi untuk celana dan jaket harus jahit sendiri,” ujarnya.

Sisi positif yang dirasakan didapat dari tubuhnya yang jangkung. Dia lebih mudah mengambil barang yang berada di posisi atas tanpa bantuan alat seperti tangga. “Kalau ambil barang yang posisinya di atas, bisa langsung ambil saja,” ujarnya, tersenyum.

Lukman juga pernah mencoba mendaftar menjadi anggota polisi dengan badannya yang jangkung. Namun, tidak lolos karena tidak berimbang dengan berat badannya. “Kalau dari tingginya memenuhi syarat, cuma berat badannya yang tidak lolos,” ujarnya.

Dalam keluarganya, putra pertama pasangan Mustakim, 52 dan Amamik, 50, bukan satu-satunya yang memiliki tubuh jangkung. Adiknya, Muhammad Ghozi Algifari, 18, juga jangkung. Ia memiliki tinggi badan sekitar 1,9 meter. “Keturunan keluarga memang tinggi-tinggi,” ujarnya.

Namun kemarin saat ditemui di rumahnya, sang adik sedang tidak ada di rumah. Lukman hanya ditemani kedua orang tuanya, Mustakin dan Amamik. “Dari keluarga memang rata-rata tinggi. Dari buyut saya yang masih berdarah Arab juga tinggi, tapi kalau tinggi badannya berapa, kami tidak tahu karena sudah meninggal lama,” ujar Mustakim.

Mustakim memiliki tinggi 1,75 meter. Masih lebih tinggi dari badan rata-rata pria dewasa Indonesia yang hanya 1,68 meter. Sedangkan, Amamik, memiliki tinggi 1,65 meter. Sedangkan, tinggi rata-rata wanita dewasa 1,59 meter. “Dari keluarga saya memang sudah tinggi,” ujar Amamik.

Dari pengamatan kedua orang tuanya, tinggi Lukman berkembang pesat saat masih SMP. Sebelumnya, ia memiliki tinggi badan yang hampir sama dengan teman-temannya. “Saat SMA dia juga aktif basket. Termasuk dalam anggota tim basket di sekolahnya,” ujar Amamik. (rud) Editor : Jawanto Arifin
#pemuda tinggi #tubuh jangkung #pemuda tinggi probolinggo