------------------
Beberapa remaja sedang melukis gambar sebuah kartun kucing di atas kanvas berukuran 3x4 meter. Dengan penuh kehatian-hatian, mereka menggoreskan pensil pada bidang bertekstur kasar itu. Tak lama kemudian, gambar kartun seekor kucing berwarna kuning yang dikenal sebagai Garfield terbentuk.
Tak sampai di situ, mereka lantas kembali menggoreskan cat lukis pada bidang kanvas itu. Warna dibuat mendetail agar sebisa mungkin mirip dengan aslinya. Sekitar 30 menit berselang, gambar lukisan itu pun jadi dan didiamkan agar mengering. Begitulah keseharian dari anggota "2.5 Dimensi".
"Kami garap pesanan dari salah satu pelanggan yang ingin agar dibuatkan patch kartun. Patch ini mau ditempelkan ke topinya. Tadi kami sempat browsing di internet agar bisa dibuat semirip mungkin," ungkap Samsul Hadi, membuka obrolan.
Samsul menjelaskan, awalnya mereka bekerja di kafe untuk menambah uang saku. Namun, karena adanya pandemi Covid-19 membuat kafe sepi. Mereka pun memutuskan keluar. Saat itulah mereka memiliki ide untuk memanfaatkan keahlian melukis yang dimiliki. Kebetulan mereka memiliki kanvas bekas yang tidak dimanfaatkan.
Akhirnya dibentuklah 2.5 Dimensi pada awal Ramadan, sekitar awal Mei lalu. Saat pertama kali terbentuk, 2.5 Dimensi berkonsentrasi membuat patch lukis untuk custom pada bahan denim. Mulai dari celana hingga jaket. Hasil karya mereka pun ditawarkan pada teman dan dipasarkan dari mulut ke mulut.
"Ternyata banyak yang menyambut positif. Dari awalnya cuma buat denim saja, berkembang untuk sepatu, kaus, hingga tas. Untuk melukisnya, kami pakai cat akrilik dan tekstil dan kami terima pesanan apapun," jelas Samsul.
Samsul menerangkan, gambar dan desain yang dipesan bisa diambil dari kartun, foto atau gambar yang diunduh melalui internet. Misalnya Garfield, Shinchan, kucing, hingga lukisan Monalisa.
Untuk satu gambar ini dibutuhkan proses pengerjaan hingga 30 menit. Dan yang paling lama adalah menunggu gambar itu mengering. Namun, ini bergantung pada kerumitan desain.
"Selama ini yang paling lama itu hingga dua jam. Waktu itu kami pernah diminta menggambar kucing kesayangannya untuk di jadiin patch. Ada pula yang meminta foto dirinya untuk dijadiin patch," terangnya.
Anggota 2.5 Dimensi lainnya, Sihabudin menambahkan, pelanggan yang memesan patch karya mereka kebanyakan warga Kota Pasuruan. Tak hanya dipasarkan dari mulut ke mulut saja. Namun, mereka juga menggunakan aplikasi Instagram hingga melapak di kafe di Kota Pasuruan agar lebih dikenal luas.
Tata cara pembuatan patch ini adalah dengan membuat sketsa menggunakan pensil di atas kanvas. Selanjutnya, gambar ini dipoles menggunakan cat akrilik dengan diberi lapisan pelapis spray clear. Setelah itu, digunting dan dikeringkan. Kalau sudah kering, patch ini bisa ditempelkan di barang yang diinginkan.
"Ada tiga orang dalam 2.5 Dimensi. Yakni, Samsul Hadi, Tenry Latanre, dan Sihabudin. Ke depannya kami ingin memperbaiki bahan dan kualitas," tuturnya. (riz/fun) Editor : Jawanto Arifin