---------------
Palu kayu di tangan kanannya, tak berhenti menghantam tatah yang dia pegang di tangan kiri. Dengan penuh hati-hati, Ripin mengukir balok kayu waru itu sesuai sketsa yang telah ia gambar sebelumnya.
Butuh waktu lama, hingga memakan waktu berhari-hari agar sketsa yang dibuatnya terukir dengan sempurna. Selanjutnya, tinggal menyelesaikan tahapan berikutnya. Yakni, pengamplasan agar rapi serta pengecatan dan pemasangan aksesori penunjang. Seperti pemasangan rambut yang terbuat dari ekor kuda.
Itulah aktivitas Ripin, 37. Pelatih seni jaranan itu memang juga seorang pembuat kerajinan topeng barongan. Saat wartawan Jawa Pos Radar Bromo ke rumahnya, dia sedang membuat satu unit barongan. Proses pembuatannya bisa memakan waktu sebulan. Dan itu dikerjakan sendiri oleh Ripin.
Ia mengakui, waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu topeng barongan memang lama. Karena detailnya harus rapi. Serta pembuatannya harus hati-hati. Belum lagi, ketika harus mencari bahan aksesori penunjang. Seperti ekor kuda asli ataupun tanduk rusa.
Itu yang kemudian membuat pengerjaan topeng barongan lama. Dan tentunya, harga jualnya tinggi. Bisa sampai Rp 2,5 juta hingga Rp 6 juta per unitnya.
"Harganya relatif mahal karena bahan bakunya tidak mudah didapat. Dan pembuatannya tidak mudah dilakukan," jelasnya.
Bapak tiga anak ini menguraikan, kreativitasnya dalam membuat topeng barongan, sejatinya sudah terasah sejak ia masih SMP. Ketika itu, ia merasa sakit hati lantaran topeng barongan pesanannya tak kunjung jadi. Padahal, ia membutuhkan untuk pementasan jaranan.
"Saya bolak-balik ke tukang pembuat barongan, tapi pesanan saya tidak jadi-jadi. Saya sakit hati. Dan bertekad untuk membuat sendiri," kenang lelaki kelahiran 30 Januari 1986 ini.
Ia akhirnya belajar membuat topeng barongan atau jepaplok itu secara otodidak. Berbekal keseringannya melihat pembuatan kerajinan ukir barongan, ia lantas praktik di rumahnya. Namun, tidak mudah. Ia beberapa kali mengalami kegagalan. Karena topeng yang ia buat, tidak presisi. "Tapi, saya tidak menyerah. Saya buat lagi dan lagi," kisahnya.
Siapa sangka, kegigihannya itu berbuah. Barongan yang ia buat, akhirnya jadi sesuai dengan keinginan. Sejak itu, ia pun mulai getol membuat barongan hingga sekarang ini.
Beragam model barongan ia buat. Seperti model kucingan, naga, devil, dan yang lainnya. Tidak sekadar untuk dirinya sendiri. Selain untuk hiasan, juga sebagian ia jual.
"Kalau untuk penjualan, tergantung pesanan," imbuh dia yang saat kecil ikut tim jaranan Kuda Taruna Jati di Malang tersebut.
Kreasinya banyak dikenal lantaran ia kerap mengikuti pementasan jaranan. Pesanan pembuatan barongan pun datang mengalir. Tidak hanya di Malang, tetapi juga Surabaya, Bogor, hingga Jakarta.
Bahkan, produknya pernah tembus Australia. Ketika tim pentas jaranannya tampil di Melbourne, Australia, tahun 2008.
"Tapi, saya tidak bisa ikut tampil karena sedang pindahan ke Pasuruan. Tim saya yang ke sana. Di sana, produk saya terjual dua unit," sampainya.
Menurut Ripin, pesanan barongan yang datang kepadanya sebenarnya banyak. Bisa sampai empat unit sebulan. Namun, ia hanya mampu membuatnya maksimal dua unit.
"Saya sesuaikan kemampuan untuk menjaga kualitas produk. Kalau pesanan sebenarnya banyak. Tapi, mampunya mentok hanya dua unit. Jadi, yang lain masuk list," sambung lelaki yang pernah jualan nasi goreng ini.
Menjadi perajin barongan, tidaklah semudah yang dibayangkan. Terutama untuk mencari bahan aksesori. Ia pernah menginap selama berhari-hari di daerah lain demi mendapatkan bahan yang dibutuhkan.
Seperti ketika mencari ekor kuda. Ia harus pergi ke Lumajang, Malang, hingga Lombok. Biasanya ia harus menginap hingga berhari-hari baru bisa mendapatkan barang yang dibutuhkan.
"Tapi yang jelas, menjadi perajin barongan banyak senangnya. Selain karena memang berkaitan dengan hobi, juga merupakan upaya untuk menjaga warisan budaya negeri ini," ucapnya menutup pembicaraan. (one/fun) Editor : Jawanto Arifin