-------------
Matahari tepat berada di atas kepala, pertanda waktu sudah menunjukkan siang hari. Walau cukup terik, itu tidak menyurutkan sejumlah warga desa untuk berdatangan ke balai Desa Bimo di Kecamatan Pakuniran, Rabu (27/5). Saat itu di balai desa memang sedang digelar pemberian Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD).
Selang sehari kemudian, yakni Kamis (28/5), ada tiga warga desa setempat yang tengah mengembalikan bantuan. Ketiga warga tersebut datang secara bergantian sembari membawa materai 6.000. Mereka datang menemui pemerintah desa untuk membuat surat pernyataan menolak menerima bantuan.
Penolakan tersebut rupanya dilakukan dengan keikhlasan hati dan kerendahan hati. Alasan ketiganya mengembalikan karena mereka memberikan kesempatan kepada warga yang lebih membutuhkan.
Ketiga warga itu adalah Sri Wahyuni, 40, warga di RT 3/ RW 2 dan Yuli Astutik, 24, warga RT 2/ RW 4. Keduanya adalah warga Dusun Krajan. Satu warga lagi adalah Aprilla Rosindi, 25, warga Dusun Pasar, RT 5/RW 3. Kontan saja kabar pengembalian tersebut langsung tersebar. Karena apa yang dilakukan mereka, sungguh berbeda dengan orang-orang kebanyakan.
Jika melihat kondisi ketiganya, sebenarnya ketiga warga tersebut juga bukan orang berada. Seperti Sri Wahyuni misalnya. Saat ditemui di kediamannya, tampak dia sedang berada di dalam toko kelontong dan sedang melayani pembeli yang datang.
“Setiap harinya memang menjaga toko milik sendiri. Kalau dibilang usaha saya tidak terimbas pandemi korona ini, bohong. Sebab, sejak beberapa bulan yang lalu, pendapatan saya menurun. Orang yang berbelanja sudah mulai sedikit. Tapi, untuk bantuan BLT DD memang sengaja saya kembalikan,” ujar wanita yang memiliki dua anak tersebut.
Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo Senin (1/6), menurut Sri Wahyuni, agaknya sedikit naif saat ada orang terdampak bencana tidak membutuhkan bantuan. Namun, ia mengatakan, dengan keadan saat ini, dirinya masih dapat mengandalkan usaha dan suaminya yang bekerja sebagai petani.
“Saat dilakukan pendataan, saya kira warga lain sudah terdata semua dan mendapatkan bantuan. Ternyata pada waktu pengambilan, masih banyak warga yang lebih layak daripada saya belum mendapatkan. Kalau ditanyakan saya menolak karena tidak mau, bohong. Siapa yang tidak mau dibantu saat masa-masa seperti ini,” ujarnya.
Senada dengan itu, Aprilla Rosindi, 25, warga Dusun Pasar, RT 5/RW 3 yang baru memiliki anak berumur sekitar dua bulan ini juga beralasan sama. Sebelum dia mengembalikan bantuan, di malam harinya Aprilia berkonsultasi kepada bapaknya.
“Bapak, saya kok bisa dapat bantuan BLT DD. Padahal, masih banyak warga yang lebih membutuhkan. Biar untuk kebutuhan pada masa pandemi ini saya mau usaha bersama suami agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Marzuki, 46, menirukan ucapan anaknya, Aprilia pada malam itu.
Kerendahan hati dan sifat suka memberi Aprilia memang sudah sering tampak dalam kesehariannya. Menurut Marzuki, mungkin hal tersebutlah yang menjadi alasan Aprilia untuk mengembalikan bantuan itu.
“Pada masa Lebaran ini saja, sering anak saya memberi uang kepada saudara-saudaranya. Sikap seperti itu memang kokoh terbangun dari suaminya yang memiliki prinsip yang sama. Yakni, lebih baik memberi dari pada menerima. Sehingga, anak saya berharap bantuan yang dikembalikan itu dapat disalurkan kepada orang yang lebih membutuhkan,” ujarnya.
Marzuki merasa sangat bangga dengan apa yang dilakukan anaknya. Padahal, saat ini usia pernikahannya dengan Fawaidul Ahkam, 30, suami Aprilia, sudah beranjak dua tahun. Usia rumah tangga yang sebenarnya juga membutuhkan banyak-banyaknya uang. Apalagi kini Aprilia juga memiliki buah hati.
“Saya sendiri memiliki usaha mebel. Namun, untuk urusan rumah tangga, saya dan anak saya sudah pisah. Meski satu rumah, mereka mencukupi kebutuhanya sendiri. Menantu saya kan jadi satpam di salah satu perusahaan. Ya, hanya itu saja pendapatannya, jadi saya bangga sama mereka berdua,” ujarnya.
Keberhasilan menumbuhkan rasa rendah hati dan keikhlasan juga dirasakan Suati, 70, yang tidak lain adalah mertua dari Yuli Astutik, 24, warga RT 2/ RW 4. Dia juga mengembalikan bantuan BLT DD. Suati mengungkap, menantunya dan Husnan, 26, anaknya, saat ini masih belum memiliki apa-apa. Bahkan, rumah yang disinggahi mereka saat ini juga numpang ke saudaranya.
Tapi, Suati sangat bangga dengan merasa berhasil mendidik anaknya yang menjadi imam dalam rumah tangganya sendiri. “Tidak apa-apa meski keadaan mereka masih seperti ini, tidak memiliki apa. Namun yang jelas, saat mereka memutuskan untuk mengembalikan bantuan itu sangat terasa. Sebab, kekayaan hati mereka sangat luar biasa. Seperti yang terus diajarkan dalam berbuat kebaikan,” ujarnya sembari menghela napasnya.
Suati mengatakan, pendapatan sehari-hari anaknya tidak lain hanya menjual telur eceran milik Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) setempat. Penghasilan yang didapati tidak seberapa dan tak jarang harus mencari usaha sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Pendapatan sehari-hari tak menentu. Namun, saya selalu mengatakan kepada anak saya agar tidak lupa untuk selalu menebarkan kebaikan dan terus membantu orang yang membutuhkan. Mungkin dari ajaran yang diberikan itulah menjadi alasan anak saya mengembalikan bantuan itu,” ujarnya. (mg1/fun) Editor : Jawanto Arifin