Merasa Tak Layak, 3 Warga Bimo Pakuniran Kembalikan Bantuan BLT DD

TOLAK: Camat Pakuniran Hari Pribadi (kiri) bersama Yuli Astutik (tengah) dan suaminya (kanan) saat mengisi surat pernyataan menolak bantuan BLT DD. (Kecamatan Pakuniran for Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PAKUNIRAN, Radar Bromo –Sikap tiga warga Desa Bimo, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, ini layak diapresiasi. Mereka dengan legawa mengembalikan bantuan dari pemerintah karena merasa tidak layak menerima.

Dua di antaranya warga Dusun Krajan. Yaitu, Sri Wahyuni, 40, tinggal di RT 3/ RW 2 dan Yuli Astutik, 24, warga RT 2/ RW 4. Yang ketiga yaitu Aprilla Rosindi, 25, warga Dusun Pasar, RT 5/RW 3.

Mereka tercatat sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD). Besarnya Rp 600 ribu per bulan yang diberikan selama tiga bulan. Bantuan itu diberikan kepada warga terdampak pandemi Covid-19.

Pencairan BLT DD itu sendiri, dilakukan pada Rabu (27/5) di kantor Desa Bimo. Dan keesokannya atau Kamis (28/5), ketiganya mengembalikan bantuan berupa uang itu ke rumah sekretaris desa.

Mereka secara bergantian mengembalikan bantuan tersebut. Awalnya, yang mengembalikan Sri Wayuni. Kemudian, Yuli Astutik dan diikuti Aprilia Rosindi.

Penjabat (Pj) Kepala Desa Bimo Rasidi menjelaskan, sesuai aturan yang ada, warga yang mengembalikan bantuan harus membuat surat pernyataan. Surat pernyataan itu ditandatangani kepala desa, warga yang menolak bantuan, dan bermaterai.

Dengan cepat, pengembalian bantuan oleh ketiga warga itu menyebar se-Kecamatan Pakuniran. Sabtu (30/5), Camat Pakuniran Hari Pribadi sampai mendatangi tiga warganya itu ke rumah masing-masing.

Hari datang dengan ditemani Rasidi. Tujuannya, memastikan kebenaran informasi tentang pengembalian bantuan oleh ketiga warganya. Juga untuk memastikan bahwa pengembalian bantuan itu dilakukan dengan sukarela, tidak ada paksaan dari siapapun.

Rasidi pun menegaskan, pengembalian bantuan oleh tiga warganya itu tidak ada unsur paksaan. Ketiganya mengaku secara sadar mengembalikan bantuan tersebut.

“Setelah kami datangi, ketiganya mengaku memang ingin mengembalikan bantuan yang telah diberikan. Alasan mereka sama. Secara ekonomi, mereka masih mampu bertahan pada masa pandemi korona ini. Sehingga, mereka meminta kepada kami untuk memberikan bantuan itu kepada warga lain yang memang membutuhkan,” ujarnya, Minggu (31/5).

Lebih lanjut Rasidi menjelaskan, pencairan BLT DD dilakukan saat tahap kedua pencairan Dana Desa (DD) dilakukan. Desa menurutnya, menyiapkan 30 persen atau sekitar Rp 320 juta lebih anggaran DD untuk BLT DD.

Terhitung ada 178 penerima BLT DD. Bantuan tersebut menurutnya diberikan kepada warga yang belum pernah menerima bantuan jenis apapun. Seperti bantuan PKH, BPNT, ataupun BTS dari Kementerian Sosial.

“Untuk pendataan warga penerima BLT DD, kami menerjunkan semua pihak yang ada di desa. Terutama RT/RW dan relawan Covid,” terangnya.

Berdasarkan data yang ada, ketiga warga itu memang belum pernah menerima bantuan jenis apapun. Selain itu, pendataan ketiga warga itu juga sudah melalui beberapa tahap seleksi. Hingga akhirnya mereka ditetapkan sebagai penerima.

Meski begitu, pengembalian BLT DD dari ketiga warganya itu disambut baik oleh Rasidi. Menurutnya, memang masih banyak warga yang membutuhkan.

“Yang lebih membutuhkan masih banyak. Sebab, yang terdampak Covid-19 ini kan semua warga. Jadi, saya mengapresiasi warga yang dengan sadar memberi kesempatan bagi warga lain agar mendapatkan bantuan ini,” ujarnya.

Camat Pakuniran Hari Pribadi pun menyatakan kagum dengan kebesaran hati ketiga warganya itu. Sebab, saat kebanyakan orang ingin mendapat bantuan, ada warganya yang malah mengembalikan bantuan.

“Kami sudah datangi ketiganya. Dan dengan hati lapang mereka mengembalikan bantuan tersebut. Dan sesuai dengan peraturan yang ada, pemerintah desa melakukan musyawarah untuk menetapkan kepada siapa bantuan itu akan dialihkan,” tegasnya. (mg1/hn)