Tak banyak yang percaya bahwa dari aroma busuk yang menusuk hidung, bisa lahir harapan bagi kesuburan tanah dan kesehatan kampung. Inilah yang dilakukan Komunitas Alam Hijau di Desa Sebaung, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Tumpukan sampah yang dulu dipandang sebagai sumber masalah, kini menjadi titik tolak perubahan.
ACHMAD ARIANTO, Gending, Radar Bromo
Persoalan sampah memang seperti lingkaran tak berujung. Setiap hari jumlahnya bertambah, sementara kesadaran untuk mengelola belum sepenuhnya tumbuh.
Di sudut-sudut permukiman, sampah organik berserakan. Membusuk, mengundang lalat, dan berpotensi memicu penyakit.
Kondisi itulah yang menggerakkan sekelompok pemuda Desa Sebaung, Kecaman Gending, membentuk Komunitas Alam Hijau pada 2018.
Tekad mereka satu, menjaga keberlangsungan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang.
Bagi Ketua Alam Hijau Mohammad Taufik, 46, keresahan adalah awal dari langkah panjang. Ia dan 21 anggota lainnya tak ingin hanya mengeluh melihat lingkungan yang kian tak terawat. Mereka memilih turun tangan.
“Komunitas ini berdiri sebagai wujud keprihatinan terhadap lingkungan yang tidak terjaga. Kalau tidak ada yang peduli, maka lingkungan akan rusak,” kata Taufik saat ditemui.
Setiap hari, mereka mengangkut sampah dari seluruh dusun di Desa Sebaung. Secara berkala, mereka juga menggelar penanaman pohon dan kerja bakti lingkungan. Bagi mereka, menjaga bumi bukan agenda sesaat, melainkan komitmen jangka panjang.
Kerja rutin itu justru membuka mata mereka pada persoalan yang lebih besar.
Volume sampah yang terus diangkut tak pernah benar-benar berkurang. Jika dibiarkan, tempat pembuangan bisa menggunung dan menimbulkan masalah baru.
“Kalau tempat pembuangan sampah menggunung, maka akan timbul persoalan baru,” terangnya.
Dari situlah muncul gagasan untuk tidak sekadar membuang, melainkan mengolah. Sejak 2024, komunitas ini mulai serius mengelola sampah organik menjadi air lindi. Prosesnya tidak instan dan menuntut kesabaran.
Taufik menjelaskan, air lindi merupakan cairan yang dihasilkan oleh sampah organik. Untuk memperoleh cairan ini, membutuhkan proses pembusukan dan fermentasi sampah.
Anggota komunitas kemudian memilah sampah organik dan anorganik. Daun, sisa sayur, dan buah dimasukkan ke dalam tong khusus. Di sanalah proses pembusukan dan fermentasi berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Perlahan, dari timbunan itu keluar cairan berwarna kecokelatan—air lindi.
Di tangan komunitas ini, cairan yang kerap dianggap limbah itu berubah menjadi pupuk organik cair (POC). Air lindi mengandung unsur hara alami, membantu memperkaya mikroba baik dalam tanah, memperbaiki struktur tanah, sekaligus meningkatkan kesuburan.
“Air lindi ini banyak manfaatnya, beberapa anggota kami juga memanfaatkannya sebagai POC untuk tanaman buah di rumah. Hasilnya cukup bagus, buah semakin lebat,” terangnya.
Beberapa anggota telah membuktikannya sendiri dengan menggunakan air lindi itu di lahan mereka. Tanaman buah di pekarangan rumah tumbuh lebih subur, bahkan berbuah lebih lebat.
Mohammad Lukman, salah satu anggota, merasakan langsung dampaknya. Menurutnya, pengelolaan sampah organik bukan hanya menekan tumpukan sampah.
Namun juga mencegah bau tak sedap dan potensi penyakit. Sampah yang sebelumnya tercecer, kini berada dalam kendali, diproses dengan penanganan khusus hingga memberi nilai tambah.
Upaya itu tak berhenti di internal komunitas. Alam Hijau rutin menggelar sosialisasi dan pendampingan bagi warga. Mereka percaya, pengelolaan sampah sejatinya bisa dilakukan siapa saja, asalkan ada kemauan dan kepedulian.
Dengan memilah dan mengolah sejak dari rumah, volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan.
Air lindi dari sampah organik ini ternyata mendapat respons dari masyarakat setempat. Beberapa orang bahkan rutin menggunakannya untuk pupuk tanaman.
“Sampah ini jika dibiarkan begitu saja, akan menimbulkan bau tidak sedap. Tentunya juga akan berdampak pada lingkungan dan pemicu penyakit,” bebernya.
Perjalanan mereka mungkin belum sempurna. Namun kegigihan 22 orang ini telah membuktikan satu hal: perubahan bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Dari sampah organik yang dulu dipandang sebelah mata, kini lahir cairan penyubur tanah dan kesadaran baru tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Di Desa Sebaung, bau busuk tak lagi menjadi akhir cerita. Ia telah menjelma menjadi berkah—hasil dari tangan-tangan yang tak lelah peduli. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi