JAKARTA, Radar Bromo-Perekonomian di wilayah kerja (Wilker) Bank Indonesia Malang mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,82 persen (yoy) pada triwulan II 2025.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,00 persen (yoy).
Pertumbuhan tersebut bahkan melampaui Jawa Timur yang berada di angka 5,23 persen serta nasional sebesar 5,12 persen pada triwulan II.
“Ini patut disyukuri, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kerja BI Malang,” ujar Deputi Kantor Perwakilan BI Malang, Dedi Prasetyo.
Dedi menjelaskan, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Wilker BI Malang masih didorong oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi terbesar, yakni 64,8 persen, tumbuh 4,65 persen (yoy).
Kemudian Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, berkontribusi 29,8 persen dengan pertumbuhan signifikan 5,77 persen (yoy). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan I yang hanya 2,43 persen.
“Sementara dari sisi sektoral, pertumbuhan didukung oleh sektor sekunder dan tersier, meski sektor primer mengalami moderasi,” jelasnya.
Dedi mengatakan, secara lebih rinci, hampir seluruh daerah di Wilker BI Malang mencatatkan pertumbuhan positif.
Kota Malang, tumbuh 6,37 persen. Naik dari 5,07 persen di triwulan I, ditopang sektor sekunder dan tersier.
“Kemudian, Kabupaten Malang tumbuh 5,96 persen. Triwulan sebelumnya 5,02 persen. Kenaikan ini didorong sektor sekunder,” katanya.
Sementara itu pertumbuhan Kota Batu melambat ke 4,70 persen. Turun dari 5,02 persen, tertekan oleh sektor primer (PHR) dan jasa.
“Kota Pasuruan tumbuh 5,71 persen, naik dari 4,56 persen. Serta Kabupaten Pasuruan tumbuh 5,74 persen, naik dari 5,02 persen ” katanya.
Kemudian Kota dan Kabupaten Probolinggo mencatatkan pertumbuhan positif. Kota Probolinggo tumbuh 5,61 persen dari sebelumnya 4,93 persen.
“Kabupaten Probolinggo tumbuh 5,25 persen, naik dari 4,84 persen,” katanya.
Meski pertumbuhan ekonomi positif, setiap daerah di Wilker BI Malang menghadapi tantangan berbeda.
Permasalahan pengangguran masih menjadi masalah yang paling banyak dihadapi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) masih cukup tinggi.
Diantaranya Kota Malang 6,10 persen, Kabupaten Malang 5,13 persen dan Kabupaten Pasuruan 5,02 persen. Sementara dari sisi kemiskinan, tantangan terbesar di Kabupaten Probolinggo, yang berada di angka 16,45 persen.
“Tingkat kemiskinan tinggi di Kabupaten Probolinggo, bisa jadi disebabkan oleh pendapatan atau upah pekerja yang belum mencukupi,” ungkap Dedi.
Editor : Muhammad Fahmi