Tidak banyak yang berubah dari Rumah Gading. Mulai ketika masih menjadi asrama Yonif 524. Hingga Markas Yon Zipur 10/2 Kostrad yang berpindah dari Kepanjen sejak 1964 silam.
Pembentukan bataliyon itu sendiri dilatarbelakangi kebutuhan pengembangan kekuatan TNI AD yang cukup urgen dalam mendukung operasi Trikora. Pasukannya dipersiapkan dengan kemampuan operasi pantai dengan kendaraan tempur amfibi,
Sejak menjadi markas batalyon, bangunan utama gedung itu menjadi ruangan khusus Komandan Batalyon, Wakil Komandan dan para stafnya. “Sementara sayap bangunan sisi kanan Kompi Zipur A dan sayap bangunan sisi kiri menjadi Kompi Kemarkasan yang membawahi urusan staf, perawatan gedung,” kata Lettu Czi Subandono, Pasi Pers Yon Zipur 10/2 Kostrad.
Menariknya, gedung itu juga memiliki lorong bawah tanah. Letaknya di ruangan paling belakang, arah dekat laut. Aksesnya cukup sempit. Hanya seukuran tubuh orang dewasa. Sebuah tangga menurun terbentuk dari susunan bata merah. Kedalamannya sekitar 3 meter ke dasar. “Perlu persiapan khusus untuk masuk ke lorong ini,” kata Subandono.
Dulu, ada seorang anggota yang pernah menuju dasar lorong itu mengenakan pelindung diri lengkap. Sebab dikhawatirkan kekurangan oksigen ketika sampai ke dasar. Belum lagi kemungkinan adanya gas beracun. Mengingat lorong itu sudah cukup lama tidak berfungsi.
https://radarbromo.jawapos.com/dulu-dan-kini/18/06/2023/rumah-gading-yang-kini-jadi-markas-yon-zipur-pasuruan-jejak-taipan-gula/
“Sudah lama sekali. Lebih dari 20 tahun lalu. Saat ditelusuri, di bawah ada genangan air. Tetapi lorongnya cukup lebar, bisa memuat beberapa orang kalau berjalan gerombolan,” kata Subandono.
Konon, lorong rahasia itu membentang hingga sejauh 1 kilometer. Membuka akses menuju Gedung Pancasila dan Rumah Singa di Jalan Hassanudin. Bila memang benar, cukup masuk akal. Sebab, Gedung Pancasila dulunya juga rumah Han Hoo Tong, kakak Han Hoo Lam. Sedangkan Rumah Singa dimiliki keluarga Kwee yang juga konglomerat industri gula.
Subandono menduga, bisa saja lorong itu memang didesain sedemikian rupa. Saling terhubung antar rumah taipan. Sebab ekspansi kolonial ke Pasuruan memicu pecahnya pemberontakan.
Namun sebagian rakyat menjadi tawanan perang. Sebagian lainnya dijadikan buruh oleh taipan Tionghoa yang sudah mendominasi di kota bandar kuno ini.
“Kemungkinan lorong itu dibuat untuk memudahkan akses perlindungan ketika terjadi perlawanan rakyat,” bebernya.
Yang jelas, lorong bawah tanah itulah yang kerap mengundang tanda tanya. Terutama bagi pengunjung yang sebagian besar kalangan pelajar maupun mahasiswa yang tengah melakukan penelitian. (tom/mie)