Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Berdirinya Museum Dokter Mohamad Saleh Probolinggo, Bangunan Belanda yang Kini Menjadi Sarana Pendidikan

Inneke Agustin • 2025-03-30 22:45:00
KINI: Foto rumah dokter Mohamad Saleh yang kini menjadi Museum dokter Mohamad Saleh.
KINI: Foto rumah dokter Mohamad Saleh yang kini menjadi Museum dokter Mohamad Saleh.

SOSOK dokter Mohamad Saleh tak bisa dilepaskan dari sejarah. Ia merupakan salah satu pemrakarsa berdirinya Boedi Oetomo serta PMI.

Bahkan ia terlibat dalam perjuangan rakyat Probolinggo, melawan penjajahan Belanda dalam hal logistik obat-obatan.

Dokter Mohamad Saleh lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada 15 Maret 1888.

Ia merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara, pasangan Haji Sastrodikromo dan Hajah Nalirah.

Ia lantas menikah dengan Emma Naimah (Nyakem) yang merupakan perempuan kelahiran Jakarta pada tanggal 22 Agustus 1885. Naimah merupakan anak termuda dari 4 bersaudara.

“Setelah keduanya menikah, mereka memiliki sebelas anak,” kata Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.

Mereka adalah Hajah Soeratmi Saleh (1905-1981), Soeratman Saleh (1907-1909), Marsekal Muda TNI Profesor Dokter Abdulrahman Saleh (1909-1947), Harun Al Rasjid Saleh (1911-1982), Insinyur Mohamad Effendi Saleh (1912-2002), Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) Dokter Haji Abdulaziz Saleh (1914-2001), Mochtar Saleh (1917-1988), Dokter Alibasah Saleh (1919), Sumartini Saleh (1920-1925), Marsekal Muda TNI (Purnawirawan) Dokter Haji Abubakar Saleh (1923-2008), dan Hajah Soehartini (1926-2012).

Dari mereka, ada beberapa anaknya berhasil menjadi pahlawan nasional. Seperti Abdulrahman Saleh yang diabadikan menjadi nama bandar udara di Malang.

Serta Abdul Aziz Saleh yang pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman di masa pemerintahan Presiden Soekarno (Orde Lama) dan Presiden Soeharto (Orde Baru).

“Kemudian Abubakar Saleh yang meninggal di Probolinggo 12 Februari 2008,” ungkap Edi.

Edi menjelaskan, dokter Mohamad Saleh menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS).

Sekolah ini, merupakan sekolah dasar yang didirikan dengan tujuan awal, memberikan pendidikan kepada warga Belanda yang bermukim di Hindia Belanda.

Ia memulai pendidikannya di ELS Salatiga sebelum kemudian pindah ke ELS Nganjuk.

Setelah itu, ia memulai pendidikan dokter di School tot Opleiding can Indlansche Artsen (STOVIA) di Batavia pada 10 Januari 1903.

Pada saat menjalani pendidikan di STOVIA, ia bersama mahasiswa lain berkumpul dan membentuk perkumpulan yang diberi nama Budi Utomo dan lulus pada 11 April 1911.

Dokter Mohamad Saleh kemudian wafat pada 2 Maret 1952 di Probolinggo. Sementara istrinya, telah mendahulinya pada 26 Juli 1949.

 

Rumah Dokter Mohamad Saleh

Sebelum ditempati oleh dokter Mohamad Saleh, rumahnya merupakan milik Pemerintah Belanda.

Tepatnya menjadi rumah dinas pegawai Hindia Belanda yang ada di Probolinggo.

Hal ini terindikasi dari peninggalan buku-buku yang ada di sana, meliputi buku-buku tata negara, pemerintahan, dan lain-lain.

JADUL: Foto dokter Mohamad Saleh beserta keluarganya di depan rumahnya di Jalan Laoet yang kini menjadi Jalan dr. Mohamad Saleh Probolingo. Inset foto sosok dokter Mohamad Saleh.
JADUL: Foto dokter Mohamad Saleh beserta keluarganya di depan rumahnya di Jalan Laoet yang kini menjadi Jalan dr. Mohamad Saleh Probolingo. Inset foto sosok dokter Mohamad Saleh.

Ketika ia pertama bertugas di Probolinggo pada 13 Agustus 1920, dokter Mohamamd Saleh sudah ditetapkan sebagai Dokter Sipil Probolinggo.

Tepatnya pada tanggal 7 Oktober 1920 atau saat beliau berumur 32 tahun.

“Lima tahun kemudian, beliau diangkat menjadi dokter pribumi pemerintah kelas I mulai tanggal 1 Februari 1925. Namun pengabdiannya sebagai dokter pemerintah berakhir, dengan adanya surat nomor VA 21/1/18 yang menjelaskan bahwa beliau melepaskan jabatannya dengan hormat sebagai Dokter Pribumi Pemerintah Hindia Belanda atas permintaan sendiri mulai tanggal 31 Desember 1925,” ungkap Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.

Sejak melepaskan jabatannya itu, ia makin fokus dalam pengabdiannya sebagai dokter dengan membuka praktik umum di rumah pribadinya di Jalan Laoet yang sekarang jadi Jalan dr. Mohamad Saleh.

Seolah menjadi rumah dinas, rumah sakit, dan apotek, seluruh kegiatan tersebut menjadi satu di rumahnya.

Rumah tersebut juga disebut sebagai rumah Bhinneka Tunggal Ika. Bukan tanpa alasan, ini karena rumah Dokter Mohamad Saleh digunakan sebagai tempat perkumpulan anak-anak seluruh Nusantara.

“Di rumah ini, konon pemuda dari berbagai suku sering berkumpul. Mereka berdiskusi bersama dokter Mohamad Saleh yang merupakan salah satu pendiri Boedi Oetomo,” kata Edi.

Tak hanya itu, dokter Mohamad Saleh juga merupakan pendiri Palang Merah Indonesia (PMI).

Rumah ini juga menjadi saksi bisu sejarah berdirinya partai politik pertama, yaitu partai Indonesia Raya (Parindra) yang didirikan bersama dokter Soetomo.

Lambat laun, rumah tersebut menjadi cikal bakal Rumah Sakti Umum Daerah Kota Probolinggo yang bernama RSUD dr. Mohamad Saleh.

Di dalam rumah ini, terdapat beberapa ruangan yang memiliki sejarah masing-masing.

Salah satunya, ruang peteng yaitu kamar tidur dokter Mohamad Saleh berserta istrinya.

Kamar ini disebut ruang peteng, dikarenakan sinar matahari masuk ke ruangan ini terhalangi oleh bangunan klinik di sebelahnya.

Menjadikan ruangan ini gelap atau peteng dalam Bahasa Jawa.

“Ruang peteng ini juga bisa digunakan untuk menghukum anak untuk melakukan instropeksi diri ketika mereka melakukan kesalahan,” ungkap Edi.

Kemudian ruang makan yang terletak di bagian belakang museum ini, difungsikan sebagai tempat makan bersama keluarga dan juga tempat diadakannya pertemuan.

Ada juga ruang pasien yang berada di lantai bawah dan plafon.

“Bedanya untuk ruang pasien yang di lantai itu, untuk warga Belanda. Ruangan ini berfungsi sebegai ruang periksa dan pengobatan pasien. Sementara untuk yang di plafon itu, untuk pasien para pejuang pribumi. Sehingga para pemerintah Belanda tak mengetahui adanya para pejuang disana yang tengah dirawat,” bebernya.

 

Kiprah Dokter Mohamad Saleh

Diceritakan perjuangan dokter Mohamad Saleh dalam membantu perjuangan rakyat Probolinggo, salah satunya melalui logistik obat-obatan.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, ia dibantu oleh tiga orang kusir delman yang berasal dari wilayah sekitar Gunung Bromo.

Tiga kusir delman bertugas untuk mengirimkan bantuan kepada pasukan tentara pelajar yang melakukan gerilya di daerah sekitar Gunung Bromo.

Para kusir delman akan secara bergantian datang ke rumah dokter Mohamad Saleh dengan berpura-pura sebagai pasien.

Setelah giliran mereka diperiksa masuk ke ruang, mereka sudah memiliki kode-kode tertentu dalam obrolan untuk meminta bantuan obat kepada dokter.

Obat-obatan yang sudah diberikan segera dikirim oleh para kusir delman kepada para pejuang.

Rumah tersebut kemudian dibangun menjadi sebuah museum bernama Museum dokter Mohamad Saleh.

Pembangunan ini mulai direncanakan sejak tahun 2008 oleh Pemerintah Kota Probolinggo.

Dalam perencanaannya, pemerintah bekerja sama dengan para guru sejarah di Kabupaten Probolinggo dengan mengadakan penelitian.

Tujuan pendirian museum adalah untuk melestarikan bangunan tersebut dan sebagai sarana pendidikan sejarah bagi masyarakat.

Baru pada 26 Maret 2013, Museum Dr. Mohamad Saleh pertama kali dibuka. Peresmiannya untuk masyarakat umum, diadakan pada tanggal 30 April 2013.

Koleksi yang dipamerkan di dalam museum, merupakan koleksi pribadi dari Dr. Moh. Saleh.

Kepemilikan museum diberikan kepada Pemerintah Kota Probolinggo. Di mana pengelolaannya diserahkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Probolinggo. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#museum #dr mohamad saleh #rumah dinas #probolinggo