Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dalang

Muhammad Fahmi • Selasa, 7 Januari 2025 - 09:35 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Inong Islamiyati Abdullah

 

Ragaku kini terjebak dalam ruangan sempit ini. Menunggu hari keputusan yang hanya tinggal sebentar lagi. Tubuhku semakin kurus dan netraku mulai mengabur. Aku mencoba sekuat tenaga mengingat memoriku yang samar. Semuanya berlangsung begitu cepat seolah baru kemarin terjadi.

Awalnya aku adalah orang yang baik. Seperti kebanyakan orang, aku  bekerja keras demi menghidupi istri dan anak kesayanganku. Aku tidak menduga akan ada satu hal buruk terjadi padaku. Padahal ini sama sekali bukan kesalahanku. Mungkin aku memang terlalu polos dan baik, sehingga menjadi sasaran paling empuk untuk dipersalahkan.

Aku adalah seorang pria yang telah beristri dan imanku menjaga agar aku tetap setia. Maka daripada itu aku tidak mungkin tega bermain serong dengan anak perempuan dari bosku sendiri. Lagipula, orang bodoh macam apa yang berani mengincar anak perempuan kesayangan atasan, sedangkan dia baru bekerja sekitar enam bulan lalu? Tidak, Aku tidak akan melakukan hal sebodoh itu.

Gara-gara tuduhan itu aku dipecat, meskipun sebenarnya karierku sedang cemerlang. Menjadi pengangguran dengan istri dan seorang anak yang masih bayi membuat mentalku terkikis. Suara tangisan anakku bagai jeritan kesedihan yang terpaksa harus aku dengarkan setiap hari. Dia lapar. Namun aku terpaksa harus mengganti merek susunya karena susu dia yang sebelumnya terlalu mahal.

“Sampai kapan aku harus bersabar mas?” keluh Tiara, Istriku.

“Aku juga sedang berusaha mencari kerja sayang. Bukankah sebaiknya kau membantuku?”

“Membantu apa?”

“Coba lihat dirimu. Kau tahu keadaan keuangan keluarga kita sedang susah tetapi kau malah mementingkan dirimu sendiri. Mau pergi ke mana lagi kau?”

“Jangan usik aku Mas Deni. Bukannya dari awal menikah aku sudah memberitahumu untuk jangan ikut campur soal lingkup pertemananku. Sudahlah aku sudah hampir terlambat.” Istriku segera pergi tanpa mau menghiraukan nasihatku.

Tiara. Aku menikahinya ketika baru mulai bekerja beberapa bulan. Dia adalah wanita yang cantik, namun manja karena dia  anak perempuan tunggal dari keluarga kaya. Mertuaku sudah meninggal dan orang tua yang tersisa hanya tinggal ibuku saja.

Semenjak aku menganggur, Tiara menjadi sering keluar rumah. Meninggalkan aku untuk mengurusi Rara, putri kami. Sebenarnya sebelum menikah, aku pernah berjanji untuk tidak mengekang dia. Istriku berhak untuk sesekali berkumpul dengan para teman-temannya meskipun kami sudah memiliki anak.

Namun, aku kesal karena dia seolah tidak peduli dengan masalah keuangan keluarga kami. Aku mulai berpikir untuk bekerja apa saja karena kalau harus menunggu balasan dari lamaran kerja  akan memakan waktu lama. Sementara masih banyak kebutuhan yang harus kupenuhi.

Aku mulai bekerja serabutan di pasar. Sebagai kuli panggul, ojek, berjualan sayur, sampai menjadi pengepul sampah. Rara sering aku titipkan ke rumah ibu dan untungnya beliau tidak keberatan. Aku rela melakukan semua ini semata demi keluarga kecilku. Namun perkataan pedas istriku, membuat hatiku menjadi berang.

“Kau keterlaluan Mas. Kau membuat aku malu. Aku diejek oleh semua teman-temanku karena kamu bekerja di pasar. Aku sudah pernah bilang carilah kerja yang bagus masa tidak bisa sih? Kamu tega membiarkan aku diejek seperti itu.”

“Lalu aku harus bagaimana lagi sayang? Kebutuhan keluarga kita banyak dan kalau harus menunggu panggilan kerja kantor akan lama. Belum lagi kamu menghabiskan banyak uang setiap hari karena selalu pergi bersama teman-temanmu.”

“Jadi maksudmu ini salahku! Salahku kamu jadi dipecat dan kita akan jadi miskin. Ini semua tidak akan terjadi kalau kamu tidak terlalu polos dan mudah dimanfaatkan.”

“Jaga ucapanmu Tiara!”

“Sepertinya benar. Harusnya aku waktu itu menolak lamaranmu dan memilih Dika. Kalau aku dulu memilih dia, hidupku tidak akan sengsara seperti ini. Padahal dulu aku kira dengan menikah denganmu dan mematuhi perintah ibu, aku akan bahagia.”

Malam itu menjadi lebih dingin daripada biasanya. Kami berdua ribut dalam perselisihan panjang. Aku tidak menyangka dalam hati istriku masih ada rasa sayang pada Dika, saingan terberatku saat mencoba melamar Tiara.

Namun, ketika itu Ibunya Tiara lebih menyukaiku karena dia menganggapku orang yang benar-benar baik. Tiara menuruti perintah ibunya dan menerima lamaranku.

Sementara istriku tidur di kamar lain, aku tidur sambil memeluk putriku Rara. Pikiranku kalut membayangkan bagaimana cara untuk bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Malam itu juga aku bergegas pergi. Dengan sebilah parang dibalik punggungku, aku memulai perburuanku.

Rumah-rumah orang kaya pasti menyimpan banyak harta. Lagi pula dunia ini tidak adil. Mereka para orang kaya bisa tidur nyenyak di kasur empuknya, tanpa perlu khawatir besok mau makan apa. Sementara orang lain harus tidur dengan keadaan lapar dan belum tahu berapa banyak rezeki yang bisa didapatkan esok hari untuk sekadar mengganjal perut.

Sayang, nasib sial menimpaku. Aku orang yang awalnya baik, mendadak berubah menjadi jahat karena keadaan yang memaksa. Aku tahu, aku tidak lihai dalam hal ini, tetapi aku terpaksa melakukannya demi keluargaku.

Para warga memukuli tubuhku karena tertangkap basah hendak merampok. Aku dibawa ke kantor polisi. Ibuku menangis sambil menggendong Rara seolah tak percaya. Sementara Tiara justru terlihat tidak peduli dengan keadaanku.

Dia justru berbisik kalau aku bodoh dan tidak lincah, sehingga bisa dengan mudah tertangkap. Sejak saat itu, tempat inilah yang menjadi rumahku. Pagar-pagar besi dingin disertai dinding bercak sisa darah bermakna rasa sesal dan putus asa. Menanti nasib, perlahan aku merenungi semua perbuatanku dahulu.

Kurasa aku sebenarnya tidak melakukan kesalahan jika saja aku tidak difitnah. Seandainya kabar bohong itu tidak ada, aku pasti bisa hidup dengan kedamaian.

Perlahan aku mulai menerka siapa saja yang mungkin membuat aku merana seperti ini. Mungkinkah aku pernah menyakiti hati seseorang? Atau aku tanpa sengaja melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.

“Bagaimana kau suka kejutanku bukan? Hah, akhirnya Deni yang sopan, santun dan pekerja keras bisa terpuruk juga.”

“Kau! Kenapa kamu bisa di sini?”

“Masih tanya kenapa? Akulah yang pertama kali memulai fitnah padamu. Seharusnya saat itu kau mundur. Sudahlah aku kini tidak punya urusan dengan pecundang sepertimu.”

“Kamulah pecundang yang sebenarnya! Tidak bisakah kamu mengikhlaskan hal yang sudah jadi milikku. Kamu bisa mencari kebahagiaan lain di luar sana.”

“Hah, aku pecundangnya? Masa kamu masih menolak keadaan. Terima saja nasibmu sekarang. Aku mau pergi  menjemput bahagiaku yang sudah kau rebut lima tahun yang lalu.”

Diriku lantas melihat punggungnya berjalan dari kejauhan. Sungguh orang yang pendendam dan licik. Bodohnya aku sampai bisa masuk ke perangkap yang dia sengaja siapkan. Kini aku hanya mampu berdoa agar Tuhan mau mengampuni dosaku. Agar aku diberikan kesempatan untuk bisa membesarkan Rara, malaikat kecilku.

Aku memasuki ruang persidangan dengan punggung bungkuk. Ibuku menggendong Rara sambil menahan tangis. Sementara kulirik Tiara justru asyik bermanja dengan sosok yang aku benci.

Sosok yang belakangan ini mengaku bahwa dialah dalang dibalik semua peristiwa menyedihkan yang menimpaku.  Hanya karena sebuah dendam perebutan cinta masa lalu.  Mantan pacar istriku, Dika. (*)

*) Tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan. Menyukai musik, Animasi dan mulai tertarik dengan dunia ke penulisan

 

 

 

Editor : Muhammad Fahmi
#cerpen #dendam #dalang