Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ular yang Melilit Tubuh Maksum

radar bromo • Rabu, 29 Mei 2024 | 01:55 WIB

 

 

Ilustrasi
Ilustrasi

Maksum adalah lelaki sederhana. Dia tak pernah terlibat utang selama hidupnya. Makanya, kehidupan rumah tangganya dengan Maryati aman-aman saja. Bahkan dia selalu nyantai setiap pulang kerja. Saat berangkat kerja pun dia selalu bersiul sambil mengayuh sepeda keranjangnya.

Berbeda berbalik seratus delapan puluh persen dengan saudara sepupunya, Adi. Meski tinggal di komplek perumahan dan memiliki empat unit sepeda motor, namun tiap hari kepalanya selalu dibebat kain. Tiap kali orang bertanya, selalu dijawabnya pusing.

Seperti bulan ini misalnya, banyak tagihan yang harus dilunasinya. Bayar angsuran rumah, bayar SPP kuliah anak, bayar angsuran utang bank, beli kebutuhan dapur, beli rokok, beli kopi dan sebagainya.

Tiap detik dia selalu berharap ada uang jatuh dari langit. Hape selalu tak jauh darinya, berharap ada pasien yang menghubunginya untuk minta tolong. Seperti tersadar dari mimpi, dia teringat sesuatu.

Sepeda motor. Kenapa dia tidak berpikir untuk menjual salah satu dari sepeda motornya saja? Tapi, dia akan menjualnya pada siapa? Lalu, pagi itu, datanglah Maksum bertamu.

"Sum, apakah kamu tidak mau membeli sepeda motor?"

"Memang ada tah, Mas, harga sepeda motor murah?"

"Ada. Punyaku. Khusus buat kamu aku menjual sepeda motorku dengan harga enam juta rupiah saja."

"Wah, cara mencicilnya gimana?"

"Tiap kali nyicil kamu cukup bayar 250 ribu rupiah saja. Gimana? Murah kan?"

Memang iya. Mana ada cicilan sepeda motor murah meriah di zaman di mana pikiran manusia oleng semua? Tapi, Maksum sama sekali tidak tahu jika di depan sana badai besar akan datang menelan tubuhnya.

"Motornya bagus nggak?"

"Baguslah. Apalagi body-nya keren. Ketimbang kamu selalu dihina karena naik sepeda keranjang mending beli motorku saja."

Maksum yang terlalu polos dan lugu tanpa berpikir panjang langsung menyetujuinya.

"Tapi, gimana kalau istriku nanya ke mana sebagian uang gajianku?"

"Kasihkan saja sisa uang itu pada istrimu. Kalau kamu ingin kaya, caranya harus tega sama istri dan anak," ujar Adi bernasihat.

"Oke. Oke."

"Gimana?"

"Deal."

 

***

Jadilah Maksum mengambil utangan sepeda motor dari sepupunya itu. Mulai hari itu dia nyicil pada sepupunya sesuai dengan harga yang telah disepakati. Tapi mulai hari itu, istrinya bertanya kemana uang belanjanya yang mulai berkurang. Percekcokan antara Maksum dan istrinya yang selama ini jarang terjadi mulai pecah. Maksum juga selalu panas dengan uang. Bahkan jika tak punya uang, dia selalu marah-marah. Kehidupannya mulai banyak berubah. Apalagi ketika sepeda motor mulai diserahkan padanya, pikirannya makin overheat.

 

Entah kenapa Maksum begitu terpengaruh dengan godaan sepupunya itu. Kenapa dia sama sekali tidak berpikir bahwa gegara motor itu dirinya akan terperosok ke dalam jurang masalah yang besar. Dan kenapa dia tidak pandai membaca tanda-tanda bahwa dirinya sedang dimanfaatkan.

 

Sampai bulan ini angsuran yang dia bayarkan lancar-lancar saja sehingga dia hampir saja melunasinya. Merasa hampir lunas, Maksum semakin menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya mampu memiliki harta seperti halnya orang lain.

Bahkan di hadapan kakak iparnya dia ingin mengatakan bahwa dirinya lebih merasa bisa membeli sepeda motor yang lebih mahal dari milik kakak iparnya itu. Tidak jarang dia juga sering bercerita pada orang-orang kalau setelah ini dia ingin membeli rumah dan mobil. Tapi, semua impian itu terempas setelah bulan keenam cicilannya menjadi macet. Gegaranya dia dipecat dari pekerjaannya.

 

"Kurang satu setengah juta lagi," gumamnya. Saat itu pikirannya oleng. Mondar-mandir dia mencari pekerjaan.

 

****

Sejak memutuskan menikah dengan Maryati, entah kenapa kehidupan Maksum berubah drastis. Kehidupannya bisa dibilang paling memprihatinkan. Selama ini dia menumpang tinggal di rumah orangtua istrinya.

Padahal sebelumnya dia pernah bilang pada istrinya bila dia ingin menyewa rumah agar kehidupan mereka berkembang dan pemikiran istrinya semakin matang. Tapi, istrinya tidak mau dikarenakan tidak tega meninggalkan ibunya sendirian.

 

"Terus ibu mau tinggal bersama siapa?! Apakah kamu tega membiarkan ibuku sendirian di rumah ini?!"

 

"Lha kan masih ada masmu? Lalu, gunanya masmu apa? Kenapa dia tega menelantarkan ibunya dan melemparkan tanggung jawabnya sebagai anak lelaki pada kamu? Lagian aku ingin hidup kita berkembang. Masa kamu mau hidup begini-begini saja?"

 

"Kenapa dulu memilih aku sebagai istrimu?! Kenapa tidak menikah dengan perempuan lain saja?"

 

Maksum malas untuk melandeni istrinya. Dia memilih untuk tidak melanjutkan pertengkaran sengit yang sama sekali tidak ada manfaatnya itu. Jadilah dia memilih untuk menerima nasib hidupnya yang sekarang. Tiap hari dia berangkat kerja dengan mengayuh sepeda keranjang. Itu pun bukan sepeda keranjang miliknya melainkan sepeda peninggalan kakek istrinya.

Selama lima tahun menikah, Maksum tidak pernah membeli barang-barang perabotan rumah misalnya kursi tamu, televisi, kipas angin, atau tanah. Jangan dibilang kalau di dalam rumah ada kursi pojok kayu jati yang bagus. Atau menonton tayangan film India. Hal itu tentu saja membuat dirinya menjadi bahan gunjingan keluarga istrinya.

 

"Bukannya membawa sepeda motor ke rumah mertua cuman membawa burung saja."

 

"Burung apaan?" timpal yang lain.

 

"Burung cucak rowo."

 

"Bukan burung kakak tua?"

 

"Kalau burung kakak tua bisa dijual. Tapi kalau burung cucak rowo, bahaya."

 

"Kenapa bahaya?"

 

"Iyalah. Apalagi kalau sampai tidak dikurung dalam sangkarnya. Bisa nyasar kemana-mana."

 

Mendengar cibiran itu tentu saja membuat telinga Maksum membara. Sebagai seorang lelaki, tentu dia tidak bisa menerima penghinaan itu. Sementara sepupunya, Adi sudah tahu kalau selama ini Maksum tiada habis-habisnya dihina oleh keluarga istrinya.

Hingga terbetiklah di hatinya untuk menolong Maksum. Dia ingin mengangkat drajat Maksum di mata orang-orang itu. Dan salah satu caranya adalah menjual sepeda motor itu. Tapi, secara tidak langsung, sadar maupun tidak sadar bahwa dia telah mengajari Maksum belajar utang.

 

Tiap Maksum duduk sendirian di ruang tamu, dia sering melamun darimana dia akan menemukan uang buat melunasi utang. Sementara istrinya tidak mau tahu soal masalah yang sedang dihadapi oleh suaminya.

 

"Kepada siapa lagi aku mau mencari utangan?"

 

Lalu, terguratlah sepotong wajah yang dapat menolongnya.

 

****

Bukannya terbebas dari utang, Maksum malah semakin terlilit sehingga dia susah untuk melepaskannya. Sejak memutuskan untuk meminjam utangan dari Gastori, juragan kopra dan terasi terkenal itu, dia makin susah tidur. Setiap kali mau memejamkan mata, wajah Gastori semakin membayanginya. Waktu mau mendengarkan lagu, yang terdengar malah suara Gastori.

 

"Awas kamu bila tidak bisa membayar utangmu. Orang-orangku akan datang ke rumah istrimu!" Gastori mengancam Maksum saat memberinya uang.

 

Mengingat itu hati dan pikiran Maksum kian merasa tidak tenang. Dia juga jarang berada di rumahnya karena takut orang-orang Gastori datang.

 

Kini, kehidupan Maksum tidak setenang dulu. Matanya selalu awas karena takut jika muncul anak buah Gastori menagih utang. Ada sebuah penyesalan yang timbul dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Andai dulu dia tidak tergiur dengan rayuan sepupunya agar mau mencicil sepeda motor, mungkin saat ini dirinya pasti tidak akan terlilit ular yang perlahan meremukkan tulang-tulangnya.

 

Hanya tinggal menunggu waktu sampai kapan lelaki sederhana itu akan bertahan. (*)

 

Oleh: Khairul A. El Maliky

Probolinggo, April 2024.

 

Editor : Muhammad Fahmi
#ular #utang #cerpen