KANIGARAN, Radar Bromo - Gedung Kesenian Kota Probolinggo sudah mulai dibersihkan untuk dibangun. Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKKPro) juga mulai menyicil angkut-angkut barang-barang kesenian untuk keluar.
Untuk sementara, mereka tetap latihan di dalam gedung kesenian tersebut. Hanya saja, saat mereka diminta untuk keluar atau pindah, mereka memilih untuk latihan di halaman Gedung Museum Kota Probolinggo.
Ketua DKKPro Peni Priyono menyebutkan, sudah sekitar seminggu lebih dia bersama anggotanya mencicil angkut-angkut barangnya keluar dari gedung tersebut.
Meskipun, tidak ada surat resmi dari pemerintah kota, baik itu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) maupun Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar), pihaknya mulai boyongan. Sebab, mereka sadar pemkot tetap akan alih fungsi gedung kesenian tersebut.
”Tidak ada surat resmi dari pemerintah kota untuk pindah atau keluar mas. Tapi orang pemkot yang kirim pesan WhatsApp ke saya atau sanggar, untuk membereskan barang-barang yang ada di gedung kesenian,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.
Peni panggilannya menerangkan, dia memilih mencicil angkut-angkut, supaya tidak berat di ongkos.
Untuk itu, dirinya menggunakan kendaraan pribadi diangkut secara bertahap. Sampai kemarin masih banyak barang-barang kesenian yang belum diangkut. ”Nanti sementara diangkut ke rumah saya dulu,” ujarnya.
Peni mengaku, DKKPro selama ini memperjuangkan Gedung Kesenian tetap di utara Museum Probolinggo tersebut, karena ingin mempertahankan kawasan heritage. Selain itu, ada sejumlah sanggar yang rutin berlatih di gedung kesenian.
Namun, karena pemkot tetap membuat kebijakan alih fungsi gedung tersebut, mau tidak mau harus keluar.
Pihaknya hanya bisa pasrah dan memilih untuk latihan di depan museum Kota, bukan di kampung Seni TRA.
”Kami akan tetap berlatih di emperan Museum Probolinggo. Yang milih tempat latihan di ruang publik halaman musium itu sanggar BTBK, bukan dewan kesenian. Dewan kesenian menyetujui termasuk teater, yang belum dapat tempat itu seni musik tradisi Probolinggoan," ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kota Probolinggo mengembalikan fungsi Gedung Kesenian jadi lapangan tenis indoor. Rencana ini mendapat penolakan dari para seniman.
Di sisi lain Pemkot Probolinggo sudah menyiapkan grand design pembangunan pusat kebudayaan, kesenian, dan ekonomi kreatif (ekraf).
Tahun depan sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp 2,8 miliar untuk pengembangan kesenian, kebudayaan dan Pariwisata di Kota Probolinggo. Pemkot juga mengajukan tambahan ke pemerintah pusat sebesar Rp 3 miliar. (mas/fun)
Editor : Abdul Wahid