TIRIS, Radar Bromo– Satu lagi pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Probolinggo, meninggal di negeri orang. Musleh, 42, yang bekerja sebagai buruh bangunan di Malaysia, pulang tinggal nama.
Jenazahnya berhasil dipulangkan ke rumah duka di Dusun Komalang, Desa Ranuagung, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Sabtu malam (20/9). Tangis haru pun mewarnai penyerahan jenazah ke keluarga.
Kades Ranuagung, Muhammad Bilal mengatakan, Musleh meninggal pada Senin, 8 September.
Namun, kabar duka itu baru diterima keluarga sepekan kemudian, Yaitu 15 September.
Kabar itu disampaikan melalui surat resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Malaysia kepada Kepala Desa Ranuagung, Muhammad Bilal. Pihak desa lantas meneruskan informasi itu pada keluarga.
Bilal bercerita, keluarga hanya bisa pasrah mengetahui kematian Musleh. Mereka juga ikhlas andai jenazah Musleh dimakamkan di Malaysia.
Sebabnya, Musleh berangkat ke Malaysia tanpa melalui prosedur resmi alias ilegal.
Kondisi itu, menyulitkan proses pengurusan dokumen. Selain itu, pemulangan jenazah ke Tiris juga butuh biaya besar. Dan keluarga tidak bisa menyediakan biaya pemulangan itu.
“Awalnya keluarga tidak berani berharap. Mereka ikhlas Musleh dimakamkan di Malaysia. Walaupun keluarga sedih karena tidak bisa melihat almarhum untuk terakhir kali,” ujarnya.
Namun, pihak desa tidak tinggal diam. Bilal segera berkoordinasi dengan Bupati Probolinggo, Mohammad Haris.
Bupati kemudian memerintahkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) mendampingi keluarga untuk mengurus administrasi, sekaligus kebutuhan teknis pemulangan jenazah.
Upaya itu membuahkan hasil. Pada Sabtu malam, jenazah Musleh tiba di rumah duka dan langsung dimakamkan dengan suasana duka mendalam.
“Alhamdulillah, jenazah akhirnya bisa dipulangkan. Kami mewakili keluarga mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemkab Probolinggo yang sudah membantu penuh,” tutur Bilal.
Ia mengakui, proses pemulangan jenazah terbilang singkat. Padahal, untuk pekerja migran tidak resmi seperti almarhum, biasanya membutuhkan waktu lama dengan prosedur yang rumit.
Musleh meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki yang kini masih SMP. Kehilangan ini menjadi pukulan berat bagi keluarga.
“Namun, setidaknya kepulangan jenazah memberi kesempatan bagi keluarga untuk melepas kepergiannya dengan layak,” tutur Bilal. (mu/hn)
Editor : Muhammad Fahmi