Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Larangan-Sanksi Hukum Bagi Pemotor Matik di Jalur Bromo Perlu Dasar Regulasi

Inneke Agustin • Minggu, 29 Juni 2025 | 17:00 WIB
Photo
Photo

JALUR menuju kawasan wisata Gunung Bromo, penuh tantangan. Jalanan yang menanjak, turunan curam, dan berkelok menuntut pengendara harus lebih waspada. Terutama para pengguna motor matik. Bahkan, telah banyak makan korban. Karenanya, muncul imbauan agar wisatawan tak menggunakan motor matik.

Maraknya kecelakaan lalu lintas di jalur menuju kawasan wisata Gunung Bromo via Kabupaten Probolinggo, terutama yang melibatkan motor matik, menjadi perhatian banyak pihak. Sejak Januari-Juni 2025, tercatat tiga korban meninggal dunia akibat kecelakaan di jalur rawan menuju destinasi wisata internasional ini.

Selain itu, nyaris setiap bulan terjadi tiga insiden kecelakaan. Mayoritas menimpa pengendara motor matik dari luar daerah. Karena itu, sejumlah pihak mengeluarkan imbauan agar wasatawan tidak menggunakan motor matik.

Kepala Desa Ngadisari Sunaryono mengatakan, jalur ekstrem menuju Gunung Bromo, juga terdapat di Desa Ngadisari. Salah satunya di Dusun 1 dan Dusun 2. Di dua lokasi ini terdapat turunan curam sepanjang 100 meter. “Turunan pertama sepanjang 100 meter, setelahnya datar sebentar lalu disusul turunan kedua yang juga curam. Banyak pengendara tertipu, mengira jalurnya sudah datar dan aman. Padahal curam lagi,” jelasnya.

Sunaryono mengatakan, sejak tren penggunaan motor matik meningkat di kawasan pegunungan pada 2018, angka kecelakaan ikut naik. Korbannya didominasi wisatawan luar daerah yang belum memahami karakteristik medan di jalur menuju Gunung Bromo. “Kalau warga lokal Sukapura, walaupun pakai matik mereka sudah tahu cara menyesuaikan,” ujarnya.

Sejatinya, Dinas Perhubungan Kabupaten Probolinggo telah memasang sejumlah papan imbauan di jalur utama menuju Gunung Bromo. Namun, menurut Sunaryono, belum cukup, karena jalurnya tidak hanya melalui Kecamatan Sukapura. Ada juga dari arah Pasuruan, Malang, dan Lumajang.

Pemerintah Desa Ngadisari, pun mengambil langkah preventif. Melakukan sosialisasi langsung kepada wisatawan. Petugas desa aktif menghentikan pengendara motor matik dan memberikan edukasi mengenai risiko berkendara di jalur curam.

“Kalau ada yang memaksa tetap naik, kami tunjukkan foto-foto kecelakaan yang pernah terjadi. Banyak yang akhirnya sadar dan mengurungkan niatnya. Kalau tetap nekat, kami minta mereka menandatangani surat pernyataan bahwa segala risiko ditanggung sendiri,” jelasnya.

Surat pernyataan itu juga memuat tanggung jawab hukum jika kecelakaan tidak hanya mencelakai diri sendiri, tetapi juga orang lain. “Kami ingin ada kesadaran bahwa ini bukan cuma soal kerugian materil, tapi nyawa,” tegasnya.

Solusinya, pemerintah desa menyediakan berbagai alternatif transportasi yang lebih aman. Wisatawan bisa menggunakan jasa ojek atau angkutan wisata lainnya menuju Cemoro Lawang, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Balai Desa Ngadisari. “Kami bahkan pernah antar gratis. Padahal, yang menikmati hasil tiket wisata itu bukan kami,” ujarnya.

Ia berharap ke depan, larangan penggunaan motor matik di jalur ekstrem menuju Bromo bisa dituangkan dalam bentuk peraturan daerah (perda). Usulan ini telah disampaikan dalam dialog lintas stakeholder pada Perayaan Yadnya Kasada 2025.

“Kalau sudah berbentuk larangan resmi, masyarakat akan lebih patuh. Saat ini kan masih berupa imbauan yang bisa diabaikan. Kami juga berharap peraturan tersebut tidak hanya berlaku di daerah ini, tapi di daerah lain juga. Sebab, motor matik memang berbahaya jika digunakan di pegunungan,” katanya.

Sunaryono mengatakan, pihaknya tengah membahas terkait peraturan ini agar dapat dituangkan bukan hanya dalam bentuk imbauan, namun menjadi peraturan tertulis. Pihaknya akan bekerja sama dengan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi. Serta, sejumlah praktisi hukum dan pemangku kebijakan lainnya.

Menurutnya, ada tiga faktor utama penyebab kecelakaan di jalur menuju Bromo. Di antaranya, jenis kendaraan, terutama motor matik yang tidak cocok untuk medan ekstrem. Kurangnya pemahaman pengendara terhadap karakteristik jalur pegunungan. Kondisi jalan, seperti jalan berlubang, ketiadaan penerangan, dan turunan curam yang tidak terdeteksi.

“Sudah waktunya keselamatan lebih diutamakan daripada sekadar kenyamanan berkendara. Jangan sampai korban terus bertambah karena kelalaian kita bersama,” katanya.

Selain dua titik utama ini, ada titik lain yang juga rawan. Yakni, di tikungan jalan kembar Jurang Jontro di Desa Wonokerto. “Memang di daerah Wonokerto kan naik turunnya cukup tinggi. Terutama di Jurang Jontro,” ujar Kepala Desa Wonokerto, Heri Dri Hartono.

Mengenai usulan dari Pemerintah Desa Ngadisari agar imbauan naik kelas menjadi larangan resmi, Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishub Kabupaten Probolinggo Bambang Singgih Hartadi mengatakan, hal itu sebagai bentuk kearifan lokal. Katanya, untuk menetapkan larangan yang disertai sanksi hukum, perlu dasar regulasi yang kuat.

“Di forum LLAJ, hal ini sudah kami bahas bersama para stakeholder. Tapi, memang saat ini belum ada peraturan atau regulasi yang melarang motor matik masuk ke jalur pegunungan. Kalau desa melarang, itu bentuk kearifan lokal. Tapi kalau mau dijadikan aturan resmi, tentu harus ada payung hukum, termasuk sanksi dan siapa yang menegakkan,” jelasnya.

Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris mengungkapkan, masalah motor ini masih berupa imbauan. “Kami tidak bisa melarang dengan rigid. Sebab, tidak mungkin orang memiliki motor manual semua. Tapi ini sebagai upaya. Bila memang pakai motor matik, maka harus ekstra hati-hati karena memang bukan motor yang diperuntukkan untuk medan pegunungan,” ujarnya ketika ditemui ketika Perayaan Kasada 2025. (gus/rud)

JURANG JONTRO: Anggota kepolisian melakukan olah TKP di Jurang Jontro, Desa Wonokerto. Salah satu titik rawan kecelakaan lalu lintas di jalur menuju kawasan wisata Gunung Bromo.
JURANG JONTRO: Anggota kepolisian melakukan olah TKP di Jurang Jontro, Desa Wonokerto. Salah satu titik rawan kecelakaan lalu lintas di jalur menuju kawasan wisata Gunung Bromo.

Imbauan Terus Digencarkan

ANGKA kecelakaan lalu lintas di jalur menuju kawasan wisata Gunung Bromo, terus meningkat. Namun, sejauh ini penggunaan motor matik belum resmi dilarang. Pemerintah sebatas mengimbau demi keselamatan pengendara. Khususnya wisatawan luar daerah.

Adanya imbauan ini disambut positif oleh warga. Karena, diyakini bisa mencegah kecelakaan lalu lintas. Seperti yang disampaikan warga Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Alfan Budi, 27. Katanya, pemotor yang tidak paham medan dan kurang paham motor akan lebih baik menggunakan motor manual.

“Karena, jika disk break motor panas dapat mengurangi efektivitas pengereman pada motor matik. Sementara pada motor manual bisa menggunakan engine break dan kecepatan bisa ditahan oleh gearbox,” ujarnya.

Baca Juga: Ranjau Paku di Bromo Jadi Atensi Kepolisian, Perlu Perkuat Pengawasan

Pendapat serupa disampaikan Siti Nur Chotimah, 28. Katanya, motor matik sangat berbahaya ketika digunakan di medan curam, seperti jalur Bromo. “Kalau memang diimbau demikian, ya tidak apa-apa. Bagus. Kan untuk keselamatan. Kalau memaksa naik, berarti risiko ditanggung sendiri,” ujar warga Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo ini.

Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Dishub Kabupaten Probolinggo Bambang Singgih Hartadi mengatakan, imbauan ini bersifat kondisional. Bukan larangan. “Kami mengimbau tidak menggunakan motor matik di jalur menuju Bromo, sebagai bentuk upaya menjaga keselamatan wisatawan,” ujarnya.

Sebagai bentuk konkret, Dishub bersama Satlantas Polres Probolinggo, telah memasang puluhan papan imbauan di sejumlah titik rawan kecelakaan di jalur Kecamatan Sukapura. Rambu-rambu lalu lintas juga dipasang. Seperti rambu tanjakan, turunan, arah, dan peringatan bahaya.

“Kami juga membuat flyer digital yang disebarkan melalui media sosial. Ini bagian dari kampanye keselamatan. Agar masyarakat semakin paham, bahwa jalanan menuju Bromo cukup berbahaya. Terutama untuk motor matik,” katanya.

Terkait minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU), Bambang mengakui, sejauh ini baru titik-titik di sekitar Seruni Point yang telah dipasangi PJU. pihaknya juga mengajukan permohonan bantuan PJU ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur. “Yang disetujui baru untuk wilayah Tongas dan Pantai Bentar. Jalur Sukapura ke Bromo, tetap kami upayakan ke pihak provinsi maupun pusat,” katanya.

Dari data yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, sepanjang 2025 ada dua kecelakaan di Jalur Bromo  yang menelan korban jiwa. Di antaranya, Minggu (6/4), tejadi di perbatasan Desa Ngadisari-Desa Wonotoro. Seorang wisatawan Safi’i, 25, warga Balung Lor, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, meninggal dunia. Ia mengendarai motor mati.

Minggu (1/6), kembali terjadi di Desa Ngadisari. Dua orang wisatawan perempuan juga meinggal dunia. Yakni, Siti Aisyah, 38 dan Soviana, 27. Mereka warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. “Kalau yang hanya jatuh tanpa mengakibatkan korban jiwa, cukup banyak,” ujar Kanit Gakkum Satlantas Polres Probolinggo, Ipda Aditya Wikrama.

Kanit Kamsel Satlantas Polres Probolinggo Aiptu Ery Kusuma menambahkan, pihaknya akan terus memperluas upaya sosialisasi. Selain 10 papan imbauan yang telah dipasang bersama Dishub, pihaknya juga telah memasang 15 baliho baru dan 6 baliho lama di jalur-jalur strategis. “Baliho kami pasang dari Kecamatan Lumbang dan Sukapura hingga ke kawasan atas Bromo. Juli nanti, kami akan tambah lagi dengan 30 titik baliho tambahan,” jelasnya. (gus/rud)

KURANG AMAN: Pengendara motor matik melintas di jelur menuju kawasan wisata Gunung Bromo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapuran, beberapa waktu lalu.
KURANG AMAN: Pengendara motor matik melintas di jelur menuju kawasan wisata Gunung Bromo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapuran, beberapa waktu lalu.

Matik Tak Disarankan di Pegunungan

PERBEDAAN karakteristik antara motor matik dan motor manual menjadi pertimbangan penting dalam memilih kendaraan saat melintasi medan ekstrem, seperti jalanan pegunungan. Dari sisi teknis, motor manual jauh lebih aman digunakan di daerah menanjak dan menurun.

Ketua Jurusan Teknik Kendaraan Ringan SMK Negeri 2 Probolinggo Aditya Permata mengatakan, perbedaan utama antara motor matik dan manual terletak pada sistem transmisi. Motor manual memiliki perpindahan gigi, dari gigi 1 hingga 4 atau, bahkan ada juga yang hingga 6. Tergantung kapasitas mesin. Sedangkan, motor matik menggunakan sistem transmisi otomatis berteknologi Continuous Variable Transmission (CVT).

“CVT membuat pengendara tidak perlu memindahkan gigi secara manual, karena semuanya dilakukan otomatis oleh sistem. Ini yang jadi perbedaan mendasar,” ujar warga Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo ini.

Baca Juga: Calon Guru Sekolah Rakyat di Kota Probolinggo Belum Ditetapkan, Padahal Tahun Ajaran Baru Makin Dekat

Namun, keunggulan kemudahan berkendara menggunakan motor matik justru menjadi kekurangan ketika digunakan di jalan pegunungan. Ketika melewati turunan curam, motor matik tidak bisa memanfaatkan engine brake, karena tidak ada sistem perpindahan gigi. Pengendara hanya bisa mengandalkan rem untuk memperlambat laju kendaraan.

“Sementara motor manual bisa langsung menurunkan gigi ke posisi rendah. Misalnya, ke gigi 1. Ini secara otomatis menurunkan kecepatan mesin dan membantu pengereman. Jadi, kerja rem jadi lebih ringan,” jelasnya.

Ketergantungan pada rem tangan pada motor matik berisiko menimbulkan masalah serius. Penggunaan rem secara terus-menerus bisa menyebabkan overheat. Kampas dan piringan rem yang bergesekan terus-menerus akan menghasilkan panas tinggi, bahkan bisa mengeluarkan asap.

“Kalau suhu rem terlalu panas, minyak rem juga ikut mendidih dan menghasilkan gelembung udara. Ini membuat tekanan rem menurun drastis hingga bisa menyebabkan rem blong. Di bengkel, ini biasa disebut sistem pengereman masuk angin,” jelas Aditya.

Ia mengingatkan bahaya lain yang kerap terjadi akibat ketidaktahuan pengendara. Yakni, menyiram piringan rem panas dengan air. “Saat logam memuai karena panas, pori-porinya terbuka. Kalau langsung disiram air dingin, perubahan suhu ekstrem bisa merusak struktur logam, sehingga membuatnya retak atau patah,” jelasnya.

Ketika melewati tanjakan atau turunan dengan motor manual, Aditya menyarankan untuk tetap menggunakan gigi rendah. “Begitu juga ketika tanjakan, gunakan gigi 1 agar motor punya tenaga lebih untuk naik. Kalau turun, tetap di gigi rendah supaya putaran mesin melambat dan laju motor jadi lebih terkontrol,” katanya.

Aditya juga mengingatkan, agar pengendara motor matik tidak mematikan mesin atau melepas gas saat menuruni jalan curam. Tindakan ini disebut free wheel, di mana roda belakang tidak lagi terhubung dengan mesin. “Fan belt dan puli di motor matik bekerja berdasarkan tarikan gas. Jika gas dilepas total atau mesin dimatikan, puli diam dan roda berputar bebas. Motor bisa meluncur tanpa kendali. Ini sangat berbahaya,” ujarnya.

Sebaliknya, kata Aditya, lebih aman tetap memberikan sedikit gas agar mesin dan roda tetap terhubung. “Ini bisa menciptakan efek engine brake meski tidak sekuat motor manual. Minimal masih ada beban mesin yang membantu memperlambat laju,” tambahnya.

Hal serupa juga berlaku untuk mobil. Meski mobil matik kini sudah dilengkapi teknologi perpindahan transmisi seperti mode D (Drive), S (Sport), dan L (Low), pengemudi tetap harus memahami fungsinya. Mode D digunakan untuk berkendara normal. Mode S memberikan akselerasi lebih responsif, cocok untuk menyalip atau tanjakan ringan. Mode L sangat disarankan di jalanan curam, karena menjaga transmisi tetap di gigi rendah, memberikan torsi lebih besar.

Menutup penjelasannya, Aditya membagikan tips penting sebelum bepergian. Khususnya ke daerah pegunungan seperti Bromo. Pengendara wajib memastikan motor dalam kondisi prima, terutama bagian sistem pengereman. “Cek minyak rem dan kampas rem secara berkala. Jika minyak rem sudah keruh, berkurang, atau kampas rem menipis, sebaiknya segera diganti,” ujarnya. (gus/rud)

Editor : Ronald Fernando
#destinasi #internasional #motor matic #bromo #wisata