Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cuaca Ekstrem Masih Mengintai, Minta Warga Probolinggo Lebih Waspada

I
Penulis: Inneke Agustin❯
EVAKUASI: Petugas BPBD Kota Probolinggo mengevakuasi pohon tumbang di Jalan Pantai Permata, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Minggu (15/12).
EVAKUASI: Petugas BPBD Kota Probolinggo mengevakuasi pohon tumbang di Jalan Pantai Permata, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Minggu (15/12).

PROBOLINGGO, Radar Bromo - Masyarakat Jawa Timur, termasuk Kota Probolinggo, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.


Advertisement

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprakirakan kondisi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi hingga Sabtu (20/12).

Kepala BMKG Juanda Taufiq Hermawan menjelaskan, cuaca ekstrem berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi.

Di antaranya, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, banjir dan banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.

Advertisement

“Saat ini hampir seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan. Dalam beberapa hari ke depan, diperkirakan terjadi peningkatan potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” ujarnya.

Salah satu pemicu utama kondisi ini adalah keberadaan bibit siklon tropis 93S yang terdeteksi di Samudra Hindia bagian selatan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Meski tidak berdampak langsung, sistem tersebut memengaruhi dinamika cuaca di Jawa Timur.

Advertisement

“Dampaknya berupa peningkatan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, serta peningkatan tinggi gelombang di perairan Jawa Timur,” jelas Taufiq.

Selain itu, cuaca ekstrem juga dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer. Seperti gelombang Low, Kelvin, dan Rossby yang melintasi wilayah Jawa Timur.

Suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih cukup hangat, ditambah atmosfer lokal yang labil dan lembap dari lapisan bawah hingga atas, turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif.

Di Kota Probolinggo, telah memasuki musim hujan, meski belum mencapai puncaknya. Puncak musim hujan diperkirakan akan terjadi pada Februari 2026. Bencana mulai bermunculan.

Minggu (15/12), hujan lebat yang mengguyur Kota Probolinggo menyebabkan pohon setinggi tiga meter di Jalan Pantai Permata, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, tumbang. Syukur tak ada korban jiwa.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Probolinggo Nur Kholiq mengatakan, saat ini terdapat anomali basah akibat fenomena La Nina.

Kondisi ini menyebabkan intensitas hujan cenderung lebih tinggi dari normal. Kondisi tersebut diperparah pengaruh siklon tropis di selatan Indonesia.

“Curah hujan memang relatif lebih lebat karena adanya La Nina, ditambah pengaruh siklon tropis,” ujarnya.

BPBD Kota Probolinggo memastikan tetap siaga menghadapi potensi bencana. Kholiq mengatakan, ada beberapa wilayah yang perlu diwaspadai terkait kemungkinan terjadinya genangan air. Seperti Jati Sumber dan Kelurahan Sukoharjo.

“Saat ini, aliran Kali Pancor masih terpantau aman dan terkendali. Kalau pun terjadi genangan, biasanya dalam waktu sekitar satu jam sudah surut,” katanya.

Namun, Kholiq menambahkan, di wilayah Kampung Dok, Kecamatan Mayangan, genangan air cenderung bertahan lebih lama. “Biasanya surutnya lebih lama. Tergantung kondisi pasang surut air laut,” jelasnya. (gus/rud)

Advertisement

Artikel Terkait

Operasi Hujan Buatan Tangani Kekeringan-Karhutla di Kawasan Tapal Kuda, Tebar 5 Ton Garam

Operasi Hujan Buatan Tangani Kekeringan-Karhutla di Kawasan Tapal Kuda, Tebar 5 Ton Garam

Operasi modifikasi cuaca (OMC) akhirnya dilakukan di kawasan tapal kuda, sejak Sabtu (24/10) hingga Kamis (29/10).

 Suhu Udara Tembus 33,4 Derajat Celsius, Warga Pasuruan dan Probolinggo Diimbau Waspada

Suhu Udara Tembus 33,4 Derajat Celsius, Warga Pasuruan dan Probolinggo Diimbau Waspada

Suhu di atas 30 derajat Celsius terbukti secara medis mampu mempercepat proses penguapan cairan, di dalam tubuh manusia.

​Capai Segini, Suhu di Pasuruan Semakin “Membara”

​Capai Segini, Suhu di Pasuruan Semakin “Membara”

Meski tidak masuk dalam jajaran lima besar daerah terpanas di Jatim, cuaca terik di Pasuruan tetap dirasakan cukup membakar kulit.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer