Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Praktik Prostitusi di Tretes-Pasuruan, Ternyata Tak Pernah Tiarap, Malah Banyak Berdikari

Rizal Syatori • Minggu, 27 April 2025 | 13:00 WIB
Photo
Photo

TRETES merupakan sebuah kawasan atau perkampungan di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Seiring perkembangan zaman, kawasan ini menjadi sebuah kawasan wisata. Termasuk “wisata malam.”

Tretes menawarkan berbagai destinasi wisata. Mulai dari air terjun hingga taman rekreasi. Ada sejumlah tempat menarik di Tretes. Di antaranya, Air Terjun Kakek Bodo, Air Terjun Putuk Truno, dan Taman Wisata Alam Tretes.

Selain pemandangan alam yang masih asri, banyak juga peninggalan sejarah di kawasan ini. Karenanya, kawasan ini menjadi salah satu tempat favorit untuk refreshing keluarga.

Selain dikenal dengan wisata alamnya, Tretes juga terkenal dengan “wisata haram” berupa praktik protistusi. Di tretes, ada beberapa titik yang terkenal sebagai tempat prostitusi. Di antaranya, Mbara'an yang merupakan salah satu tempat prostitusi legendaris di Tretes. Namun, kemudian tidak beroperasi sejak 1998.

Mbara'an berada di Krajan Timur, Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen. Mbara'an merupakan salah satu tempat beropasinya kupu-kupu malam yang telah ada sejak era Orde Baru.

Di wilayah seluas 2 hektare itu, dulu berdiri wisma-wisma yang menyediakan wanita penghibur dengan kaca lebar menghadap jalanan. Seperti di Dolly Kota Surabaya, dulu. Kini, prostitusi Mbara'an sudah tutup.

WISATA MALAM: Salah satu sudut jalan Pesanggrahan di Lingkungan Tretes, Kelurahan/Kecamatan Prigen, tampak sepi. Kanan-kiri jalan banyak terdapat villa dan kamaran.
WISATA MALAM: Salah satu sudut jalan Pesanggrahan di Lingkungan Tretes, Kelurahan/Kecamatan Prigen, tampak sepi. Kanan-kiri jalan banyak terdapat villa dan kamaran.

Tidak ada sejarah pasti mulai kapan kawasan ini menjadi jujukan Pekerja Seks Komersial (PSK) untuk menunggu lelaki hidung belang. Namun, diperkirakan sudah ada sejak zaman kolonial.

Menginggat, sejak dulu Tretes dikenal dengan tempat peristirahatan di Pulau Jawa, karena hawanya sejuk. Berada di dataran tinggi. Di kaki Gunung Welirang. Meski tidak ada lokasi resmi, praktik prostitusi di kawasan ini seakan tak ada matinya.

Praktik protistusi di kawasan Tretes dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ada juga yang bekerja sama dengan pemilik wisma. Sejak maraknya dunia online, banyak PSK yang juga pindah haluan. Mereka tidak ikut wisma dan memilih berdikari. Tanpa mami, mereka memilih tinggal di indekos dan menawarkan diri via online.

“PSK di Tretes dari dulu memang ada. Keberadaannya dikatakan tidak ada, tapi di lapangan masih ada,” ujar Ketua RW 06 Lingkungan Tretes, Kelurahan/Kecamatan Prigen, Abdul Rasid.

Menurutnya, dulu banyak PSK yang tinggal dan mangkal di wisma-wisma. Ikut germo maupun mucikari. Sejak dilanda Covid-19, makin berkurang. Cara menjaring lelaki hidung belang pun berbeda.

Baca Juga: Satpol PP Sebar Surat Peringatan kepada PKL di Alun-Alun Pasuruan yang Membandel

“Wisma kini tinggal sekitar belasan. Kalau PSK-nya, jumlah persisnya tidak tahu. Karena masuk dan keluar tak pernah lapor ke lingkungan. Setahu kami, PSK saat ini banyak berdikari ketimbang di wisma. Tapi, jumlah pastinya tidak terdeteksi,” katanya.

Dengan masih adanya PSK, baik di wisma maupun yang berdikari, sebagai ketua RW, Rasid mengaku tidak bisa berbuat banyak. “Penindakan, pembinaan, dan pengawasan harus terus gencar dilakukan oleh instansi terkait,” ujar Rasid.

Selain itu, juga harus dipikirkan peluang kerja dan mata pencaharian warga sekitar. Pemerintah daerah harus memikirkan warga yang selama ini secara ekonomi mendapatkan dampak positif dari banyaknya PSK. Seperti tukang ojek, pemilik warung, dan pekerja lainnya.

“Harus ada solusi terkait ekonomi dan lapangan pekerjaan. Agar tidak mengantungkan dari jasa keberadaan protistusi. Untuk memutus simbiosis mutualisme ini, tidak mudah. Harus dipikirkan oleh pemerintah daerah,” katanya.

Jawa Pos Radar Bromo sempat menyusuri sejumlah jalan, serta keluar masuk gang-gang di Lingkungan Tretes. Tampak ada PSK keluar dari indekos. Ia berada di ujung gang menunggu jemputan pria hidung belang yang mem-booking-nya.

Wisma-wisma yang dulu vulgar dan blak-blakan, kini lebih tertutup. Apalagi ada orang tidak dikenal lewat atau berlalu lalang. “PSK ada yang masih menempati wisma di sejumlah gang. Ada juga yang tinggal di indekos,” ujar salah seorang warga Lingkungan Tretes, Rudi.

Menurutnya, PSK di Tretes tak hanya warga lokal. Banyak yang dari luar daerah. Di antaranya, dari Malang, Madiun, Banyuwangi, Blitar, Probolinggo, dan Ngawi. Ada juga yang dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Seperti, Bandung, Cirebon, Brebes, Solo, Tegal, Indramayu, dan Purbalingga.

“Untuk jasa makelar, ojek dari warga sekitar Tretes dan Prigen sendiri. Mucikari dan germonya kebanyakan orang luar, orang lokal juga ada, tapi tidak banyak,” jelasnya.

Selain di Tretes, PSK juga banyak beroperasi di Watuadem Kelurahan Pecalukan. “Tapi jumlahnya tidak sebanyak di Tretes,” katanya.

 

Razia Sering Bocor

Adanya praktik protistusi sering menjadi sasaran razia aparat. Termasuk di Tretes. Namun, tindakan aparat penegak peraturan daerah tidak mampu membuat para PSK benar-benar tiarap. PSK yang datang juga silih berganti. Baik yang menempati wisma maupun berdikari.

“Keberadaan PSK terus berkurang. Tentu bukan urusan gampang. Penindakan, pembinaan, dan pengawasan harus terus gencar dilakukan oleh instansi terkait,” ujar Ketua RW 06 Lingkungan Tretes, Kelurahan/Kecamatan Prigen, Abdul Rasid.

Masih banyaknya PSK yang beroperasi di Tretes, juga diamini oleh Kepala Satpol PP Kabupaten Pasuruan, Nurul Huda. Pejabat Eselon II asal Kecamatan Pandaan, ini mengatakan, instansinya selaku penegak peraturan daerah, sering melakukan razia dan penindakan.

TERJARING RAZIA: Sejumlah PSK Tretes terjaring razia dan mendapatkan pembinaan di Kantor Satpol PP Kabupaten Pasuruan, beberapa waktu lalu.
TERJARING RAZIA: Sejumlah PSK Tretes terjaring razia dan mendapatkan pembinaan di Kantor Satpol PP Kabupaten Pasuruan, beberapa waktu lalu.

Baik terhadap PSK di Tretes maupun di Watuadem. Namun, katanya, di lapangan belum maksimal. “Razia tetap sering kami lakukan. Namun, sering bocor. Kucing-kucingan, sehingga kurang maksimal,” katanya.

Karena razia sering bocor, ia pun meminta bila ada personel Satpol PP yang terlibat dalam bisnis haram ini, segera dilaporkan. Ia memastikan akan ada tindakan tegas terhadap oknum tersebut. “Akan ditindak tegas sesuai regulasi,” janjinya.

Tindakan tegas telah dilakukan tehadap PSK yang terjaring razia. Salah satunya dengan tindak pidana ringan (tipiring) sesuai Perda Nomor 13/2017 tentang Penanggulangan Pelacuran. Sepanjang 2023 tercatat ada 12 PSK yang terjaring dari Kawasan Tretes dan Watuadem. Tahun kemarin ada empat orang. Tahun ini belum ada.

Selain dikirim ke pengadilan, PSK yang terjaring razia ada yang dikurim ke UPT Balai Penyandang Masalah Kesehjatraan Sosial (PMKS) di Sidoarjo. Serta, ke UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Wanita (RSBKW) di Kediri. Melalui Dinsos Kabupaten Pasuruan, mereka dikirim untuk direhabilitasi.

“Tahun 2023 ada PSK asal Tretes dan Grati, kiriman hasil razia Satpol PP dan Polres, total 17 orang. Kami kirim ke Provinsi untuk rehabilitasi. Syaratnya harus bebas HIV. Tahun 2024, nihil. Tahun ini belum ada kiriman dari hasil razia untuk PSK Tretes,” ujar Plt Kepala Dinsos Kabupaten Pasuruan, Ponco Ismojo.

Sebelum dikirim ke Provinsi, mereka juga mendapatkan pembinaan sementara dari Dinsos Kabupaten Pasuruan. Kemudian, di kirim ke Provinsi untuk mendapatkan pembekalan keterampilan. Biasanya dilakukan selama enam bulan.

“Di bawah kesana menjadi kewenangan provinsi. Namun, lebih dulu melalui UPT Balai Penyandang Masalah Kesehjatraan Sosial (PMKS) di Sidoarjo,” jelasnya.

 

Rentan Narkoba-Penyakit Menular

Bersamaan dengan keberadaan PSK, tidak terlepas dari dunia malam. Juga rentan dengan penggunaan atau konsumsi narkoba. Baik oleh PSK, maupun tamu atau pria hidung belang yang mem-booking-nya.

“Pengaruh dunia malam, termasuk dengan PSK, tidak dipungkiri juga rentan narkoba, jenis sabu-sabu. Di luar itu, kebanyakan sih minuman keras hampir selalu ada di setiap acara,” ujar salah seorang warga Lingkungan Tretes, Rudi.

Plt Camat Prigen Akhmad Budiono mengatakan, pihaknya terus berusaha mengendalikan banyaknya PSK ini. Pemerintah kecamatan tidak sendirian, melainkan bersama Forkompimcam plus. Seperti, Koramil, Polsek, Puskesmas Prigen, dan Kantor Urusan Agama (KUA).

“Sosialisasi tetap ada dan sering dilakukan kepada warga dan yang diduga PSK. Termasuk menyangkut pengendalian penyakit. Baik penyakit menular maupun tidak,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan PSK rentan dengan penularan penyakit menular, seperti HIV. Terutama penyakit kelamin, seperti sipilis. “Screening juga tetap ada. Sasaran masyarakat dan PSK. Kalau ada yang positif langsung diobati,” katanya.

Soal jumlah warga dan PSK di Tretes dan sekitarnya yang kini terjangkit HIV. Budiono mengaku tidak tahu pasti. “Data persisnya yang tahu Puskesmas. Sudah kami tanyakan ke kepala puskesmas, itu sifatnya internal dan rahasia. Pastinya berubah-ubah, karena ada yang masuk dan pergi,” jelasnya.

Menyangkut penularan penyakit menular, Budiono memastikan tetap mendapat atensi dari Forkompimcam plus. Agar keberadaan PSK di Tretes dan sekitarnya bisa diminimalisir, pihaknya mengimbau semua tamu yang datang atau berdomisili lebih dari 3 x 24 jam, wajib lapor ke RT atau RW atau kantor kelurahan dan desa.

“Selain untuk mempermudah pendataan, juga minimalisir keberadaan PSK,” ujar Sekcam Purwosari ini. (zal/rud)

Editor : Ronald Fernando
#pasuruan #kupu - kupu malam #esek-esek #prigen #tretes #PSK