TUTUR, Radar Bromo - Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, selama ini dikenal sebagai penghasil apel. Bahkan, hasil produksinya termasuk yang terbesar di Jawa Timur.
Namun, beberapa tahun terakhir, Tutur tak hanya dikenal apelnya. Mulai banyak petani bertanam jeruk.
Ya, pertanian di Tutur kini tidak lagi didominasi apel. Banyak petani apel yang beralih dengan bertanam jeruk.
“Para petani apel sebagian mulai beralih ke Jeruk. Termasuk petani di desa kami. Saya juga beralih ke jeruk,” beber Kholili, petani asal Dusun Yitnan, Desa Tlogosari.
Menurutnya, ada banyak hal yang menyebabkan petani apel beralih ke jeruk. Salah satunya, biaya operasional yang dikeluarkan untuk bertanam apel terbilang mahal. Mulai biaya pupuk dan obat-obatan.
Sementara untuk bertanam jeruk, biaya operasionalnya lebih murah. Perawatan dan penanamannya juga lebih mudah. Bahkan, jeruk bisa panen setiap saat alias tidak mengenal musim.
“Penyebab lain karena pohon apel sudah banyak yang rusak. Kalau toh bagus, harganya hancur. Sehingga, banyak petani apel beralih ke jeruk,” ungkapnya.
Camat Tutur Herdwi Kurniawan membenarkan kondisi itu. Menurutnya, fenomena itu sudah berjalan sekitar 3-4 tahun terakhir.
Salah satu yang membuat petani apel tergiur bertanam jeruk, karena biaya operasionalnya lebih murah. Selain itu, perawatannya juga lebih mudah.
Jenis jeruk yang ditanam pun beragam. Mulai jeruk Siem Madu, lemon, Batu 55, Pontianak, dan lain-lain.
Bahkan, saat ini kebun jeruk tersebar di sejumlah desa di Tutur. Antara lain, Blarang, Andonosari, Kayukebek, Kalipucang, Tutur, dan Tlogosari. Dalam setahun, para petani di desa ini bisa panen jeruk 2-3 kali.
“Untuk jeruk, saat ini luas lahannya se-Kecamatan Tutur sekitar 50 hektare. Prospek penjualannya cukup bagus. Pemasarannya kebanyakan ke Batu, Surabaya, Bandung, hingga Jakarta,” ungkapnya. (zal/hn)
Editor : Jawanto Arifin