
PASURUAN, Radar Bromo - Kemiskinan di Kota Pasuruan diklaim turun. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pasuruan mencatat, jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 390 jiwa, dari 12.830 orang pada 2025 menjadi 12.440 jiwa pada Maret 2026.
Angka ini menjadi rekor jumlah penduduk miskin terendah dalam dua dekade terakhir.
Seiring dengan berkurangnya jumlah tersebut, persentase tingkat kemiskinan di Kota Pasuruan, juga sukses ditekan hingga menyentuh angka 5,96 persen pada tahun ini.
Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 0,22 persen, jika dibandingkan dengan capaian tahun 2025 yang berada di level 6,18 persen.
Kepala BPS Kota Pasuruan, Noyo Purwoko, menjelaskan terjadi perubahan struktural yang sangat signifikan, dalam sejarah angka kemiskinan di wilaya Kota Pasuruan.
Sebagai perbandingan, pada kurun waktu 2006 hingga 2008, tingkat kemiskinan di Kota Pasuruan sempat bertengger di angka dua digit, dengan puncak tertinggi pada 2006 yang mencapai 13,71 persen.
Akselerasi penurunan kemiskinan melaju impresif, dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024, persentase penduduk miskin berada di angka 6,32 persen (13,07 ribu jiwa), lalu turun menjadi 6,18 persen (12,83 ribu jiwa) pada 2025, dan kini berlanjut turun ke level 5,96 persen (12,44 ribu jiwa).
"Penurunan persentase dan jumlah penduduk miskin ini, menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan serta daya beli masyarakat rentan di Kota Pasuruan, tumbuh positif. Dan mampu melampaui laju kenaikan harga kebutuhan dasar, meskipun ambang batas finansial untuk hidup layak (garis kemiskinan) semakin tinggi," ungkap Noyo.
BPS merincikan, Garis Kemiskinan (GK) Kota Pasuruan pada Maret 2026 ditetapkan sebesar Rp 633.805 per kapita per bulan.
Angka ini meningkat sebesar Rp 45.493 atau naik 7,73 persen dibanding Maret 2025 yang tercatat sebesar Rp 588.312 per kapita per bulan.



