Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Usai Temui Dewan, Budayawan Tolak Larangan Mandi Gelar Teatrikal

Jawanto Arifin • Rabu, 23 Desember 2020 | 14:45 WIB
BENTUK PROTES: Aksi teatrikal seniman yang menolak larangan mandi di Sumber Tetek, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
BENTUK PROTES: Aksi teatrikal seniman yang menolak larangan mandi di Sumber Tetek, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
GEMPOL, Radar Bromo - Larangan mandi di cagar budaya Sumber Tetek Candi Belahan terus menuai protes. Selasa (22/12) pagi, sejumlah budayawan pun menggelar aksi teatrikal untuk menolak larangan itu.

Dalam aksi menolak larangan mandi itu, ikut juga perangkat Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol dan warga sekitar. Mereka datang dengan membawa sejumlah poster berisi protes. Setelah itu digelar aksi teatrikal bertajuk Elegi Dewi Laksmi di jalan depan pagar Sumber Tetek Candi Belahan di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol.

“Aksi ini sebagai bentuk kekecewaan seniman Pasuruan dan warga Wonosunyo terhadap larangan mandi di Sumber Tetek Candi Belahan. Ini keputusan yang kurang tepat dari BPCB Jatim,” ujar Ki Bagong Sabdo Sinukarto, ketua Forum Pamong Kebudayaan Jatim.

Photo
Photo
SUDAH TRADISI: Aksi teatrikal digelar lantaran selama ini banyak warga sekitar dan pengunjung dari luar daerah yang mandi di Sumber Tetek. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Pria asal Prigen ini menuturkan, selama ini banyak warga sekitar dan pengunjung dari luar daerah yang mandi di Sumber Tetek. Namun, mereka bukan mandi pada umumnya yang memakai sabun atau sampo.

Mandi yang dilakukan warga dan pengunjung adalah mandi yang bersifat ritual saja. Tanpa merusak bangunan yang ada di sekitar sumber. Termasuk tidak membuat kotor sumber.

“Mandinya bukan seperti di rumah, tapi hanya untuk ritual saja. Karena itu larangan mandi harus dicabut. Sebab sejak zaman Raja Airlangga tempat ini dijadikan pemandian dan ritual. Bukan depo isi ulang air mineral,” katanya.

Keluh kesah juga diutarakan Sekdes Wonosunyo Mokh. Ansori saat ditemui di Sumber Tetek Candi Belahan. Menurutnya, larangan mandi itu memberikan imbas pada perekonomian warga.

“Perekonomian warga sekitar menjadi sepi imbas adanya larangan mandi di Sumber Tetek Candi Belahan,” katanya.

Sementara itu, aksi protes ini mendapat tanggapan dari Kepala BPCB Jatim Zakaria Kasimin. Ia mengatakan, larangan mandi terhitung sejak 21 November lalu dan sebelumnya telah disurvei oleh tim pada 17 November.

“Sumber Tetek Candi Belahan berfungsi sebagai petirtaan sakral, bukan tempat untuk mandi. Selain itu, juga tidak ada pemisah antara pria dan wanita. Berbeda dengan Candi Jolotundo di Trawas, Mojokerto. Di sana ada pemisah dan boleh untuk mandi,” ujarnya. (zal/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin
#candi di pasuruan #candi di gempol #candi belahan #candi sumber tetek