RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen
SMA Sejahtera Prigen memang kerap mengikuti ajang UBS Youth Con atau dahulu bernama Deteksi Con. Namun, di keikutsertaan tahun 2018 ini terasa istimewa. Sebab, di ajang yang digelar 9-18 November di PTC Surabaya tersebut, SMA Sejahtera meraih tiga medali bronze atau perunggu.
Masing-masing dikategori grafity kick, art space, dan jewelry. Ketiga medali itu menjadi kebanggaan bagi SMA Sejahtera. Apalagi, Youth Con adalah ajang konvensi pelajar terbesar di tingkat regional.
“Ajang ini rutin digelar sejak 2002 lalu dan kami selalu antusias dan ikut ambil bagian sebagai peserta. Sama seperti sebelumnya, tahun ini juga dapat medali. Total tiga bronze,” jelas Kepala SMA Sejahtera Teguh Hariawan.
Di tahun ini, kata Teguh Hariawan, ada 10 kategori yang dilombakan untuk tingkat SMA sederajat. Nah, di ajang itu, SMA Sejahtera satu-satunya sekolah asal Kabupaten Pasuruan yang ikut sebagai peserta di dalamnya.
Dari 10 kategori, sekolah ini hanya ikut enam kategori saja. Selain grafity kick, art space, dan jewelry, tiga kategori lain yang diikuti adalah digital idea 3D, mobile legend game, dan super teacher. Hanya saja, SMA Sejahtera berhasil meraih di kategori grafity kick, art space, dan jewelry.
“Tradisi meraih medali di tiap tahun pelaksanaannya tetap terjaga di ajang ini. Capain ini sudah maksimal dan patut untuk disyukuri,” katanya.
Sama dengan tahun sebelumnya, pihak sekolah melakukan persiapan di lapangan. Melibatkan sejumlah peserta didik dari beberapa gabungan ekstrakurikuler. Siswa yang dilibatkan putra dan putri.
Adapun siswa yang ikut ialah siswa yang kompeten di karya ilmiah remaja (KIR), OSIS, jurnalistik, dan lain–lain. Selanjutnya, dipilih internal melalui proses seleksi.
Pada awalnya tergabung total 70 orang. Setelah melalui proses seleksi ramping menjadi 40 orang. Hingga mereka yang akhirnya lolos seleksi, dibagi tugas dalam beberapa tim di enam kategori yang diikuti. Selama itu, mereka mendapat bimbingan guru pembina yang jumlahnya ada empat orang.
“Karena kategorinya banyak, timnya juga harus banyak personel. Tentunya harus ideal, juga menyesuaikan kebutuhan dan juga hasil maksimal,” tukasnya.
Pasca terbentuknya tim, selanjutnya menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari konsep, barang yang dibuat dan bahan yang digunakan, juga masih banyak lainnya. Semuanya dikerjakan di sekolah, di luar jam pelajaran di kelas. Biasanya siswa melakukan persiapan itu sejak siang hingga sore hari, sehingga tak mengganggu kegiatan belajar.
“Persiapannya dua bulan, tapi intensifnya sebulan terakhir. Konsep yang diusung berbeda–beda, termasuk segala sesuatunya. Antara kategori satu dengan yang lain berbeda. Ending-nya, kami meraih hasil tiga medali bronze,” katanya.
Meskipun ada enam kategori yang diikuti, untuk semua pembiayaannya ditanggung sekolah. Nilainya tak terlalu besar yang dikeluarkan. Sekolah menyebut hanya jutaan rupiah. Semuanya ditujukan untuk pembiayaan pembelian alat dan bahan, technical meeting, transportasi, serta akomodasi.
Selama proses persiapan, antusiasme dan semangat luar biasa ditunjukkan siswa tergabung dalam tim di ajang ini. Bahkan, ada yang rela sampai lembur hingga malam hari di sekolah. Saking semangatnya, sekolah membuatkan tema bernama Inspire. Selama persiapan hingga hari H ajang digelar, siswa mendapat dukungan sepenuhnya dari para orang tua.
“Untuk karya kategori jewelry dan digital idea kami buat di sekolah. Lalu, art space dan grafity kick buatnya di PTC. Masing-masing tingkat kesulitannya berbeda–beda. Tahun depan, jika kembali digelar kami ikut lagi dan targetnya tetap harus dapat medali,” ucapnya.
Salah seorang anggota tim di ajang ini, Ayu Wulan Stefani, pelajar kelas XI MIPA, merasa senang dan bangga ikut ambil bagian mewakili sekolah. Selain persiapan yang cukup, juga termotivasi akan tradisi tiap tahunnya selalu sabet medali. Sehingga, terus bersemangat menyiapkannya secara maksimal.
“Sepintas memang sepele, tapi banyak manfaat didapat meskipun bukan prestasi nonakademik. Di antaranya melatih kedisplinan, kreativitas, tanggung jawab, kerja keras, serta team work,” ungkapnya. (fun) Editor : Jawanto Arifin