
Oleh : *Intan Sudarmadi
Dokter Spesialis Neurologi/Kepala Dinas Kesehatan PPKB Kota Probolinggo.
KETIKA hutan terbakar dan kabut asap menyelimuti permukiman, kekhawatiran kita biasanya tertuju pada mata yang perih, batuk, sesak napas, dan meningkatnya penyakit saluran pernapasan. Jarang terlintas bahwa udara yang sama juga dapat membawa ancaman bagi pembuluh darah otak.
Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara paparan asap kebakaran hutan dan meningkatnya risiko stroke.
Temuan ini mengajak kita melihat pencegahan stroke dari sudut yang lebih luas: tidak hanya apa yang kita makan, seberapa sering kita bergerak, atau bagaimana tekanan darah dikendalikan, tetapi juga kualitas udara yang setiap hari kita hirup.
Partikel Kecil, Dampak yang Tidak Sederhana
Asap kebakaran hutan merupakan campuran gas dan partikel pencemar. Salah satu yang mendapat perhatian khusus adalah PM2.5, yaitu partikel dengan diameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer.
Karena ukurannya sangat halus, partikel ini mampu mencapai bagian terdalam paru-paru. Paparannya dapat memicu peradangan sistemik, stres oksidatif, gangguan fungsi lapisan dalam pembuluh darah (endotel), serta perubahan proses pembekuan darah.



