Radar Pasuruan - Banjir bandang disertai tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera pada akhir November 2025 masih membekas di ingatan para penyintas. Dalam beberapa waktu terakhir, kenangan tersebut kembali mencuat setelah sejumlah warga Aceh membagikan dokumentasi perjuangan mereka saat menyelamatkan diri dan menghadapi kondisi pascabencana.
Salah satu unggahan datang dari warga Aceh Tamiang melalui akun Instagram @keila_dwi_putri_real. Ia membagikan video yang direkam sehari setelah banjir mulai surut, ketika warga berusaha mencari akses keluar untuk memenuhi kebutuhan pokok dan memastikan kondisi keluarga mereka.
“Hari pertama setelah banjir surut, kami coba cari akses keluar buat cari sembako dan cari tau keadaan keluarga,” tulisnya dalam unggahan videonya, dikutip pada Rabu, 11 Februari 2026.
Selain mencari kabar kerabat, ia juga memeriksa ruko tempat usahanya yang terdampak banjir. Kondisi jalan saat itu dipenuhi lumpur tebal yang masih basah dan sangat licin, membuat kendaraan sulit melintas.
“Akses jalan semua tergenang lumpur dan mobil kami terjebak. Alhamdulillah ada jasa traktor yang bisa kami sewa untuk bantu tarik,” tuturnya.
“Terpaksa panggil mobil bantuan buat narik karena lokasi jalannya ini tub lumpur,” ujarnya.
Perjalanan melewati jalanan berlumpur menjadi sangat sulit karena lumpur masih tebal dan menempel di ban kendaraan. Di beberapa titik, genangan air coklat sisa banjir juga masih terlihat.
Video tersebut juga memperlihatkan deretan kendaraan yang rusak akibat terendam banjir, bahkan sebagian berada di pinggir jalan dengan bekas tinggi air yang jelas terlihat.
“Mobil-mobil dan motor yang terendam banjir. Konon katanya ada orang yang terjebak di dalamnya. Ya Allah seperti tsunami,” lanjutnya.
Tak hanya kendaraan, tampak pula hewan ternak mati di pinggir jalan, tiang listrik tumbang, serta kerusakan infrastruktur jalan. Aspal terlihat retak dan bergeser dari posisi semula sehingga tidak dapat dilalui kendaraan.
“Hewan mati, tiang listrik tumbang, aspal bergeser dari posisinya. Tiba di jalan raya, kami tercengang melihat pemandangan yang begitu porak poranda,” sambungnya.
Kondisi permukiman warga juga terlihat sepi karena banyak penduduk mengungsi. Sejumlah bangunan rusak berat, bahkan ada yang hanya menyisakan puing-puing.
“Habis semua (perumahan) ini,” ucapnya sambil merekam kawasan permukiman yang terdampak.
Data Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menunjukkan sekitar 90 persen rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda-beda, mulai dari rusak ringan hingga hilang tersapu banjir.
Secara keseluruhan, sekitar 7.737 kepala keluarga tercatat terdampak bencana hidrometeorologi tersebut.
Editor : Moch Vikry Romadhoni