Ribuan peziarah pun memadati halaman Masjid Jamik Al-Barokah di kompleks Pesantren Zainul Hasan Genggong, Sabtu (17/10) malam. Jenazah Non Beng -panggilannya-, memang dimakamkan selepas isya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Abuya meninggal, abuya wafat. Mohon doanya semoga husnul khotimah," tangis Non Hassan Ahsan Malik, putra pertama almarhum dalam penyampaian di videonya yang beredar di media sosial.
Berdasarkan informasi dari Biro Kominfo Pesantren Zainul Hasan Genggong, Non Beng meninggal sekitar pukul 12.20 di kediamannya di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan. Kepergiaannya begitu mengagetkan.
Sebab, selama ini Nong Beng dalam kondisi sehat. Adik almarhum KH Moh. Hasan Abdil Bar itu tidak pernah mengeluh sakit apapun. Bahkan, pada Jumat (16/10) malam, Nong Beng masih mengisi tausiah.
Kemudian Sabtu (17/10), pukul 01.15, Nong Beng berziarah ke makam muassis ponpes yang berada di area Masjid Jamik Al-Barokah. Lalu pagi harinya, Non Beng melakukan aktivitas seperti biasa di lingkungan pesantren.
Sementara itu, ribuan petakziah membanjiri halaman masjid Al-Barokah menjelang pemakaman, sekitar pukul 19.00. Seluruh sisi masjid penuh sesak dengan peziarah. Gema tahlil pun ramai disuarakan oleh petakziah.
Ia dimakamkan di kompleks pemakaman khusus keluarga pesantren yang berada di sebelah barat Masjid Al-Barokah. Sebelum dimakamkan, almarhum disalati di masjid lebih dulu.
Setelah menyalati jenazah, pengasuh Pesantren Zainul Hasan Gengong, KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah mengatakan, Non Beng merupakan sosok tauladan. Sifatnya yang rendah hati dan murah senyum patut dijadikan contoh.
"Sosok yang tak ada duanya, tak pernah mengeluh dalam kondisi apapun. Rendah hati dan tidak pernah membandingkan dengan saudara yang lain," tutur kakak almarhum itu. (ar/hn) Editor : Jawanto Arifin