Yang pertama jembatan kayu penghubung Dusun Krajan, Desa Andungbiru–Dusun Tunggangan, Desa Tiris. Fondasi samping jembatan berukuran 49 x 1,5 meter itu rusak. Lalu, kondisi jembatan miring.
Dua Kilometer dari lokasi pertama, jembatan berukuran 16 x 1,5 meter hanyut tak tersisa, hanya tinggal fondasi di bagian selatan. Jembatan ini penghubung Dusun Sumber Kapung, Desa Andungbiru–Desa Sumberduren, Kecamatan Krucil.
Banjir itu sendiri terjadi Kamis (20/1) pukul 17.00-21.00 di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pekalen. Banjir terjadi saat hujan deras turun. lalu pukul 14.00, hulu sungai mulai banjir. Namun, saat itu di bagian hilir sungai belum banjir.
"Hujan baru reda malamnya. Setelah itu diketahui bahwa ada jembatan penghubung antardesa hanyut terbawa banjir," Kata Asrawi, sekretaris Desa Andungbiru saat ditemui di lokasi kejadian Jumat (21/1).
Menurutnya, jembatan yang hanyut terbawa banjir adalah akses utama warga Desa Sumberduren, Krucil, untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Di antaranya, sebagai akses utama warga menuju lembaga pendidikan di Andungbiru.
"Jembatan yang putus itu banyak dimanfaatkan warga Sumber Duren. Banyak anak-anak yang sekolah ke Andungbiru. Sawah warga Sumber Duren juga banyak yang ada di Andungbiru. Jembatan itu hanya bisa dilalui roda dua saja," katanya.
Sementara jembatan yang rusak, selama ini digunakan sebagai akses menuju lembaga pendidikan dan aktivitas ekonomi. "Jembatan yang rusak masih bisa dilewati. Tapi, warga khawatir. Sebab, jembatannya miring," lanjutnya.
Asrawi mengatakan, sejatinya kedua jembatan itu adalah jembatan alternatif. Ada jembatan lain yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Namun, masyarakat lebih banyak memanfaatkan dua jembatan yang kena banjir itu.
"Akses utama bisa dilalui dengan kendaraan roda empat. Sayangnya, harus memutar cukup jauh. Yakni, 20 kilometer," katanya.
Menurutnya, di hilir sebenarnya ada jembatan gantung yang dapat digunakan untuk alternatif kendaraan roda dua. Namun, jaraknya pun cukup jauh.
Meski demikian, Asrawi bersyukur. Sebab, banjir tidak sampai merenggut korban jiwa. Bahkan, tidak ada rumah yang terdampak banjir.
"Alhamdulillah tidak ada rumah yang terendam. Pada 2018 pernah banjir sampai dua kali. Rumah di pinggir sungai sampai pindah semua," katanya.
Pemkab Probolinggo, menurut Asrawi, telah mendatangi lokasi banjir. Asesmen juga sudah dilakukan untuk perbaikan jembatan.
"Sudah ada asesmen barusan. Rencana perbaikan sudah ada. Kami berharap bisa segera terealisasi. Sebab, memang perlu penanganan cepat," lanjutnya.
Jawa Pos Radar Bromo pun mencoba untuk menginformasi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Probolinggo Hengki Cahyo Saputra. Namun, sampai berita ini ditulis Hengki belum merespons. (mu/hn) Editor : Jawanto Arifin