AYAM bangkok ekor lidi kerap digunakan untuk bertarung. Tapi, banyak juga yang menjadikannya sebagai ayam hias. Pehobi punya kesenangan khusus, seperti saat merawat mulai anakan sampai besar, kemudian memenangkan kontes atau berprestasi.
Sejatinya, ayam bangkok ekor lidi dan ayam bangkok aduan sama saja. Bedanya dari pehobi. Ada yang menjadikan ayam ekor lidi sebagai ayam hias. Ekornya yang lurus ke belakang dan mekar, membuat banyak pehobi tertarik memeliharanya.
Harganya terbilang fantastis. Apalagi, bila sudah berkali-kali menjuarai kontes. “Sepengetahuanku sampai Rp 200 juta. Sama dengan ayam bangkok aduan, kalau sering menang bisa sampai dibanderol Rp 1 miliar,” ujar pehobi ayam ekor lidi asal Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Zulfikar, 31.
Zulfikar mengaku lebih senang meneguk hasil peliharaan ayam ekor lidi sendiri. Dibanding membeli yang sudah tenar. Ia lebih memilih membeli indukan dari trah yang bagus, kemudian anakannya dirawat sendiri sampai dewasa. Dengan usaha sendiri, ketika menang dalam kontes, kata Zulfikar, akan lebih memuaskan.
“Tergantung sih. Kadang pehobi rela membeli ayam dengan harga yang tak murah hanya untuk memenangkan kontes. Ada juga yang membeli ayam rusak, namun ayam itu sudah pernah berprestasi. Kemudian dikawinkan dengan indukan yang bagus untuk diambil anakannya,” katanya.
Setiap pehobi ayam, kata Zulfikar, pasti memiliki ketertarikan tersendiri terhadap semua jenis ayam. Ayam aduan, mereka yang tertarik ke tarungnya. Ayam ekor lidi, mereka yang tertarik dengan ekor dan kepalanya. Ekor yang panjang, lurus, dan padat dengan badan, ada ketertarikan sendiri bagi pehobi.
Lalu, sisik kaki yang rapi serta paruhnya bersih, sama-sama berwarna kuning. Terasa ada keistimewaan tersendiri. Bulunya berkilau, memanjang, dan lembut. Ciri ayam ekor lidi seperti ini enak dilihat.
Harganya yang mahal, banyak pehobi memanfaatkannya untuk meraup keuntungan. Menurutnya, berbisnis dikaitkan dengan hobi, tidak akan mudah bosan. Bila rugi, tidak akan jerah. Biaya perawatan tidak terasa. Sebab, sudah menjadi kesenangan tersendiri. “Hobi ini kan kesenangan. Jika membuat senang, maka konseplah sekiranya menghasilkan cuan,” ujarnya, sembari tertawa. (zen/rud)
Tak Perlu Mandi-Jemur Setiap Hari
DI balik keindahan ekor, ayam bangkok hias ekor lidi ini juga membutuhkan perawatan khusus untuk menghasilkan ayam yang berkualitas. Tak ayal, sampai menghabiskan jutaan rupiah saat mulai perawatan.
Salah seorang pehobi, Benni, 28, menjelaskan, perawatan ayam hias ekor lidi sebenarnya sama dengan perawatan ayam bangkok petarung. Mulai dari makanan dan cara memperlakukannya. Terutama bila memang diniatkan untuk dikonteskan.
Mulai dari anakan, pakannya harus seimbang. Misalkan pakan. Ayam berusia 1 bulan sampai 8 bulan, selain diberi pakan konsentrat, juga ditambah nasi. Kemudian dicampur dedaunan. Bisa daun singkong, kelor, atau kangkung. “Bisa dipilih salah satu. Ada kangkung ya kangkung,” ujar warga Desa Sumurmati, Kecamatan Sumbersih, Kabupaten Probolinggo.
Ketika berusia seminggu sampai tiga bulan, pecinta ayam bangkok ekor lidi biasanya memberi lampu warna kuning di dalam kandang. Tujuannya, menghangatkan tubuh ayam. Agar pertumbuhannya lebih cepat.
Jangan lupa, saat pembesaran, pakannya juga dicampur susu bubuk. Agar kualitasnya lebih baik. Untuk menghemat biaya makan, ayam betina dengan jantan dipisah, sekitar usia 2 sampai 3 bulan. Ayam jantan dikumpulkan di kandang pembesaran. Sebab, ayam jantan yang nantinya akan diikut kontes. Karenanya, biaya makan tidak sebanyak sebelumnya.
Ayam dalam proses diikutkonteskan, mulai dari anakan harus ditempatkan di kandang khusus. Dipisahkan dari ayam yang lebih dewasa. Intinya tidak sama sekali melihat ayam yang lebih dewasa. Jika dikumpulkan, akan memengaruhi mentalnya.
“Baru saat mulai dewasa atau berani ke ayam manapun, tidak apa-apa diperlihatkan. Tapi, jangan diadu, biar tidak rusak bulunya,” ujarnya.
Untuk mendapatkan bulu yang bagus, saat berusia 2 sampai 3 bulan, ayam bangkok ekor lidi dicabut bulu tuanya. Karena khasiat makanan yang dikonsumsi akan terserap ke bulu. Otomatis tubuh ayam tidak akan bagus. Makanya, bulu yang sudah tua dicabut.
Saat berusia 8 bulan, baru perawatan akan diintensifkan. Mulai dari penjemuran, pemberian makanan seperti jagung, kacang hijau, dan beras merah. Tergantung selera. Terkadang juga diberi minyak ikan. Sebab, saat usia 7 sampai 8 bulan kebugaran ayam mulai tampak. “Bentuk tubuh ayam di usia ini mulai tampak bagus,” ujarnya.
Menurutnya, ayam hias ini tidak harus dimandikan dan dijemur setiap hari. Tapi, bisa dilakukan seminggu sekali. Bila setiap hari, bulunya bisa rusak. Setiap hari, hendaknya dipindah ke kandang beralas tanah, agar dapat menyakar dan mengibaskan sayapnya. Ini juga mempengaruhi kesehatan ayam. (zen/rud)
Harga Terdongkrak Prestasi
BANYAK pehobi ayam ekor lidi yang telah meraup keuntungan dari unggas ini. Harganya sangat fantastis. Apalagi ayam yang sudah berkali-kali menang kontes. Harganya mahal, bahkan keturunannya banyak diburu.
Benni, 28, mengatakan, harga ayam ekor lidi tergantung kesenangan untuk memiliki. Jika pemiliknya sudah jatuh cinta, apalagi berkali-kali berprestasi, maka pembeli harus mampu membayar kesenangan pemiliknya. Ini tak ternilai.
“Tergantung pemiliknya. Jika kesenangannya terhadap ayam itu sudah terbayarkan, akan dikasih ke pembeli. Kalau belum, tidak akan,” katanya.
Ia mengaku pernah menyaksikan ayam yang terjual dengan harga Rp 20 juta sampai Rp 200 juta. Namun, ada juga yang murah. “Dulu pernah saya membeli ayam sudah menang dikontes satu kali. Dibeli dengan harga Rp 1,5 juta,” ujarnya.
Ada juga anakan yang dibaderol antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Sekali lagi, kata Benni, tergantung pemiliknya.
Pasar ayam ini juga luas. Benni mengatakan, bisa antarpulau. Di setiap wilayah juga ada komunitasnya. Mereka akan berlomba-lomba merawat ayam agar menghasilkan ayam berkualitas. Sebab, mereka juga bersaing di setiap ada kontes. “Di Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang sendiri kayaknya ada komunitasnya,” katanya.
Benni mengaku selama ini sering mengikuti kontes. Tak hanya di daerah Jawa Timur, namun juga sampai ke Jogakarta dan Jakarta. Semuanya pernah diikuti. Namun, keberuntungan di tingkat nasional belum memihak kepadanya. “Sering dilakukan kontes. Di mana ada kontes, saya ikuti,” katanya. (zen/rud)
Editor : Ronald Fernando