Dari banyaknya perajin peci kalbut Kolursari, Bahruji tetap setia pada bordir manual. Meski saat ini mesin border computer bermunculan, Bahruji menilai border manual tetap punya seni. Alasan itulah yang membuatnya bertahan sejak 1998.
MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo
DI sebuah rumah sederhana di Kelurahan Kolursari, Bangil, lima tumpukan kain putih tersusun rapi di lantai. Masing-masing berisi sekitar 50 lembar potongan. Di sudut lain, beberapa kain hijau, merah, hitam, dan cokelat sudah dikemas.
Bau kain baru bercampur dengan dengung mesin jahit dari kejauhan—suara khas industri rumahan yang masih bertahan di kampung peci itu. Di tengah tumpukan bahan itu, Bahruji, duduk bersila sambil memeriksa potongan demi potongan kain peci kalbut.
Tangannya cekatan, matanya teliti. Ia memastikan setiap lembar siap dikirim ke para penjahit rumahan yang menjadi bagian dari jejaring produksinya. “Ini nanti dijahit di rumah pekerja. Saya siapkan bahan, potong, lalu kirim,” ujarnya.
Lelaki 51 tahun itu bukan sekadar penjahit. Ia perajin peci kalbut yang sudah memulai usahanya sejak 1998. Awalnya ia membuat kopiah biasa.
Namun pertemuannya dengan mesin bordir manual merek Juki mengubah arah usahanya. Dari situ ia mulai membuat peci bordir dengan motif kreasi tangan—sesuatu yang kini justru langka di tengah dominasi bordir komputer.
“Dulu banyak yang pakai bordir manual. Sekarang banyak beralih ke komputer. Saya tetap pakai manual,” katanya.
Bukan tanpa alasan. Menurutnya, bordir tangan menurutnya memberi nilai seni yang berbeda. Motifnya hidup, tidak kaku, dan terasa personal.
“Kalau komputer bisa disetting apa saja. Tapi kalau manual, ada rasa tangan pembordir,” tambahnya.
Keputusan bertahan pada teknik lama justru menjadi celah pasar. Ketika banyak perajin meninggalkan bordir manual, sebagian pembeli yang masih mencari kualitas klasik datang kepadanya.
Bahruji dikenal sebagai salah satu sedikit perajin peci kalbut bordir manual yang masih aktif di Bangil.
Produksi pecinya kini dikerjakan delapan pekerja, sebagian bahkan pasangan suami istri, yang menjahit dari rumah masing-masing dengan sistem borongan.
Bahruji menjadi pusat bahan dan distribusi. Ia memotong kain, menyiapkan komponen, lalu mengirim ke rumah pekerja untuk dijahit dan difinishing.
Model kerja rumahan itu membuat usaha tetap berjalan tanpa harus membuka bengkel besar.
Dalam sehari, produksi normalnya mencapai sekitar tujuh kodi. Namun pesanan besar datang dari pelanggan tetap di Bogor. Sekali kirim bisa 30 hingga 80 kodi. “Kalau ramai bisa 50 atau 80 kodi. Paling sedikit 30 kodi,” ujarnya.
Harga ecer peci putih sekitar Rp 8 ribu per buah atau Rp 150 ribu per kodi. Untuk warna selain putih, harga mencapai sekitar Rp 180 ribu per kodi karena perbedaan bahan kain.
Peci putih tetap menjadi primadona. Warna ini paling banyak diminati untuk kebutuhan ibadah, terutama umrah dan haji. Sementara warna lain biasanya menunggu pesanan khusus.
Karena itu, di ruang kerja Bahruji, tumpukan putih selalu paling banyak. “Putih yang paling laku. Kalau warna lain biasanya pesan dulu,” katanya.
Siklus usaha peci juga sangat dipengaruhi musim haji. Menjelang keberangkatan jamaah, permintaan acapkali melonjak tajam.
Dalam sepekan, produksi yang biasanya puluhan kodi bisa melonjak menjadi 80 hingga 160 kodi.
Pada masa itu, para pekerja harus lembur agar pesanan terpenuhi tepat waktu. “Kalau musim haji bisa dua kali lipat. Sampai lembur,” kata Bahruji.
Ia sendiri biasanya menambah stok sejak jauh hari sebagai antisipasi lonjakan. Tumpukan kain di ruang kerjanya adalah bagian dari strategi menghadapi musim itu.
Meski demikian, bertahan dengan bordir manual bukan tanpa kendala. Mesin tua membutuhkan perawatan rutin. Suku cadang makin sulit, teknisi semakin sedikit.
Di sisi lain, upah pekerja manual harus tetap dijaga agar layak, sementara harga pasar peci relatif rendah. Persaingan dengan produk bordir komputer yang lebih cepat dan murah juga terus ada.
Namun Bahruji punya hitungan sendiri. Menurutnya, biaya produksi manual masih bisa ditekan karena sistem rumahan.
Ia tidak menanggung biaya listrik besar atau mesin otomatis mahal seperti produsen komputer.
“Manual memang ditinggal banyak perajin. Tapi ongkosnya masih lebih murah dibanding mesin komputer,” ujarnya.
Ia juga percaya ada pasar yang tidak hilang: pembeli yang mencari peci bordir tangan. Selama pasar itu ada, ia memilih bertahan. “Selama masih ada yang cari, saya tetap jalan,” katanya.
Di kampung peci Bangil, perubahan memang terasa. Banyak bengkel bordir manual dulu kini berganti mesin komputer atau bahkan tutup.
Generasi muda cenderung memilih pekerjaan lain. Keahlian bordir tangan perlahan menipis. Bahruji menyadari, usahanya mungkin termasuk generasi terakhir dari tradisi itu.
Karena itu, ia tidak sekadar memproduksi peci. Ia menjaga keberlanjutan kerja bagi para penjahit rumahan yang sebagian besar ibu rumah tangga.
Delapan pekerja yang kini tersisa telah lama bekerja bersamanya. Sistem borongan memberi mereka penghasilan tanpa harus meninggalkan rumah.
“Sekarang tinggal delapan orang. Dulu lebih banyak,” katanya. Penurunan jumlah pekerja juga mencerminkan perubahan zaman. Tidak banyak lagi yang mau belajar bordir manual yang teliti dan memakan waktu. Namun bagi yang masih bertahan, pekerjaan ini tetap menjadi sumber nafkah.
Siang itu, Bahruji kembali merapikan potongan kain di hadapannya. Ia menghitung lembar demi lembar, memastikan jumlah sesuai pesanan.
Di luar, suara motor dan pedagang lewat sesekali terdengar. Aktivitas di rumah itu tampak sederhana—tanpa mesin modern atau bengkel besar—tetapi dari ruang itulah peci kalbut bordir tangan terus lahir.
Setiap lembar kain akan berubah menjadi peci yang mungkin dipakai seseorang saat salat, umrah, atau haji. Di kepala pemakainya, motif bordir tangan itu mungkin tampak biasa.
Namun di baliknya ada jejak ketekunan perajin yang memilih bertahan pada tradisi di tengah arus industri.
Bagi Bahruji, peci bukan sekadar produk. Ia adalah kerja yang diwariskan waktu—sejak 1998 hingga kini—melalui mesin bordir manual yang masih berdetak di Bangil.
Dan selama masih ada tangan yang menjahit serta pembeli yang mencari, tumpukan kain di ruang kerjanya akan terus berkurang, lalu terisi lagi, mengikuti putaran musim dan iman. (fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni