Warung sederhana di Simpang Kancilmas itu jadi titik temu polisi dan pengemudi ojol. Mempercepat informasi insiden lalu lintas, sekaligus ruang ngopi dan koordinasi warga jalanan.
MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo
Di sudut trotoar dekat Simpang Empat Kancilmas, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, sebuah warung hijau berdiri sederhana. Tak besar, hanya cukup untuk beberapa gelas kopi, termos air panas, dan obrolan ringan.
Namun di gerobaknya terpampang spanduk biru mencolok: gambar polisi, pengemudi ojek online, dan tulisan besar Wakjolmas. Di kursi kayu di sampingnya, seorang pria paro baya bersandar santai, menatap arus kendaraan yang hilir mudik.
Sesekali ia tersenyum kepada pengendara yang melintas. Di hadapannya, secangkir kopi hitam masih mengepulkan uap.
Warung kecil itu bukan sekadar tempat singgah. Ia kini menjadi titik temu baru antara polisi lalu lintas dan para pengemudi ojol. Orang-orang yang setiap hari menyusuri jalan, melihat dan seringkali lebih dulu tahu apa yang terjadi di lapangan.
Dari ruang sederhana di tepi jalan itulah, Satlantas Polres Pasuruan meluncurkan inovasi bertajuk Warung Ojol Kamtibmas (Waljokmas). Program ini dirancang untuk mempercepat respons penanganan gangguan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (kamseltibcarlantas) melalui kolaborasi langsung dengan komunitas pengemudi ojek online.
Kasat Lantas Polres Pasuruan AKP Derie Fradesca menjelaskan, ide Wakjolmas lahir dari kebutuhan akan informasi lapangan yang cepat dan akurat. Pengemudi ojol dengan mobilitas tinggi dan jangkauan luas, dinilai sebagai mitra strategis kepolisian.
“Kami ingin membangun komunikasi lebih intens dengan rekan-rekan ojol. Mereka setiap hari berada di jalan, sehingga bisa menjadi mata dan telinga kami. Informasi dari mereka membantu agar penanganan insiden bisa lebih cepat dan tepat,” ujarnya.
Di lokasi warung pertama di Bangil, suasana terasa cair. Tidak ada sekat formal antara polisi dan masyarakat. Pengemudi ojol datang silih berganti. Ada yang sekadar mampir minum, ada yang menunggu order, ada pula yang berbagi cerita tentang kondisi jalan hari itu.
Seorang pengemudi ojol yang baru tiba langsung duduk di bangku panjang. Ia menaruh helm di meja, lalu membuka ponsel. “Tadi ada motor jatuh di dekat pasar, jalannya licin habis hujan,” katanya kepada petugas yang berada di lokasi.
Informasi singkat seperti itulah yang ingin dihimpun melalui Wakjolmas. Laporan cepat dari orang pertama yang melihat kejadian. Bagi Satlantas, waktu adalah faktor krusial dalam penanganan kecelakaan maupun gangguan lalu lintas.
Selisih menit saja bisa menentukan keselamatan korban maupun kelancaran arus kendaraan. Karena itu, jaringan informasi berbasis komunitas dianggap penting.
Kapolres Pasuruan AKBP Harto Agung Cahyono menegaskan, inovasi itu bukan sekadar warung atau tempat berkumpul. Ia adalah simbol kolaborasi antara kepolisian dan masyarakat pengguna jalan.
“Kami ingin membangun budaya saling peduli di jalan raya. Ini akan jadi ruang kolaborasi nyata. Partisipasi aktif rekan-rekan ojol akan mempercepat respons kami terhadap setiap kejadian lalu lintas,” tegasnya.
Kanit Kamsel Satlantas Polres Pasuruan Aipda Arifian Miftahul Firdaus yang mengoordinasikan implementasi program di lapangan mengatakan, lokasi Simpang Kancilmas sengaja dipilih. Sebab, mobilitasnya tinggi dan strategis bagi pergerakan ojol di Bangil.
“Di titik ini lalu lintas padat dan banyak pengemudi ojol melintas atau menunggu order. Jadi koordinasi bisa cepat. Harapannya, informasi dari lapangan bisa langsung diteruskan ke petugas,” jelasnya.
Ke depan, Wakjolmas direncanakan hadir di beberapa titik lain wilayah hukum Polres Pasuruan. Konsepnya sama: warung sederhana, mudah diakses, dan dekat dengan aktivitas pengemudi ojol.
Pendekatan ini menunjukkan perubahan pola kemitraan kepolisian dengan masyarakat. “Jika sebelumnya komunikasi lebih banyak berlangsung formal, kini ruang interaksi dipindahkan ke ruang publik sehari-hari. Tempat warga merasa akrab dan santai,” bebernya.
Pada akhirnya, Warung Ojol Kamtibmas bukan sekadar tempat ngopi di tepi jalan. Melainkan simpul kolaborasi yang mempertemukan aparat dan warga jalanan dalam satu tujuan. Yaitu, mempercepat informasi, memperkuat kepedulian, dan menjaga keselamatan bersama di setiap ruas jalan.
Dengan ojol menjadi “mata jalan”, informasi tak lagi menunggu laporan resmi. Ia mengalir dari percakapan sederhana di warung, dari pesan singkat di ponsel, dari kepedulian sesama pengguna jalan. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi