Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Anton Firmansyah Geluti Custom Handycraft dan Furniture, Karyanya Sering jadi Langganan Pejabat

Fahrizal Firmani • Rabu, 12 Februari 2025 | 16:05 WIB

 

 

KREATIF: Anton Firmansyah dengan sejumlah karya handycraft buatannya.
KREATIF: Anton Firmansyah dengan sejumlah karya handycraft buatannya.
Tidak banyak pelaku UMKM yang menekuni custom handycraft. Di Kota Pasuruan, ada Anton Firmansyah, 45. Warga Kelurahan Bakalan ini sering dipercaya membuat handycraft untuk forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) Pasuruan.

FAHRIZAL FIRMANI, Radar Bromo, Pasuruan

SEBELUM menekuni kerajinan, Anton memulainya sebagai seorang karyawan di salah satu pabrik furniture di Pasuruan.

Dia bekerja selama 20 tahun hingga 2020. Karena suatu hal, ia tidak melanjutkan kontrak dengan tempatnya bekerja itu.

Ia memilih untuk memulai usaha sendiri. Awalnya, ia mencoba pembuatan tempat gulungan kabel atau haspel.

Namun pandemi Covid-19 membuat sejumlah usaha berjatuhan. Termasuk usaha yang digelutinya kurang berjalan mulus.

Anton lalu mencoba beralih pada pembuatan handycraft.  Dia mengawali pembuatan berdasarkan order. Kebetulan ia memiliki latar belakang keahlian mebel dari saat ia bekerja di pabrik.

"Untuk memudahkan pemasaran, saya bergabung ke komunitas di Kota Pasuruan. Lewat komunitas ini usaha jadi lebih berkembang," katanya.

Dari komunitas, karyanya lebih dikenal. Tidak hanya mendapatkan orderan di Kota Pasuruan. Tapi juga luar Jawa Timur.
Ia sering diajak oleh Pemkot Pasuruan dan Pemprov Jatim mengikuti pameran di sejumlah kota di Indonesia.

Seluruh karyanya rata-rata menggunakan kayu jati. Namun, jika pelanggan meminta harga yang lebih terjangkau, bisa memilih kayu mahoni atau pinus. Tentunya ia selalu menjelaskan jika kayu jati memiliki kualitas paling unggul.

Apa saja yang dibuat Anton? Ada banyak, mulai dari furniture set, seperti tempat tidur, meja, dan almari.

Hingga handycraft, seperti plakat, tempat lampu, cermin dan jam dinding. Pengerjaannya rata-rata antara dua sampai tiga pekan. Tentu setiap pesanan, harus memberi uang muka 30 persen.

"Ada yang menyuplai kayu jati ke saya. Sebelum digunakan, kayu jati ini dikeringkan dahulu hingga kadar airmya 15 persen," tutur Anton.

Pria asal Kabupaten Trenggalek ini menuturkan, kerumitan handycraft dengan furniture berbeda.

Untuk handycraft itu harus benar benar teliti. Biasanya harus sesuai dengan ukuran dan model yang diinginkan. Sementara furniture itu bahan kayu jati yang digunakan harus dari satu papan agar bagus.

Menurutnya, ada salah satu permintaan yang cukup berkesan. Ini terjadi saat ia bersama kedua temannya diminta membuat backdrop untuk sekat ruang di kantor Disperindag.

Pemkot meminta ketinggiannya 3,5 meter. Permintaan ini cukup rumit karena modelnya lengkungan. Belum lagi harus disesuaikan dengan atap.

"Sehingga berulang kali harus diukur agar pas. Kami juga pernah diminta untuk meng-custom ruang lobi Disparpora Kota Pasuruan," jelas Anton.

Selama menekuni pembuatan handycraft dan furnitur set, ia bersyukur tidak ada pelanggan yang bermasalah atau komplain. Rata-rata mereka membayar saat pekerjannya tuntas.

Anton punya cara jitu agar pelanggan puas. Dia selalu mengabari progres pembuatan yang diminta.

Selain pemerintah daerah, untuk handycraft dia kerap menerima pesanan dari Kodim 0819 Pasuruan hingga DPRD. Sampai kini karyanya juga masih terpampang di instansi-instansi.

Anton juga memakai foto realistis untuk display karyanya. "Kalau warga kota biasanya saya minta datang ke tempat saya di  Kelurahan Bakalan. Cuma  kalau dari luar kota, ya saya kirimi lewat foto dan video," jelasnya.

Pria yang tinggal di Perum Graha Candi, Kota Pasuruan ini mengaku, permintaan paling mahal yang diterimanya dari pemilik indekos di Kota Malang.

Ia diminta membuat bedroom set. Ada tempat tidur, almari, meja dan cermin untuk 15 kamar. Ia harus survei hingga empat kali agar ukuran dan model sesuai dengan kamar kos itu.

"Nilainya puluhan juta. Alhamdulillah sampai dipercaya oleh pelanggan hingga luar Kota Pasuruan," tutur Anton.

Anton mengaku, pembuat furniture dan handycraft saat ini cukup banyak. Agar bisa bersaing, tentu harus memiliki nilai branding yang baik.

Ia selalu mencoba mengikuti keinginan pembeli. Misal pembeli ingin furniture berwarna putih. Maka, ia menyarankan bahan dasar dari mahoni atau mindi.

"Kalau kayu jati tidak bisa. Karena ada corak warna coklat kehitaman saat dipakai," tutur pemilik usaha furniture di jalan Agus Salim, Kelurahan Bakalan ini. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#kerajinan #handycraft