Reval Mhaulana Aminullah, 24, yang ingin meraih pendidikan tinggi memberi motivasi banyak orang. Santri pondok pesantren Nurul Jadid Paiton ini membiayai kuliahnya secara mandiri sampai lunas. Biaya kuliahnya banyak bermuara dari kegemarannya mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Baru-baru ini, dia berhasil menjadi juara santri menulis.
AGUS FAIZ MUSLEH, Paiton, Radar Bromo
Bagi Reval Mhaulana Aminullah, perjuangan untuk meraih pendidikan tinggi tak mudah. Pemuda asal Desa Ranulogo, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang ini tak hanya berjuang mengatasi tantangan finansial, tetapi juga terus mengembangkan kemampuan akademiknya.
Dengan penuh keberanian, ia menanggung biaya kuliah S2 sendiri, sambil berusaha memenangkan berbagai lomba karya tulis sebagai salah satu sumber dukungan finansialnya.
Lomba terbaru yang diikutinya adalah saat Hari Santri Nasional (HSN). Dia mengikuti sebuah kompetisi karya tulis yang diselenggarakan Kementerian Agama RI melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.
Kompetisi ini diadakan secara nasional dan melibatkan pesantren-pesantren dari seluruh Indonesia, pada Sabtu (19/10).
Hingga saat pengumuman lomba pada Senin (21/10) lalu,Reval berhasil meraih juara kedua dalam lomba yang bertema “Pesantren Ramah Anak”.
Tema perlombaan itulah yang mengetuk hatinya untuk dapat mengikuti lomba. Sebab sejalan dengan apa yang menjadi kegusaran pikiran beberapa waktu belakangan, tentang pesantren.
Ia melihat bahwa pesantren yang semula dipandang sebagai tempat pendidikan yang aman dan ideal kini mulai mengalami pergeseran citra.
Beberapa kasus seperti perundungan, kekerasan fisik, bahkan kekerasan seksual di lingkungan pesantren telah mencoreng nama baik lembaga pendidikan tersebut.
“Saya prihatin, pesantren yang awalnya dinilai sebagai tempat yang baik dan ideal kini semakin sering mendapat stigma negatif. Banyak kasus yang sebenarnya tidak pantas terjadi di pesantren. Mulai dari perundungan hingga kekerasan seksual, bahkan ada yang berujung kematian. Ini masalah serius yang harus segera ditangani,” ungkap Reval dengan nada sedih.
Melalui karya tulisnya, Reval menuliskan beberapa langkah penting untuk mewujudkan pesantren yang lebih ramah anak.
Di antaranya adalah sosialisasi kebijakan pesantren ramah anak, penyaringan dan pemetaan santri, peningkatan kualitas sumber daya manusia pendamping, serta penanganan terhadap korban dan pelaku.
Ia percaya, hanya dengan pendekatan holistik yang melibatkan semua pihak, pesantren bisa kembali menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi santri.
Reval tak pernah setengah hati dalam setiap usahanya. Pengalaman terbaru saat mengikuti lomba ini penuh dengan tantangan.
Ia baru mendapatkan informasi tentang lomba tersebut hanya empat hari sebelum batas pengumpulan karya.
“Dapat informasi dari Instagram, saya langsung tertarik. Saya tidak tidur selama dua hari untuk menyusun kerangka karya tulisnya. Alhamdulillah, akhirnya bisa diselesaikan tepat waktu. Panitia memberi waktu satu minggu, jadi saya kejar betul,” ceritanya sambil tersenyum bangga.
Namun tak bisa dipungkiri bahwa selain dorongan idealisme, ada pula faktor ekonomi yang memacu semangatnya. Kuliah S2 yang ia jalani di Universitas Nurul Jadid, dengan Program Studi Pendidikan Agama Islam, dibiayai sebagian besar dari hasil usahanya sendiri.
Keluarga Reval terbilang sederhana. Ayahnya, Aryadi, bekerja sebagai penjual perabotan keliling di Kalimantan. Sementara ibunya, Homsatun, mengurus rumah tangga.
Reval tak ingin membebani keluarganya dengan biaya pendidikan yang cukup tinggi.
“Saya ikut lomba ini juga karena hadiahnya besar. Juara pertama dapat 15 juta, dan juara kedua 10 juta. Jadi, saya termotivasi oleh uang. Meski terkesan jelek, tapi ini kenyataannya,” ungkapnya sambil tertawa.
Perjalanan akademik Reval juga penuh dengan kerja keras dan pengorbanan. Sejak pertama kali masuk ke pesantren, ia merasa iri melihat teman-temannya yang berprestasi dan guru-gurunya yang sering menulis di jurnal serta koran.
“Alhamdulillah, rasa iri itu bukan negatif, tapi menjadi motivasi yang produktif. Saya mulai menulis karya tulis ilmiah, novel, hingga cerpen,” katanya.
Tahun 2021, Reval mewakili pesantrennya dalam lomba menulis esai biografi Masyayikh se-Jawa Timur di Sidoarjo dan berhasil meraih juara terbaik.
Tema yang dibawakannya saat itu adalah tentang KH Hasan Abdul Wafi, menantu dari pendiri Pesantren Nurul Jadid.
Meski berhasil memenangkan beberapa lomba, perjuangan untuk menuntaskan kuliah S2 tetap menjadi tantangan tersendiri. “Biaya kuliah S2 ini saya cicil. Misalnya ada uang satu juta, ya saya bayar yang itu dulu,” ujarnya.
Ia bahkan berseloroh bahwa bendahara kampus sudah sangat mengenalnya karena seringnya ia mengangsur biaya kuliah. Namun, Reval tak pernah kehilangan semangat.
“Alhamdulillah, kalau ditakdirkan wisuda tahun depan, Insyallah sudah lunas semua. Hadiahnya sudah saya terima. Sisa biaya kuliah sampai wisuda sekitar Rp 9 juta.
Masih sisa Rp 1 juta uang hadiahnya. Jadi, saya bisa lebih fokus pada studi dan tidak lagi memikirkan masalah biaya,” tuturnya dengan penuh rasa syukur.
Perjuangan Reval adalah kisah inspiratif tentang tekad dan pengorbanan untuk meraih mimpi. Ia adalah bukti nyata bahwa motivasi bisa datang dari mana saja, baik itu idealisme, rasa prihatin, atau bahkan kebutuhan ekonomi.
Dan di balik senyum dan tawanya, tersimpan tekad kuat untuk terus berkarya dan menyelesaikan apa yang telah ia mulai. (mu/fun)
Editor : Fahreza Nuraga